Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Pendidikan Berbasis Imajinasi

Muhammad Aufal Fresky • Senin, 29 Juni 2026 | 15:38 WIB
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

KALTIMPOST.ID, Hingga saat ini saya masih meyakini betul bahwa maju dan mundurnya sebuah bangsa dan negara bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) di dalamnya. Mutu manusia Indonesia ini pastinya dipengaruhi juga oleh tata kelola dan manajemen pendidikan nasional. 

Sebab, lewat pendidikan, pola pikir, sikap, sifat, dan kepribadian seseorang bisa terbentuk. Lalu, persoalan yang menyeruak yaitu sejauh mana dunia pendidikan kita saat ini mampu mencetak insan-insan yang visioner, berkarakter, nasionalis, serta penuh empati dan simpati terhadap nasib wong cilik?

Sejauh mana pendidikan nasional kita mampu mewujudkan insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang membawa kemaslahatan bagi agama, nusa, dan bangsa? Terus terang saja, kita mendambakan lulusan sekolah/kampus yang mampu menjadi problem solver. Bukan sebaliknya, menjadi biang keladi atas segala persoalan yang terjadi.

Wajar saja jika kita cukup curiga bahwa jangan-jangan pendidikan nasional kita keluar dari relnya. Sedikit waswas, jangan-jangan selama ini pendidikan kita lebih mengutamakan kemampuan kognitif, tetapi lalai membangun watak anak didik sehingga setelah lulus kehilangan jati diri, mengalami krisis identitas, bahkan krisis karakter.

Baca Juga: Paradoks Kafe Estetik Kaltim: Ruang Ketiga yang Asing bagi Produk UMKM Lokal

Bagaimanapun juga, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik harus tetap ada dalam proses pembelajaran. Ruang kelas tidak boleh menjadi penjara yang membelenggu kreativitas dan inovasi peserta didik.

Oleh karena itu, guru selaku ujung tombak pendidikan diharapkan mampu memainkan perannya sebagai motivator dan pembimbing yang mengasah serta mengembangkan potensi anak didiknya yang beraneka ragam. Guru juga diharapkan mampu merangsang anak-anak didiknya untuk berimajinasi. Dalam konteks ini, saya kira pendidikan berbasis imajinasi perlu kembali menjadi perhatian serius kita semua, terutama para pemangku kebijakan.

Imajinasi, jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) tentang kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Sederhananya, hemat saya, imajinasi merupakan kemampuan seseorang untuk memvisualisasikan sesuatu dalam alam pikirannya. Bisa berupa gagasan tentang ide-ide yang abstrak seperti keadilan, hak asasi manusia, kesejahteraan, dan semacamnya.

Atau bisa berbentuk benda-benda seperti museum, menara masjid, langit, api, air, dan semacamnya. Imajinasi sendiri tidak terbatas ruang dan waktu. Artinya, seseorang yang sedang berimajinasi mampu menjelajahi masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui pikirannya. Bahkan, ia bisa membayangkan sesuatu yang belum pernah ada di dunia nyata. Pikirannya "liar", berandai-andai, dan out of the box pada kadang-kadang.

Lalu, apa korelasi imajinasi dengan pendidikan kita hari ini? Baiklah, pelan-pelan akan saya coba memaparkannya. Pertama-tama, kita sepakati dulu bahwa imajinasi memiliki tingkatan atau derajat yang lebih tinggi daripada pengetahuan. Seperti yang pernah dikatakan Albert Einstein, fisikawan terkemuka dunia, imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.

Sebab, menurutnya, pengetahuan bersifat terbatas karena meliputi apa yang kita ketahui dan pahami saat ini. Sementara itu, imajinasi mencakup segala hal, termasuk alam semesta, serta segala sesuatu yang belum ditemukan pada era sekarang. Artinya, imajinasi tidak terbatas.

Imajinasi mendorong kita mengembara ke sudut-sudut atau titik-titik yang sebelumnya barangkali tidak pernah terpikirkan. Jika pengetahuan bisa membawa seseorang dari A ke B, dari C ke D, atau dari E ke J, dan semacamnya, maka imajinasi jauh melampaui itu, yakni mampu membawa kita ke mana-mana.

Lagi pula, jika kita menelisik rekam jejak sebagian tokoh bangsa kita di masa silam, kita akan memahami bahwa sesungguhnya mereka bukan hanya intelektual-pejuang atau kesatria dengan basis akademis yang mumpuni. Mereka adalah orang-orang yang berani mendobrak zaman, berani keluar dari zona nyaman, dan tentunya memiliki imajinasi yang tinggi terkait bangsa dan negaranya di masa mendatang.

Yakni, bagaimana mewujudkan Indonesia yang merdeka, Indonesia yang terbebas dari belenggu kolonialisme dan imperialisme. Mereka memiliki cita-cita besar dan mulia, yakni bagaimana membangun tatanan kehidupan masyarakat yang bebas dari segala bentuk penjajahan serta mendambakan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Dan sekali lagi, mereka berimajinasi.

Dengan begitu, kekuatan dan peran imajinasi dalam proses pembelajaran tidak boleh dipandang sebelah mata. Guru sebagai motor penggerak pendidikan di ruang kelas tidak boleh membatasi anak didiknya dalam berimajinasi. Hal itu bisa direalisasikan ketika proses belajar-mengajar berlangsung.

Baca Juga: Seni Menghilang ala Perusahaan Tambang di Kutim, Pola Lama yang Ketinggalan Zaman

Apalagi, setiap anak didik memiliki latar belakang, potensi, bakat, minat, dan tingkat kecerdasan yang beraneka ragam. Dalam konteks inilah kecakapan seorang guru dalam menjalankan perannya sebagai pengajar dan pendidik sangat menentukan, terutama dalam membangkitkan kemauan dan motivasi anak didiknya untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Hal lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana membantu anak didiknya untuk lebih mengenali dirinya sendiri.

Terkait hal itu, penting kiranya agar dalam setiap penerapan model pembelajaran, entah itu model pembelajaran berbasis proyek, model pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran berbasis penemuan, dan sebagainya, guru mampu menghidupkan daya imajinasi anak didiknya.

Sebab, sekali lagi, imajinasi ini selain mampu menguatkan memori dan membangun motivasi, juga mampu menumbuhkan empati dalam diri anak didik. Pun demikian dengan peningkatan soft skill dan hard skill anak didik, peran imajinasi sangat krusial. Guru diharapkan mampu membangun rasa penasaran dan ketertarikan siswa untuk mendalami ilmu yang sedang diajarkan.

Dalam pendidikan berbasis imajinasi, peran guru sebagai stimulator bagi anak didiknya untuk berpikir dan berimajinasi tentu tidak bisa diremehkan. Semisal dengan storytelling, guru bisa bercerita di depan kelas mengenai kisah-kisah heroik Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan tokoh-tokoh bangsa di masa lalu. Sembari bercerita, guru dapat menyisipkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme.

Dengan demikian, murid-murid dapat membayangkan betapa sulitnya hidup di masa penjajahan dan betapa beratnya perjuangan para pahlawan bangsa. Mereka pun akan memahami bahwa kemerdekaan Indonesia tidak didapatkan secara cuma-cuma, melainkan melalui perjuangan dan pengorbanan seluruh komponen bangsa yang berdarah-darah di masa lalu.

Lebih lanjut, untuk mengaktifkan imajinasi anak didiknya, guru juga bisa meminta mereka satu per satu maju ke depan untuk bercerita atau membayangkan hendak menjadi apa lima tahun, sepuluh tahun, atau dua puluh tahun ke depan. Guru juga dapat meminta mereka menuliskan sebuah cerita tentang pengalaman tak terlupakan di kampung halaman, misalnya.

Saya rasa, hal itu dapat membantu para siswa mengingat kembali kenangan-kenangan di masa silam dan menuangkannya dalam sebuah karangan. Baik bercerita di depan kelas maupun menulis esai atau cerpen merupakan proyek kreatif yang, menurut pandangan saya, mampu melatih daya imajinasi siswa.

Baca Juga: Negara Meminta, Negara Tidak Memberi

Percayalah, dengan kekuatan imajinasi, para siswa akan memiliki kemampuan penalaran, kemampuan analisis, motivasi belajar, dan kemampuan pemecahan masalah yang tinggi. Dengan imajinasi, mereka bisa mulai mengenali siapa dirinya, hendak ke mana arah hidupnya, dan untuk apa ia hidup di dunia ini. Artinya, mereka akan belajar berfilsafat sejak dini. Lewat pendidikan berbasis imajinasi pula, perangai siswa akan tertata secara perlahan.

Tidak hanya itu, peran imajinasi dalam proses belajar-mengajar juga mampu mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan inovasi siswa. Terakhir, pertanyaan besarnya saat ini ialah, “Apakah penguasa dan wakil rakyat di negeri ini telah menempatkan imajinasi sebagai salah satu basis utama dalam sistem, regulasi, kebijakan, dan program-program terkait pendidikan nasional?” Jika masih belum, saatnya melakukan reorientasi dan reformasi dari hulu hingga hilir. Sebab, bagaimanapun juga, output dari sistem pendidikan nasional merupakan aset berharga yang akan menopang kemajuan Indonesia di pelbagai bidang. (*) 

Editor : Almasrifah
#imajinasi #masa depan bangsa #sekolah #sdm #pendidikan