Oleh:
Delly Akbar Lahay
Aktivis, Penulis, dan Praktisi Pendidikan Samarinda
INDONESIA memiliki banyak persoalan besar yang terus menjadi perhatian publik. Di antara sekian banyak masalah tersebut, ada tiga kejahatan yang selalu muncul dalam berbagai pemberitaan dan hampir tak pernah kehilangan relevansinya: korupsi, narkoba, dan terorisme. Ketiganya bukan sekadar tindak pidana biasa, melainkan termasuk extraordinary crimes atau kejahatan luar biasa karena dampaknya yang luas terhadap kehidupan masyarakat.
Seandainya ketiga kejahatan itu diwujudkan sebagai manusia, barangkali mereka sudah membentuk grup percakapan bernama "Perusak Masa Depan Bersatu", lengkap dengan foto profil bergambar tumpukan uang, pil terlarang, dan bom. Kedengarannya lucu, tetapi kenyataannya sama sekali tidak mengundang tawa.
Melalui pendekatan humor, tulisan ini mencoba mengajak pembaca melihat persoalan serius dari sudut pandang yang lebih ringan. Sebab, terkadang kritik yang dibalut senyum justru lebih mudah diterima dibandingkan ceramah yang terlalu panjang.
Korupsi: Sulap yang Selalu Merugikan Rakyat
Korupsi mungkin menjadi satu-satunya "pertunjukan sulap" yang membuat uang rakyat menghilang tanpa pernah disambut tepuk tangan.
Seorang pesulap masih akan berkata, "Sim salabim!" sebelum sesuatu lenyap. Koruptor tidak memerlukan mantra apa pun. Tiba-tiba jalan rusak, jembatan retak, gedung cepat rapuh, sementara anggaran yang semula bernilai miliaran rupiah seolah menguap begitu saja.
Yang lebih menarik, para pelaku sering memiliki jawaban yang hampir seragam ketika diperiksa.
"Saya hanya menerima titipan."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi tameng paling ampuh. Jika semua penerimaan disebut sebagai "titipan", maka kurir paket seharusnya menjadi profesi paling kaya di negeri ini.
Ironisnya, korupsi tidak mengenal belas kasihan. Dana pembangunan, bantuan sosial, bahkan anggaran yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin pun dapat menjadi sasaran. Akibatnya, rakyat menerima pelayanan yang jauh dari layak, sementara pelaku menikmati kemewahan yang sulit dijelaskan dengan penghasilan resminya.
Pepatah lama mengatakan, lain yang makan nangka, lain yang kena getahnya. Dalam praktik korupsi, rakyatlah yang paling sering terkena getahnya.
Narkoba: Menjual Kebahagiaan Semu
Narkoba selalu menawarkan janji yang terdengar sederhana.
"Masalahmu akan hilang."
Padahal yang benar-benar hilang justru uang, kesehatan, masa depan, bahkan harapan hidup.
Perkenalan dengan narkoba sering dimulai dari kalimat yang tampak sepele.
"Cuma sekali."
Padahal banyak persoalan besar dalam hidup berawal dari dua kata tersebut. Cuma sekali bolos sekolah. Cuma sekali menunda pekerjaan. Cuma sekali mencoba sesuatu yang dilarang.
Sayangnya, untuk narkoba, "sekali" sering kali menjadi pintu masuk menuju ketergantungan.
Yang memprihatinkan, penyalahgunaan narkoba tidak memilih korban. Pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat umum dapat terjerumus karena rasa penasaran atau sekadar ikut-ikutan. Di sisi lain, para bandar memperoleh keuntungan besar dari penderitaan orang lain. Mereka menjual ilusi kebahagiaan, tetapi sesungguhnya sedang menghancurkan masa depan banyak keluarga.
Terorisme: Menebar Ketakutan, Bukan Perubahan
Berbeda dengan korupsi dan narkoba yang bekerja secara perlahan, terorisme hadir melalui rasa takut.
Tujuannya bukan sekadar menciptakan kerusakan fisik, tetapi juga mengguncang rasa aman masyarakat.
Jika pusat perbelanjaan menarik orang datang dengan diskon besar, maka aksi teror justru membuat orang menjauh karena ancaman keselamatan.
Ironisnya, pelaku teror sering merasa dirinya sedang memperjuangkan kebenaran. Padahal keyakinan tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan kekerasan.
Terorisme dapat diibaratkan alarm kendaraan yang berbunyi tengah malam. Semua orang terbangun dan panik. Bedanya, dampak terorisme jauh lebih serius karena mengancam nyawa manusia, memicu trauma berkepanjangan, serta memaksa negara meningkatkan pengamanan di berbagai sektor kehidupan.
Jika Ketiganya Bertemu di Warung Kopi
Bayangkan suatu malam Korupsi, Narkoba, dan Terorisme duduk bersama di sebuah warung kopi.
Korupsi berkata, "Aku mengambil uang rakyat."
Terorisme menyambung, "Aku menebar ketakutan."
Narkoba tersenyum, "Aku merusak generasi muda."
Pemilik warung kemudian datang sambil membawa nota.
"Bayarnya masing-masing, ya. Di sini tidak menerima pembayaran dengan penderitaan rakyat."
Mendadak suasana menjadi sunyi.
Korupsi mengaku tidak membawa uang tunai.
Narkoba lupa apa yang tadi dipesan.
Terorisme membuat pengunjung lain memilih pindah meja.
Pada akhirnya, seperti sering terjadi dalam kehidupan nyata, yang tetap harus membayar seluruh kerugiannya adalah rakyat.
Mengapa Disebut Extraordinary Crimes?
Korupsi, narkoba, dan terorisme digolongkan sebagai extraordinary crimes karena kerusakan yang ditimbulkannya tidak hanya menimpa satu orang, tetapi dapat memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas.
Korupsi menghambat pembangunan dan menggerus kepercayaan publik terhadap negara.
Narkoba merusak kualitas sumber daya manusia serta menghilangkan masa depan generasi muda.
Sementara terorisme mengancam keamanan nasional sekaligus menciptakan ketakutan yang meluas.
Jika pencurian seekor ayam hanya merugikan satu keluarga, maka ketiga kejahatan ini mampu merugikan jutaan orang dalam waktu bersamaan. Karena itulah, penanganannya pun memerlukan langkah luar biasa melalui penegakan hukum yang tegas, pencegahan yang berkelanjutan, serta partisipasi aktif masyarakat.
Humor Sebagai Media Kritik
Humor tentu tidak dapat menangkap koruptor, membongkar jaringan narkoba, ataupun menghentikan aksi terorisme.
Namun, humor dapat menjadi sarana menyampaikan kritik dengan cara yang lebih mudah diterima. Senyum sering kali menjadi pintu masuk bagi lahirnya kesadaran.
Humor ibarat sesendok gula yang membantu masyarakat menelan pil pahit kenyataan. Setelah tertawa, yang terpenting bukanlah lucunya cerita, melainkan kesadaran bahwa persoalan yang sedang dibahas adalah ancaman nyata yang tidak boleh dianggap biasa.
Penutup
Korupsi, narkoba, dan terorisme adalah tiga musuh bersama yang terus menggerogoti bangsa dari berbagai sisi. Korupsi menghilangkan uang rakyat, narkoba menghilangkan masa depan, sedangkan terorisme menghilangkan rasa aman.
Harapan kita sederhana: semoga suatu hari ketiga "tokoh" tersebut benar-benar kehilangan ruang hidup di negeri ini.
Sampai saat itu tiba, masyarakat harus tetap waspada, pemerintah harus konsisten menegakkan hukum, dan seluruh elemen bangsa perlu mengambil peran dalam mencegah ketiga kejahatan tersebut berkembang.
Sebab, negara yang kuat bukanlah negara yang pandai menertawakan kejahatan, melainkan negara yang mampu memastikan para pelaku tidak lagi merasa dapat mempermainkan hukum. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan