Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Perempuan Dalam Potret Inklusitivitas Pembangunan Kaltim

Redaksi KP • Selasa, 5 Mei 2026 | 20:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh:

Noveranus Duma Saro

Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Paser

EMANSIPASI perempuan merupakan cita-cita luhur yang selalu diperjuangkan dari masa ke masa yang menjadi semangat untuk menghapus diskriminasi gender sehingga perempuan juga memiliki hak yang sama seperti laki-laki untuk segala aspek kehidupan. Semangat ini merupakan refleksi dari perjuangan yang dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini. Seorang tokoh perempuan nasional yang lahir pada 21 April 1879 merupakan sosok yang mendobrak batasan tradisi kuno kala itu yang masih membelenggu perempuan untuk meraih aspek-aspek kehidupan salah satunya pendidikan. Perjuangan Kartini ratusan tahun lalu ini menjadi awal mula semangat untuk terus membawa kaum perempuan keluar dari segala diskriminasi yang membatasi perempuan.

Pembangunan yang inklusif erat kaitannya dengan kualitas modal manusianya dan mewujudkan hal tersebut salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas perempuan. Meski menunjukkan adanya tren perbaikan, ketimpangan antara laki-laki dan perempuan masih terlihat di Kalimantan Timur. Pada tahun 2025, Indeks Pembangunan Gender (IPG) di wilayah Kalimantan Timur ini tercatat sebesar 88,01, meningkat dari 87,46 pada tahun sebelumnya. Nilai IPG yang semakin mendekati 100 mencerminkan kesetaraan yang lebih baik, sehingga angka tersebut yang masih berada jauh di bawah 100 menunjukkan bahwa ketimpangan gender masih menjadi pekerjaan rumah.

Noveranus Duma Saro.
Noveranus Duma Saro

Beberapa aspek penting seperti pendidikan dan ekonomi, perempuan masih terdapat ketertinggalan dibandingkan laki-laki. Secara riil, pengeluaran per kapita penduduk perempuan Kalimantan Timur tahun 2024 hanya sebesar 8,16 juta rupiah per tahun yang di mana angka ini masih jauh di bawah pengeluaran per kapita laki-laki yang sejumlah 20,76 juta rupiah per tahun. Jika kita telisik lebih mendalam, hal ini salah satunya disebabkan karena penduduk perempuan di Kalimantan Timur masih lebih sedikit serapannya dalam dunia kerja. Dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kalimantan Timur tahun 2024, terlihat bahwa TPAK perempuan masih sebesar 49,07 persen yang artinya bahwa di antara perempuan yang berusia lebih dari 15 tahun, baru 49 persen saja yang termasuk ke dalam angkatan kerja dan sisanya, yakni 51 persen, termasuk ke dalam golongan bukan angkatan kerja.

Dari kelompok bukan angkatan kerja tadi, terdapat sebesar 77,49 persen penduduk perempuan yang termasuk golongan bukan angkatan kerja dengan status mengurus rumah tangga. Hal ini menunjukkan rendahnya partisipasi perempuan Kalimantan Timur dalam angkatan kerja masih didominasi karena banyaknya perempuan yang mengurus rumah tangga. Meskipun aktivitas domestik mengurus rumah tangga ini memiliki nilai penting dalam menjaga keberlangsungan keluarga, kondisi ini tetap menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan perempuan.

Kemudian, lebih lanjut kita melihat, terdapat hal menarik yang dapat dicermati dari segi karakteristik penduduk yang bekerja. Menurut status pekerjaan utama, baik penduduk laki-laki maupun perempuan sama-sama didominasi oleh penduduk bekerja berstatus buruh/karyawan/pegawai dan berusaha sendiri. Namun, terdapat hal mencolok pada penduduk bekerja yang berstatus sebagai pekerja keluarga, di mana pada tahun 2024 di antara perempuan Kalimantan Timur yang bekerja ada sebesar 17,70 persen yang berstatus sebagai pekerja keluarga sedangkan pada laki-laki hanya terdapat sebesar 4,46 persen saja dengan status ini. Data ini menunjukkan bahwa laki-laki masih memiliki peranan utama dalam bekerja dan kaum perempuan berperan dalam membantu usaha atau pekerjaan dari pasangannya.

Melihat fakta masih banyaknya perempuan yang bekerja dengan status pekerja keluarga ini menyebabkan kontribusi perempuan yang tidak begitu tampak karena secara umum pekerja keluarga ini juga merupakan pekerja yang tidak dibayar.

Dalam aspek pendidikan, Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) laki-laki Kalimantan Timur pada tahun 2024 mencapai 10,29 tahun sedangkan perempuan baru mencapai 9,82 tahun Artinya, penduduk laki-laki rata-rata mengenyam pendidikan hingga kelas 1 SMA, sementara perempuan hingga kelas 3 SMP. Ironisnya, angka Harapan Lama Sekolah (HLS) perempuan justru lebih tinggi, yakni 14,21 tahun dibandingkan laki-laki yang sebesar 13,88 tahun. Data ini adalah sinyal bagi pemerintah. Perempuan Kaltim diharapkan (HLS) mampu bersekolah hingga jenjang perguruan tinggi, namun nyatanya secara rata-rata (RLS) mereka harus terhenti di tingkat pendidikan menegah.

Perbedaan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan realisasi pendidikan yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kondisi ekonomi, beban domestik, hingga pernikahan pada usia dini. Hal ini menjadi tantangan nyata bagi pemerintah untuk mendorong peningkatan akses dan keberlanjutan pendidikan perempuan hingga jenjang lebih tinggi, karena rendahnya pendidikan menjadi hambatan dalam memasuki sektor kerja yang lebih produktif.

Di antara ketimpangan pada beberapa aspek dasar dari perempuan terhadap laki-laki, terdapat indikator positif dari sisi kesehatan. Secara umum, kualitas hidup perempuan Kalimantan Timur lebih baik dari laki-laki dengan capaian Umur Harapan Hidup (UHH) perempuan yang mencapai 76,90 tahun, di mana UHH penduduk laki-laki berada pada angka 73,20 tahun. Indikator ini menunjukkan, dalam aspek kesehatan dan harapan hidup, perempuan Kalimantan Timur memiliki harapan untuk hidup yang lebih lama dari laki-laki. Dengan bekal kualitas hidup yang lebih baik ini diharapkan perempuan semakin berdaya untuk meningkatkan segala aspek hidupnya yang lain. Sebagai “tiang negara”, peran perempuan sangat vital, sehingga peningkatan kualitas perempuan merupakan investasi penting untuk mewujudkan Kalimantan Timur yang lebih berkualitas.

CATATAN REFLEKSI PERJUANGAN KARTINI

Perjuangan Kartini dalam meningkatkan peran perempuan dan meningkatkan kesetaraan hak hidup perempuan merupakan semangat yang harus terus didorong dan diwujudkan, bukan hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh masyarakat luas. Mewujudkan kesetaraan dan mengurangi ketimpangan gender merupakan langkah besar untuk menjamin kualitas pembangunan di wilayah Kalimantan Timur semakin baik. Mendorong partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan peningkatan peran aktif perempuan secara ekonomi, menjadi salah satu agenda penting ke depan.

Selain itu, mendorong perempuan untuk memiliki pendidikan yang lebih tinggi lagi adalah prioritas utama yang tidak boleh luput apabila kita ingin mewujudkan masyarakat Kalimantan Timur madani yang berkualitas. Nilai-nilai kesetaraan yang diperjuangkan oleh Kartini tetap relevan dan menjadi pedoman semangat dalam membangun masyarakat yang inklusif. Dengan semakin terwujudnya kesetaraan gender, pembangunan di Kalimantan Timur akan semakin mencerminkan prinsip inklusivitas dan keadilan.

Editor : Muhammad Ridhuan
#Raden Ajeng Kartini #Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja #perempuan kaltim #emansipasi