Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ekspor Tenaga Kuli, Impor Tenaga Ahli

Redaksi KP • Kamis, 25 Juni 2026 | 19:26 WIB
Prof. Husaini Usman.
Prof. Husaini Usman.

Oleh:

Prof. Husaini Usman
Rektor UWGM Samarinda

BELAKANGAN ini publik Kalimantan Timur menyoroti masuknya tenaga ahli asal Jepang, Fumihide Takeuchi, sebagai penasihat Danantara. Pada saat yang sama, banyak warga Indonesia bekerja di Jepang sebagai pekerja sektor manual. Kontras ini memunculkan pertanyaan sederhana namun penting: mengapa Indonesia mengekspor tenaga kerja kasar, sementara pada saat yang sama mengimpor tenaga ahli?

Pertanyaan tersebut bukan untuk merendahkan martabat bangsa Indonesia ataupun menyalahkan Jepang. Jepang berhak mengirimkan tenaga ahli terbaiknya untuk bekerja secara profesional dan legal di Indonesia. Begitu pula warga Indonesia yang bekerja di luar negeri. Semua pekerjaan yang halal adalah mulia dan setiap profesi memiliki peran yang saling melengkapi.

Namun persoalannya bukan pada jenis pekerjaannya. Persoalan utamanya adalah mengapa setelah lebih dari 80 tahun merdeka, dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia masih lebih banyak mengekspor tenaga kerja pada level dasar dibandingkan mengekspor tenaga ahli yang dibutuhkan dunia?

Menurut teori Human Capital, pendidikan dan pelatihan menghasilkan kompetensi. Kompetensi menghasilkan barang dan jasa. Barang dan jasa menghasilkan pendapatan. Pendapatan pada akhirnya menghasilkan kesejahteraan. Teori ini menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya.

Jepang merupakan contoh yang menarik. Negara ini relatif miskin sumber daya alam, tetapi kaya sumber daya manusia. Sebaliknya, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, namun masih menghadapi tantangan besar dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Laporan terbaru United Nations Development Programme (UNDP) tahun 2025 menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada angka 0,728 atau peringkat 113 dunia. Sementara Jepang berada pada peringkat 20 dari 193 negara. IPM merupakan ukuran kesejahteraan yang mencerminkan kualitas kesehatan, pendidikan, dan standar hidup masyarakat.

Sejarah Jepang pasca-Perang Dunia II memberikan pelajaran berharga. Setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur akibat bom atom, Kaisar Hirohito dikisahkan bertanya, “Berapa guru yang masih tersisa?” Bukan berapa jenderal yang masih hidup. Kisah tersebut menggambarkan kesadaran bahwa kebangkitan bangsa harus dimulai dari pendidikan.

Jepang kemudian berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan manusia. Banyak warganya dikirim belajar ke luar negeri untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasilnya dapat dilihat saat ini. Jepang berhasil menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan teknologi yang diperhitungkan dunia.

Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa bangsa yang maju bukan selalu bangsa yang kaya sumber daya alam, melainkan bangsa yang kaya sumber daya manusia yang kompeten.

Karena itu, jika Indonesia ingin menjadi negara maju, dunia pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang benar-benar kompeten. Kompetensi yang dibutuhkan saat ini dan masa depan dapat dirangkum dalam akronim KOMPETEN, yaitu: Komunikasi efektif; Organisasi; Manajemen, termasuk manajemen diri; Penyelesaian masalah dan berpikir kritis; Entrepreneurship atau kewirausahaan; Terus belajar sepanjang hayat; Eksploitasi teknologi mutakhir, baik teknis maupun operasional; Networking dan kerja tim.

Kalimantan Timur memiliki peluang besar untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusianya. Dalam sejarah pembangunan daerah ini, setidaknya terdapat empat momentum ekonomi besar yang belum sepenuhnya berhasil dikonversi menjadi lompatan kualitas SDM.

Pertama, masa kejayaan industri kayu yang berakhir ketika hutan semakin menipis. Kedua, era minyak dan gas yang perlahan mengalami penurunan. Ketiga, masa panen kelapa sawit yang menghadapi fluktuasi harga. Keempat, era batu bara yang pengelolaannya kini semakin terpusat.

Kini Kalimantan Timur memasuki peluang kelima, yaitu pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pembangunan IKN merupakan kesempatan emas untuk melahirkan generasi emas: generasi yang sehat, cerdas, produktif, unggul, dan berakhlak mulia. Namun peluang tersebut hanya akan menjadi kenyataan apabila pembangunan sumber daya manusia ditempatkan sebagai prioritas utama.

Kalimantan Timur membutuhkan SDM yang mampu bersaing secara lokal, nasional, bahkan internasional. Dengan kualitas SDM yang unggul, masyarakat Kaltim tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri, tetapi mampu menjadi pelaku utama dan penerima manfaat terbesar dari pembangunan IKN.

Sekali lagi, tidak ada pekerjaan halal yang hina. Semua pekerjaan yang halal adalah mulia karena saling membutuhkan. Namun bangsa yang besar tidak cukup hanya dikenal sebagai pengekspor tenaga kerja kasar. Bangsa yang maju adalah bangsa yang juga mampu mengekspor tenaga ahli, ilmuwan, profesional, inovator, dan pemimpin yang dibutuhkan dunia.

Jika hari ini Indonesia masih lebih banyak mengekspor tenaga kerja pada level dasar, maka cita-cita masa depan kita haruslah menjadi bangsa pengekspor tenaga ahli kelas dunia.

Untuk mencapai cita-cita tersebut, diperlukan kerja keras yang berkelanjutan melalui tiga langkah sederhana, yaitu 3B: Belajar agar kompeten, Bermanfaat agar berdampak pada kesejahteraan, dan Bermartabat agar menjadi manusia yang mulia.

Dengan demikian, pembangunan sumber daya manusia bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan jika Indonesia ingin berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju di dunia. (***/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#Fumihide Takeuchi #IKN #UWGM Samarinda #Danantara #pembangunan ibu kota nusantara