Oleh:
Prof Rachim
Ketua Perhimpunan Profesor Nusantara Kaltim
KALTIMPOST.ID-Lulusan perguruan tinggi sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Sehingga menjadi perhatian serius bagi pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, tingkat pengangguran per Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,76 persen.
Berdasarkan jenjang pendidikan, lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi menempati peringkat teratas dalam jumlah pengangguran. Artinya, populasi angkatan kerja muda tidak terserap dengan baik.
Banyaknya mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi kesulitan mencari pekerjaan. Bahkan kesempatan mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi juga masih terbatas.
Generasi Z tidak hanya mencari pekerjaan yang mapan, tetapi juga ruang untuk aktualisasi diri. Ketika kerja keras tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh, rasa kecewa dan kehilangan kepercayaan terhadap sistem pun tak terelakkan.
Menurut Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), terdapat 296.948 pekerja migran Indonesia (PMI) sepanjang 2025. Taiwan menjadi negara tujuan utama, dengan 89.960 orang.
Di posisi kedua ada Hong Kong dengan 76.157 orang. Di ASEAN, Malaysia berada di posisi puncak dengan menerima 54.434 pekerja. Jepang mengisi peringkat keempat dengan 19.970 pekerja, disusul Singapura dengan 15.621 pekerja.
Baca Juga: Disdikbud Kutai Barat Evaluasi Dapodik Delapan Kecamatan untuk Perkuat Akurasi Data Pendidikan
Intelligence quotient (IQ) merupakan salah satu dari banyak tes kecerdasan. Biasanya, IQ digunakan untuk mengukur kecerdasan manusia, mencakup berbagai kemampuan mental, mulai penalaran verbal, kemampuan visual, kesadaran spasial, kecepatan pemrosesan, hingga pengenalan pola.
IQ bisa memprediksi hal-hal seperti kesuksesan akademis, bukan jaminan kesuksesan hidup seseorang. World Population Review merilis data riset yang berisi daftar negara dengan skor rerata IQ-nya.
Di Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat sepuluh. Capaian rerata skornya sebesar 78,49. Dalam pemeringkatan dunia, Indonesia di posisi ke-130.
Kemudian hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) yang diadakan oleh Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2022 menunjukkan bahwa kompetensi pelajar Indonesia di bidang matematika, membaca, dan sains, mengalami penurunan.
Pendidikan tinggi memiliki peran utama dalam pembangunan suatu bangsa, memberikan landasan bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi dan kontribusi mereka.
Evaluasi kualitas perguruan tinggi menjadi penting, salah satu indikatornya adalah peringkat kampus yang dikeluarkan oleh lembaga seperti Webometrics. Universitas Mulawarman berada pada peringkat 3.642 dunia dan peringkat 50 nasional.
Di Indonesia sendiri, saat ini terdapat fenomena menurunnya kemampuan berbahasa Inggris di berbagai kalangan masyarakat, terutama generasi muda.
Padahal, pada era globalisasi yang sangat maju saat ini, kita dituntut memiliki pengetahuan luas sebagai penunjang masa depan, yang kebanyakan darinya masih menggunakan bahasa internasional seperti bahasa Inggris.
Baca Juga: Pengprov PSTI Kaltim Audiensi dengan SKOI untuk Tingkatkan Prestasi Sepak Takraw
Fenomena itu sangat mengkhawatirkan karena bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang sangat penting dalam dunia kerja, pendidikan, dan komunikasi global. Penurunan kinerja itu bisa berdampak pada daya saing Indonesia di kancah dunia, terutama mengingat era digital dan perekonomian global yang semakin terintegrasi.
Menurunnya kemampuan berbahasa Inggris terlihat dari performa pelajar Indonesia dalam ujian bahasa Inggris internasional seperti TOEFL (Test of English as a Foreign Language) dan IELTS (International English Language Testing System).
Selain itu, penelitian yang dilakukan organisasi internasional dan nasional menunjukkan bahwa tingkat kemahiran bahasa Inggris di Indonesia masih rendah dibandingkan negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, dan Singapura.
Survei itu menunjukkan bahwa hanya sekitar 15 persen penduduk Indonesia yang memiliki kemampuan bahasa Inggris memadai. Sisanya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang terbatas atau tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Berdasarkan survei siswa, hanya 30 persen siswa yang lulus ujian nasional bahasa Inggris dengan hasil memuaskan.
Ada beberapa faktor penyebab menurunnya kemampuan bahasa Inggris di masyarakat Indonesia. Kurikulum saat ini belum sepenuhnya mendukung dan memfasilitasi siswa untuk belajar bahasa Inggris dengan lebih baik.
Pemaparan teori yang terlalu banyak tanpa adanya praktik mendengar dan berbicara, akan sia-sia. Siswa hanya akan memahami teori tanpa mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Kurangnya inovasi dalam teknik mengajar guru juga menjadikan siswa cepat bosan dan tidak termotivasi untuk belajar dengan giat.
Hal itu sangat berpengaruh pada mental seseorang. Terlebih jika konten di media sosial tidak mendidik dan menghibur, masyarakat Indonesia menjadi lebih malas untuk belajar. Kejadian ini marak terjadi di kalangan Gen Z, yang lebih tertarik terhadap kepuasan emosional daripada pendidikan.
Ada beberapa solusi yang bisa diterapkan. Kurikulum bahasa Inggris di sekolah perlu diperbarui dengan lebih menekankan pada keterampilan komunikasi praktis.
Saat belajar bahasa Inggris, penekanan yang lebih besar harus diberikan pada keterampilan berbicara dan mendengarkan, yang merupakan inti dari penggunaan bahasa sehari-hari.
Selain itu, kita harus menjadikan pembelajaran bahasa Inggris lebih interaktif dan menyenangkan dengan memanfaatkan teknologi seperti aplikasi pembelajaran bahasa, permainan interaktif, dan penggunaan media seperti video dan podcast berbahasa Inggris.
Sekolah wajib bilingual? Kelas bilingual adalah kelas khusus yang pada proses pembelajaran menggunakan dua bahasa. Umumnya bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan Inggris sebagai bahasa pengantar.
Pada penerapannya, siswa akan menggunakan bahasa asing pada mata pelajaran tertentu seperti matematika dan IPA. Siswa juga akan diminta menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan atau komunikasi sehari-hari.
Kelas bilingual juga tersedia dalam beberapa tingkatan, mulai dasar, menengah, hingga tinggi. Selain melatih kemampuan berbahasa dan berkomunikasi, ada beberapa tujuan pendidikan bilingual yang diterapkan oleh sekolah, satu di antaranya untuk pengembangan kognitif anak.
Belajar dalam dua bahasa dapat meningkatkan keterampilan kognitif siswa. Mereka belajar berpikir kritis, mengidentifikasi pola bahasa, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan secara linguistik. Kemudian anak juga dapat melatih kepercayaan dirinya.
Siswa yang memiliki bahasa ibu misalnya, dapat mempertahankan identitas budaya dan membangun rasa percaya diri yang kuat. Tujuan yang tak kalah penting adalah sebagai penunjang masa depan anak, khususnya dalam hal mendapat pekerjaan yang mereka inginkan.
Sekarang pengangguran dan kemiskinan menghantui, kabur saja dulu ke luar negeri, perlu persiapan bilingual agar sejajar dengan masyarakat negara lain setelah berada di luar negeri. (rd)
Editor : Romdani.