Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Menyelamatkan Generasi Alpha dari Jeratan Gawai

Redaksi KP • Selasa, 16 Juni 2026 | 18:31 WIB
Wulan.
Wulan.

 

Oleh:

Wulan
Mahasiswi Akuntansi Universitas Mulawarman

PERNAHKAH kita melihat seorang anak kecil disuapi makan sambil menonton video di YouTube melalui ponsel yang dipegang orang tuanya? Pemandangan seperti itu kini menjadi hal yang sangat umum. Gawai perlahan berubah fungsi, bukan hanya sebagai alat komunikasi dan hiburan, tetapi juga menjadi “pengasuh digital” yang menemani anak-anak dalam aktivitas sehari-hari.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: apakah kita sedang membentuk generasi yang cerdas secara digital, atau justru generasi yang kehilangan kemampuan sosialnya?

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Saat ini banyak anak lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar dibandingkan bermain bersama teman sebaya. Permainan tradisional, aktivitas fisik, hingga interaksi sosial yang dahulu menjadi bagian penting masa kanak-kanak mulai tergeser oleh video pendek, gim daring, dan berbagai konten media sosial.

Data yang dilansir IDN Times menunjukkan bahwa anak-anak berusia 5–11 tahun rata-rata menghabiskan sekitar 2,8 hingga 3,5 jam per hari di depan layar gawai. Platform yang paling banyak diakses adalah YouTube dan TikTok. Angka tersebut tentu patut menjadi perhatian. Jika anak usia sekolah saja sudah menghabiskan waktu selama itu di depan layar, bagaimana dengan balita yang pengawasan penggunaannya sering kali lebih sulit dilakukan?

Dari sisi kesehatan, penggunaan gawai yang berlebihan pada anak usia dini memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh. Secara medis, otak anak yang masih berada pada masa pertumbuhan, terutama di bawah usia tiga tahun, sangat rentan mengalami overstimulasi akibat paparan gambar dan video yang bergerak cepat. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi, fokus, dan pengendalian diri pada masa mendatang.

Karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara tegas menyarankan agar anak di bawah usia dua tahun tidak mendapatkan paparan layar sama sekali (zero screen time). WHO menekankan bahwa interaksi langsung dengan orang tua, aktivitas fisik, bermain, serta komunikasi tatap muka jauh lebih penting untuk mendukung tumbuh kembang anak dibandingkan membiarkan mereka berlama-lama menggunakan gawai. Paparan layar yang berlebihan juga dikaitkan dengan risiko keterlambatan bicara (speech delay) dan hambatan perkembangan sosial.

MEMBANGUN KESEIMBANGAN

Teknologi pada dasarnya bukanlah musuh. Gawai dapat menjadi sarana belajar yang efektif jika digunakan secara tepat. Namun, masalah muncul ketika penggunaannya tidak dibatasi dan menggantikan aktivitas penting lainnya dalam kehidupan anak.

Dampak penggunaan gawai secara berlebihan tidak hanya berkaitan dengan perkembangan psikologis dan sosial, tetapi juga kesehatan fisik. Mata yang terus-menerus menatap layar akan bekerja lebih keras sehingga mudah mengalami kelelahan. Paparan cahaya dari layar ponsel dalam waktu lama dapat memicu sakit kepala, mata kering, hingga gangguan penglihatan.

Tidak sedikit anak yang mulai mengeluhkan mata perih, berair, atau pandangan kabur akibat terlalu lama menggunakan gawai. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus tanpa pengawasan, bukan tidak mungkin kualitas penglihatan mereka akan menurun pada usia yang masih sangat muda.

Karena itu, diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan interaksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anak tetap perlu diberikan kesempatan untuk bermain, berolahraga, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, serta membangun hubungan sosial secara langsung.

DARI LAYAR KE KREATIVITAS

Salah satu langkah yang dapat dilakukan orang tua adalah menerapkan batas waktu penggunaan gawai. Saat ini berbagai perangkat telah menyediakan fitur pengawasan yang dapat dimanfaatkan untuk mengontrol durasi penggunaan ponsel.

Pada perangkat Android tersedia fitur Kesehatan Digital dan Kontrol Orang Tua, sedangkan pengguna iPhone dapat memanfaatkan fitur Durasi Layar (Screen Time). Melalui fitur tersebut, orang tua dapat mengatur batas penggunaan aplikasi tertentu sehingga akses akan terkunci secara otomatis ketika waktu yang telah ditentukan habis.

Selain membatasi penggunaan gawai, orang tua juga perlu menyediakan alternatif kegiatan yang menarik bagi anak. Upaya ini menjadi semakin relevan seiring rencana pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun yang mulai dibahas pemerintah pada 2026.

Anak-anak perlu diarahkan pada aktivitas yang dapat mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan kepercayaan diri mereka. Misalnya melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti musik, olahraga, seni bela diri, atau kegiatan yang dekat dengan alam seperti berkebun dan merawat hewan peliharaan.

Di era digital, kreativitas juga dapat diarahkan ke aktivitas yang lebih produktif. Anak dapat diajak membuat video edukatif sederhana, mendokumentasikan kegiatan sehari-hari dalam bentuk vlog positif, atau mengembangkan keterampilan digital yang bermanfaat. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi sarana konsumsi hiburan, tetapi juga media untuk belajar dan berkarya.

MENGHADIRKAN KEMBALI PERAN ORANG TUA

Pada akhirnya, solusi utama tidak hanya terletak pada pembatasan teknologi, tetapi pada kehadiran orang tua itu sendiri. Tidak ada aplikasi, algoritma, ataupun perangkat digital yang mampu menggantikan peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Orang tua perlu hadir secara utuh dalam kehidupan anak, mendengarkan cerita mereka, bermain bersama, serta menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang sehat. Anak-anak membutuhkan perhatian, komunikasi, dan kasih sayang yang tidak dapat diberikan oleh layar ponsel.

Sesekali mengajak anak berlibur ke alam terbuka, berjalan-jalan bersama keluarga, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa gawai dapat menjadi cara sederhana untuk memperkuat hubungan emosional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dunia digital.

Generasi Alpha memang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Namun, kemajuan teknologi tidak boleh mengorbankan kemampuan sosial, kesehatan, dan kualitas hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.

Karena itu, diperlukan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata. Teknologi harus menjadi alat yang membantu tumbuh kembang anak, bukan menggantikan peran keluarga dalam mendidik mereka.

Pada akhirnya, waktu tidak dapat diputar kembali. Jangan sampai masa kecil mereka habis hanya untuk menjadi penonton di dunia maya, sementara kesempatan untuk belajar, bermain, dan tumbuh bersama lingkungan sekitar terlewat begitu saja. (***/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#Organisasi Kesehatan Dunia #layar ponsel #media sosial #youtube #Generasi Alpha