
Romdani
Pemimpin Redaksi
KALTIMPOST.ID-Deretan truk dan mobil itu mengular di depan SPBU Kilometer 13, Karang Joang, Balikpapan Utara. Tepat di jalan menuju Terminal Peti Kemas (TPK) Kariangau.
Mereka bukan sedang mogok. Bukan pula parkir. Mereka hanya menunggu giliran mengisi solar bersubsidi.
Pemandangan itu nyaris tidak pernah hilang. Pagi, siang, sore, bahkan malam. Saban hari. Deretan truk dan mobil itu seperti sudah menjadi bagian dari lanskap jalan tersebut.
Saya beberapa kali melintas di kawasan itu. Antreannya bisa sangat panjang. Bahkan ada kendaraan yang memilih menginap agar tidak kehilangan giliran. Alasannya sederhana. Selisih harga.
Baca Juga: Lima Murid SD Tunas Lestari Sungai Kedang Lolos OSN Tingkat Kaltim, Wakili Kubar di Provinsi
Solar bersubsidi saat ini dijual Rp 6.800 per liter. Bandingkan dengan dexlite yang mencapai Rp 23.500 per liter dan pertamina dex sekitar Rp 25.350 per liter.
Disparitas harga yang begitu lebar membuat banyak orang merasa tidak punya pilihan lain selain ikut mengantre. Pemandangan serupa juga terlihat di SPBU Kilometer 15, Balikpapan.
Dari arah Samarinda maupun Balikpapan, truk-truk berbaris panjang. Pada jam tertentu, antreannya bisa mencapai berkilo-kilometer. Kalau hanya melihat dari kejauhan, semuanya tampak biasa. Tidak ada yang aneh.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





