Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anak Bukan Mesin Prestasi

R
Penulis: Redaksi KP❯
Prima Trisna Aji
Prima Trisna Aji

Advertisement

Oleh:

Prima Trisna Aji

Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

Advertisement

SUATU sore di sebuah klinik tumbuh kembang, seorang ibu muda menunduk dengan mata berkaca-kaca. Di sampingnya, anak laki-laki berusia tujuh tahun tampak diam, sesekali menggigit kuku dan menghindari kontak mata. “Dok, anak saya sering bilang capek… tapi saya tidak tahu capek apa. Dia sekolah, les bahasa Inggris, les matematika, dan sekarang saya daftarkan coding,” ujar sang ibu dengan suara bergetar. Bukan tubuh anak itu yang lelah, melainkan jiwanya yang kehabisan ruang bernapas.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Ia adalah potret dari wajah baru parenting modern di Indonesia sebuah pola pengasuhan yang, tanpa disadari, menjadikan anak sebagai “proyek prestasi”. Orang tua berlomba memastikan anaknya unggul sejak dini, seolah masa depan hanya ditentukan oleh seberapa cepat anak bisa membaca, berhitung, atau menguasai berbagai keterampilan tambahan. Di balik niat baik tersebut, tersembunyi dilema besar: ketika ambisi orang tua bertabrakan dengan kesehatan mental anak.

Organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (2026), dalam beberapa tahun terakhir menegaskan bahwa gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja meningkat secara signifikan secara global. Laporan UNICEF bahkan menyebutkan bahwa satu dari tujuh anak di dunia mengalami masalah kesehatan mental. Tekanan akademik yang tinggi, ekspektasi berlebih dari orang tua, serta minimnya ruang bermain dan eksplorasi menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

Advertisement

Di Indonesia, fenomena ini semakin menguat seiring dengan meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan. Ironisnya, kesadaran ini sering kali bergeser menjadi obsesi. Anak usia dini sudah dijejali target capaian yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya. Mereka didorong untuk “lebih cepat” dari yang lain, tanpa mempertimbangkan kesiapan psikologisnya. Padahal, dalam ilmu perkembangan anak, setiap fase memiliki ritme alami yang tidak bisa dipaksakan.

Tekanan yang terus-menerus dapat memunculkan berbagai dampak psikologis. Anak menjadi mudah cemas, kehilangan minat belajar, bahkan menunjukkan gejala depresi sejak usia dini. Tidak sedikit pula yang mengalami gangguan tidur, penurunan kepercayaan diri, hingga kelelahan emosional. Lebih jauh lagi, anak yang tumbuh dalam tekanan berlebihan berisiko kehilangan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri apa yang ia sukai, apa yang ia butuhkan, dan siapa dirinya sebenarnya.

Paradoks terbesar dari parenting modern adalah ketika orang tua ingin memberikan yang terbaik, tetapi justru mengorbankan hal yang paling mendasar: kesehatan mental anak. Dalam banyak kasus, keberhasilan anak diukur semata dari capaian akademik dan keterampilan teknis, sementara aspek emosional dan sosial terabaikan. Anak yang mampu meraih nilai tinggi belum tentu memiliki kesejahteraan psikologis yang baik.

Di sinilah pentingnya menggeser paradigma pengasuhan. Anak bukan mesin prestasi yang harus terus dioptimalkan tanpa henti. Ia adalah individu yang sedang tumbuh, dengan kebutuhan akan kasih sayang, penerimaan, dan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Orang tua perlu memahami bahwa keberhasilan sejati tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kemampuan anak untuk merasa bahagia, percaya diri, dan mampu mengelola emosinya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Self-Diagnosis dari Media Sosial: Ketika TikTok Menjadi ‘Dokter’ Baru Generasi Muda

Self-Diagnosis dari Media Sosial: Ketika TikTok Menjadi ‘Dokter’ Baru Generasi Muda

Dampak self-diagnosis tidak bisa dianggap sepele.

Menyelamatkan Generasi Alpha dari Jeratan Gawai

Menyelamatkan Generasi Alpha dari Jeratan Gawai

Gawai perlahan berubah fungsi, bukan hanya sebagai alat komunikasi dan hiburan, tetapi juga menjadi “pengasuh digital”

Hantavirus dan Kepanikan Publik

Hantavirus dan Kepanikan Publik

Pada 1993, wilayah Four Corners di Amerika Serikat pernah diguncang kematian mendadak sejumlah warga akibat infeksi Hantavirus.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer