KALTIMPOST.ID - Sabtu pagi (27/6/2026), sekitar pukul 07.00 Wita, saya memulai perjalanan dari Samarinda menuju Balikpapan. Hari itu ada agenda keluarga yang membahagiakan, yakni menghadiri prosesi khitanan Afan, putra ketiga dari almarhum Kombes Pol (Purn) Suroso dan Silvia Rahmadina.
Perjalanan berlangsung lancar. Seperti kebanyakan acara keluarga, suasana hangat penuh canda dan silaturahmi menjadi bagian yang paling berkesan.
Namun, saya tidak menyangka perjalanan pulang menuju Samarinda justru menghadirkan pengalaman yang jauh lebih membekas di hati.
Baca Juga: Dua Pekan Berjalan, Dinkes Kaltim Masih Tunggu Hasil Investigasi Kemenkes di RSUD AWS
Menjelang waktu Ashar, saya memutuskan beristirahat di rest area Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) Km 36, Samboja. Setelah seharian beraktivitas, tubuh membutuhkan kesegaran. Sementara jiwa membutuhkan jeda untuk menunaikan kewajiban kepada Sang Pencipta.
Saya menuju tempat wudu dan mulai membasuh wajah. Fokus saya sepenuhnya tertuju pada ritual penyucian diri itu.
Tak lama kemudian, seseorang berdiri tepat di pancuran sebelah.
Saat menoleh, saya sempat terdiam beberapa detik.
Sosok itu begitu familiar. Wajahnya tidak banyak berubah, tetap bersahaja seperti yang saya kenal selama ini.
Ternyata, pria yang berdiri di samping saya adalah Syaharie Ja'ang, tokoh yang pernah memimpin Samarinda selama dua periode dan kini mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Widya Gama Mahakam.
Momen tersebut terasa begitu istimewa.
Biasanya, pertemuan dengan seorang tokoh berlangsung dalam suasana resmi, penuh protokol dan atribut jabatan. Namun sore itu berbeda. Kami dipertemukan dalam keadaan yang sangat sederhana.
Tanpa atribut duniawi, tanpa sekat jabatan, tanpa formalitas.
Kami sama-sama menggulung lengan baju, berwudu, dan bersiap menghadap Allah SWT.
Tatapan mata kami bertemu. Senyum hangat pun mengembang.
Usai berwudu, kami saling mendekat dan berjabat tangan. Dalam pertemuan singkat itu, Pak Ja’ang menyampaikan kalimat sederhana yang hingga kini masih terngiang di telinga saya.
“Kanda, yang kita harapkan saat ini tidak lain adalah tetap selalu sehat, konsisten beribadah, serta selamat dunia dan akhirat.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi saya, maknanya sangat dalam.
Pada fase kehidupan tertentu, berbagai pencapaian duniawi perlahan kehilangan daya tariknya. Jabatan, popularitas, dan berbagai simbol kesuksesan tidak lagi menjadi tujuan utama.
Yang tersisa adalah harapan untuk tetap sehat, dapat beribadah dengan istiqamah, serta memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.
Baca Juga: Banyak yang Buta Risiko, OJK Kaltim-Kaltara Beber Rumus 10-20-30-40 Jinakkan Jerat Pinjol
Di sudut rest area Km 36 sore itu, tempat wudu sederhana seolah berubah menjadi ruang refleksi kehidupan.
Kami kemudian berjalan bersama menuju masjid.
Di rumah Allah tersebut, kami menunaikan Salat Sunah Tahiyatul Masjid, dilanjutkan dengan Salat Sunah Qabliyah Ashar sebelum akhirnya melaksanakan Salat Asar berjamaah.
Perjalanan dari Balikpapan hari itu mungkin melelahkan secara fisik. Namun, pertemuan singkat tersebut justru menghadirkan ketenangan batin yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Di tengah hiruk pikuk kendaraan yang melintas di jalan tol, Allah seakan mempertemukan kami untuk saling mengingatkan tentang hal-hal yang paling penting dalam hidup.
Dari lubuk hati terdalam, saya mendoakan agar Syaharie Ja’ang senantiasa diberikan kesehatan, umur yang berkah, dan perlindungan Allah SWT dalam setiap langkah pengabdiannya.
Pertemuan di Km 36 itu menjadi pengingat yang akan selalu saya simpan.
Sebab, sejauh apa pun perjalanan manusia di dunia, pada akhirnya kita semua akan berhenti di tempat yang sama: menundukkan diri, bersujud, dan kembali kepada-Nya. (*)
(Penulis merupakan jurnalis senior dan tokoh pers di Kaltim)
Editor : Ery Supriyadi