Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tiga Bahasa, “Siapa Takut” Rita Widyasari, dan Panggung Hangat Para Legenda

Redaksi • Minggu, 14 Juni 2026 | 08:56 WIB
Penulis bersama Rita Widyasari di sela-sela acara Wartawan Legend Bedapatan.
Penulis bersama Rita Widyasari di sela-sela acara Wartawan Legend Bedapatan.

 KALTIMPOST.ID - Aroma kopi malam itu seolah berkelindan dengan mesin waktu. Di Hotel Claro Pandurata—yang dalam ingatan kolektif masyarakat Samarinda lebih dikenal sebagai eks Hotel Atlit di kawasan Gelora Kadrie Oening Sempaja—ratusan kenangan mendadak mengalir. Tajuk acaranya sederhana, tetapi penuh daya tarik: Wartawan Legend Bedapatan.

Sahabat saya, Syafril TH Noor, sempat berbisik jenaka di tengah riuh suasana.

“Rus, acara kita malam ini unik. Ada tiga bahasa jadi satu: Indonesia, Inggris (Legend), dan Banjar (Bedapatan).”

Kami pun tertawa. Kalimat singkat itu justru merangkum esensi malam tersebut: pertemuan lintas generasi yang hangat, cair, dan tanpa sekat.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Tiket Pesawat Mahal dan Efisiensi Anggaran Tekan Industri Pariwisata Balikpapan, Perlu Ada Insentif ke Sektor Wisata

Suasana semakin semarak dengan kehadiran sejumlah tokoh publik Kalimantan Timur yang membaur tanpa protokol berlebihan. Hadir Wali Kota Samarinda Andi Harun bersama Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri.

Tampak pula mantan Wali Kota Balikpapan dua periode yang juga mantan Pemimpin Redaksi SKH Kaltim Post, Rizal Effendi. Seperti biasa, Mas Rizal dengan humor khasnya sukses mengundang tawa para tamu yang hadir.

Saya memilih duduk di antara para senior yang selama ini menjadi guru sekaligus kompas dalam perjalanan jurnalistik saya. Di dekat saya ada Bang Dillah (Sadillah), mantan redaktur olahraga saya. Ada rasa haru sekaligus bangga saat melihatnya mengenakan kaos SEA Games Thailand 2025, buah tangan yang saya bawakan beberapa waktu lalu.

 Di sisi lain tampak Syarifuddin Pernyata dan Syafril TH Noor. Duduk bersama mereka selalu membawa saya kembali ke suasana ruang redaksi yang riuh oleh tenggat waktu dan semangat kerja jurnalistik.

Magnet Kembalinya Sang “Dayang”

Namun harus diakui, magnet utama malam itu adalah kehadiran mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari. Setelah hampir sembilan tahun jauh dari hiruk-pikuk kehidupan publik di Bumi Mulawarman, malam itu ia kembali menapakkan kaki di Benua Etam.

Baca Juga: Skandal Audit BPK di Muara Enim, Eks Penyidik KPK Sebut Temuan Bisa Jadi Ajang Praktik Auditor Nakal

Saya berkesempatan menyambut langsung kedatangannya. Kami kemudian duduk berdampingan dan berbincang cukup lama. Bukan soal politik, melainkan berbagai kenangan dan cerita masa lalu yang masih tersimpan dalam ingatan. Sisi humanis Rita tak banyak berubah. Senyum dan keramahannya masih sama seperti yang saya kenal dahulu.

Sebagai orang media, tentu saya tidak melewatkan kesempatan untuk menanyakan langkah berikutnya setelah kembali menikmati kebebasan.

“Saya belum memiliki agenda politik saat ini, Rus. Ingin fokus berada di tengah-tengah masyarakat dulu dan melakukan hal-hal yang bermanfaat,” ujarnya tenang.

Percakapan kemudian mengarah pada pertanyaan yang lebih spekulatif. Bagaimana jika suatu saat masyarakat kembali memberikan kepercayaan dan memintanya memimpin?

Rita menatap saya, tersenyum tipis, lalu menjawab singkat:

“Siapa takut.”

Dua kata yang sederhana, tetapi sarat makna. Jawaban itu seolah menunjukkan bahwa naluri petarung seorang Rita Widyasari belum benar-benar padam. Di tengah antusiasme sebagian masyarakat Kukar dan Kalimantan Timur yang menyambut kepulangannya, pernyataan tersebut tentu membuka ruang tafsir dan spekulasi politik yang beragam.

Di Bawah Bayang-Bayang Spanduk Strategis

Menariknya, reuni para wartawan senior itu berlangsung di bawah sebuah pesan visual yang cukup mencuri perhatian. Pandangan saya, dan mungkin sebagian besar tamu yang hadir, tertuju pada spanduk acara.

Pada spanduk tersebut tertulis bahwa kegiatan Wartawan Legend Bedapatan mendapat dukungan dari Rudy Mas’ud, Gubernur Kalimantan Timur periode 2025–2030.

Kehadiran Rita Widyasari di ruang publik, berpadu dengan dukungan gubernur petahana dalam sebuah acara bernuansa media, menghadirkan pertanyaan menarik di tengah dinamika politik daerah. Apakah ini semata reuni penuh nostalgia, atau justru awal dari konfigurasi baru yang sedang bergerak di bawah permukaan politik Kalimantan Timur?

Sebagai wartawan yang telah mengikuti perjalanan politik daerah ini selama puluhan tahun, saya hanya bisa tersenyum. Malam Wartawan Legend Bedapatan tidak hanya menuntaskan kerinduan para jurnalis senior untuk berkumpul kembali, tetapi juga menghadirkan banyak bahan refleksi tentang arah politik Benua Etam ke depan.

Satu hal yang pasti, panggung politik Kalimantan Timur tampaknya masih akan menyajikan banyak cerita menarik pada masa mendatang. (*)

(Rusdiansyah Aras, jurnalis senior dan Ketua KONI Kaltim periode 2022-2026)

Editor : Ery Supriyadi
#rita widyasari #Rudy Mas'ud #wartawan legend bedapatan #politik Kaltim