
Oleh:
Prima Trisna Aji
Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang
BELUM lama ini, media sosial kembali dipenuhi berbagai unggahan tentang Hantavirus. Video-video berdurasi singkat menampilkan narasi yang mengundang kecemasan: virus mematikan dari tikus, ancaman pandemi baru, hingga kematian mendadak akibat membersihkan gudang atau menyentuh kardus lama. Dalam hitungan jam, konten tersebut menyebar luas dan ditonton jutaan kali.
Yang menyebar ternyata bukan hanya informasi, melainkan juga ketakutan.
Sebagian masyarakat mulai mengaitkan setiap gejala demam dengan Hantavirus. Ada yang khawatir membersihkan gudang, takut menyentuh barang-barang lama, bahkan menganggap keberadaan tikus di sekitar rumah sebagai pertanda ancaman wabah besar. Fenomena ini menunjukkan satu ironi di era digital: rasa takut sering kali bergerak lebih cepat daripada pengetahuan.
Padahal, Hantavirus bukanlah penyakit baru. Dunia medis telah lama mengenalnya sebagai virus yang dapat ditularkan melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Penyakit ini memang dapat menimbulkan kondisi serius apabila tidak ditangani dengan baik, tetapi bukan berarti setiap keberadaan tikus otomatis menjadi ancaman pandemi seperti yang banyak digambarkan di media sosial.
Persoalan terbesar yang kita hadapi hari ini bukan semata-mata virus, melainkan cara masyarakat menerima dan menyebarkan informasi kesehatan.
Algoritma media sosial cenderung mengangkat konten yang memicu emosi. Semakin dramatis sebuah narasi, semakin besar peluangnya menjadi viral. Akibatnya, penjelasan ilmiah yang disusun secara hati-hati sering kali kalah menarik dibanding video singkat yang dibumbui rasa takut.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



