Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ketika Ruang Fiskal Menyusut, Akankah Mimpi Pemuda Ikut Surut?

Redaksi KP • Jumat, 19 Juni 2026 | 09:22 WIB
Rusmulyadi
Rusmulyadi

Oleh: Rusmulyadi

Analis Kebijakan Pengembangan Pemuda Dispora Provinsi Kalimantan Timur

KALTIMPOST.ID - Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang pemuda di Samarinda. Usianya belum genap 23 tahun. Ia baru menyelesaikan pendidikan di salah satu perguruan tinggi ternama di Benua Etam. 

Semangatnya terlihat dari cara bicara dan matanya yang berbinar saat bercerita tentang keinginannya mengikuti pelatihan digital, membuka usaha sendiri, serta terlibat dalam euforia pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Lalu ia bertanya, “Apakah akan ada kesempatan untuk kami?”

Baca Juga: Indonesia dalam Konstelasi Global: Seruan Menolak Tambang Bawah Laut

Saya tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu terus terngiang, terutama ketika muncul kabar bahwa dana Transfer ke Daerah (TKD) Kalimantan Timur mengalami penurunan.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya persoalan angka dalam tabel keuangan pemerintah. Namun sesungguhnya ada hal yang jauh lebih besar di baliknya: masa depan generasi muda Kalimantan Timur.

Pembangunan sering kali masih diukur dari sesuatu yang terlihat—jalan yang mulus, gedung yang megah, atau jembatan yang membentang panjang. Padahal pembangunan yang paling menentukan justru sering tidak tampak, yakni pembangunan manusia.

Baca Juga: Kartelisasi Politik dan Absennya Kekuatan Oposisi

Kita perlu mempersiapkan generasi yang kelak mengisi ruang-ruang masa depan; memimpin perusahaan, mengelola pemerintahan, menciptakan lapangan kerja, dan menentukan arah Bumi Mulawarman.

Kalimantan Timur saat ini berada di persimpangan sejarah. Kehadiran IKN bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan arus perubahan besar yang menghadirkan investasi, peluang ekonomi, dan mobilitas manusia yang semakin tinggi.

Namun setiap perubahan selalu memiliki dua sisi. Ada yang siap memanfaatkan peluang, ada pula yang hanya menjadi penonton. Pertanyaannya, pemuda Kalimantan Timur akan berada di sisi yang mana?

Di bawah kepemimpinan Gubernur Rudy Mas’ud, pembangunan sumber daya manusia telah ditempatkan sebagai prioritas melalui penguatan pendidikan, kesehatan, dan penciptaan lapangan kerja. 

Pilihan itu tepat, karena masa depan Kalimantan Timur tidak akan ditentukan oleh kekayaan alamnya semata, melainkan oleh kualitas manusianya.

Masalahnya, membangun manusia membutuhkan biaya, waktu, dan komitmen jangka panjang. Ketika ruang fiskal menyempit, pemerintah dihadapkan pada pilihan-pilihan prioritas. Di sinilah ujian sesungguhnya.

Investasi pada generasi muda sering kali baru menunjukkan hasil bertahun-tahun kemudian. Beasiswa hari ini mungkin melahirkan pemimpin masa depan. 

Pelatihan keterampilan saat ini bisa menghasilkan wirausahawan sukses beberapa tahun mendatang. Pembinaan kepemudaan yang dilakukan sekarang dapat membentuk karakter kepemimpinan yang dibutuhkan daerah pada masa depan.

Sebab itu, semua harus dimulai hari ini. Kita terlalu sering menyebut pemuda sebagai aset bangsa. Kalimat itu memang indah, tetapi aset tidak tumbuh dengan sendirinya. 

Generasi muda membutuhkan pendidikan yang berkualitas, akses pelatihan keterampilan, kesempatan berwirausaha, ruang berinovasi, serta kepercayaan untuk mengambil peran. Semua itu membutuhkan keberpihakan kebijakan, dan kebijakan memerlukan dukungan anggaran.

Kalimantan Timur memiliki hak moral untuk berharap lebih. Selama bertahun-tahun, daerah ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. 

Pada 2024, produksi batu bara Kalimantan Timur mencapai sekitar 436,7 juta ton atau lebih dari separuh produksi nasional. 

Kontribusi tersebut tentu tidak kecil. Sebab itu, wajar apabila masyarakat berharap daerah ini memiliki kemampuan yang cukup untuk mempersiapkan generasi mudanya menghadapi perubahan zaman.

Dalam pembangunan kepemudaan, pemerintah mengacu pada Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). Sebagian orang mungkin hanya melihatnya sebagai angka. 

Padahal di balik angka tersebut terdapat kehidupan nyata: pemuda yang berhasil melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan layak, mendapatkan ruang berpartisipasi dan memimpin, hidup sehat, serta pemuda disabilitas yang memperoleh kesempatan yang sama.

Angka hanyalah cermin. Yang terpenting adalah manusia yang berada di belakangnya.

Kita tentu tidak ingin pemuda Kalimantan Timur hanya menjadi penonton ketika perubahan besar sedang berlangsung di tanah kelahirannya sendiri. 

IKN harus menjadi momentum untuk melahirkan generasi yang percaya diri, kompeten, berdaya saing, dan mampu memanfaatkan setiap peluang yang hadir.

Akan sangat disayangkan apabila kesempatan bersejarah itu berlalu karena investasi terhadap manusianya tidak memperoleh perhatian yang memadai.

Kita juga harus menyadari bahwa sumber daya alam memiliki batas. Batu bara akan habis, cadangan migas akan berkurang. Namun investasi pada manusia akan terus menghasilkan manfaat lintas generasi.

Sebab itu, persoalan transfer ke daerah tidak boleh dipandang semata sebagai urusan menjaga keseimbangan anggaran. 

Ini adalah soal pilihan: tentang apa yang kita anggap penting dan siapa yang sedang kita persiapkan untuk masa depan.

Saya kembali teringat pertanyaan pemuda di Samarinda itu. “Apakah akan ada kesempatan untuk kami?”

Jawabannya bergantung pada keputusan yang diambil hari ini. Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang berhasil kita bangun sekarang, melainkan tentang siapa yang sedang kita siapkan untuk memimpin hari esok.

Ketika ruang fiskal menyempit, jangan sampai masa depan pemuda menjadi harga yang harus dibayar. Karena pada akhirnya, keberhasilan Kalimantan Timur tidak akan dikenang dari seberapa banyak sumber daya alam yang pernah dieksploitasi, melainkan dari seberapa baik daerah ini menyiapkan generasi mudanya untuk melanjutkan estafet pembangunan.
Dan sejarah akan mencatat pilihan yang kita ambil hari ini. (*) 
 

Editor : Duito Susanto
#Rudy Mas'ud #ruang fiskal #Transfer ke Daerah TKD #Ibu Kota Nusantara (IKN) #indeks pembangunan manusia