Oleh:
Ita Wahyuni
Penulis dan Aktivis Dakwah
KALTIMPOST.ID-Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Kaltim memperkuat aksi dalam program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), untuk memupuk kepercayaan diri pada anak. Sehingga bisa tumbuh menjadi generasi yang berkualitas.
Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Kaltim Sunarto mengatakan, program GATI terus digencarkan untuk menekan fenomena fatherless atau anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah akibat sibuk kerja maupun sebab lain.
Berbagai aksi yang diperkuat dengan menggandeng instansi dan pihak terkait baik di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, seperti pendampingan dan penguatan kapasitas, memperkuat peran tim pendamping keluarga yang berasal dari unsur bidan, kader KB, dan PKK.
Kemudian memperkuat jejaring melalui kombinasi program GATI dengan program Gerakan Ayah Asuh Cegah Stunting (Genting) dan lainnya, yang melibatkan dunia usaha, kampanye, dan pemahaman tentang pentingnya kasih sayang ayah.
Sunarto menyebut, dalam berbagai gerakan ini Kemendukbangga/BKKBN Kaltim berperan sebagai fasilitator, pendamping, penghubung, dan penggerak agar GATI berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Melalui beberapa aksi yang rutin dilakukan, ia optimistis target ayah maupun calon ayah yang terpapar GATI di Kaltim pada 2026 yang sebanyak 15.959 orang bakal tercapai.
MASALAH SISTEMIK
Tak dimungkiri, fenomena degradasi moral, krisis identitas, dan pengaruh arus globalisasi yang dihadapi generasi muda hari ini semakin meresahkan.
Baca Juga: Diskoperindag Berau Perkuat UMKM Cokelat, Siapkan Kapasitas Produksi untuk Perluas Pasar
Banyak ditemukan berbagai masalah sosial seperti kecanduan gawai, pergaulan bebas, perundungan, tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya.
Hal itupun memicu berbagai pihak untuk terus merumuskan solusi menyelamatkan generasi dari ancaman kerusakan.
Di antaranya GATI, Genting, Gemar, Gemas, dan lainnya yang semuanya mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan dan pembentukan karakter anak.
Semua program tersebut layak diapresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap keadaan generasi muda hari ini. Hanya saja langkah ini tidak cukup menyelesaikan persoalan di kalangan remaja karena belum menyentuh akar masalah yang sistemik.
Kondisi buruk yang menimpa generasi bukan semata-mata kurangnya peran ayah. Melainkan, karena umat Islam berada dalam cengkeraman sistem sekuler kapitalisme yang mengakibatkan hilangnya gambaran nyata tentang kehidupan Islam.
Posisi Islam yang seharusnya dijadikan asas dalam berpikir dan bertingkah laku, digantikan oleh pemikiran sekuler kapitalisme.
Akibatnya, umat termasuk anak tidak lagi memiliki standar halal-haram bahkan tidak peduli urusan adab dan moral.
Sistem itu juga menjadikan fungsi keluarga, masyarakat, dan negara benar-benar mandul. Strukturnya rapuh karena tidak tegak di atas landasan takwa. Keluarga yakni ayah dan ibu tidak mampu berfungsi sebagai madrasah dan benteng pertama bagi anaknya.
Ayah larut dalam problem ekonomi yang menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah. Padahal ayah adalah pemimpin, pendidik, dan pelindung keluarga. Namun karena keadaan tersebut, interaksi dengan anak dan keluarganya menjadi sangat terbatas.
Mirisnya, fakta di lapangan menunjukkan fatherless dalam keluarga kini memasuki fase darurat. Bahkan Indonesia menempati peringkat ketiga fatherless country, yakni kurangnya keterlibatan figur ayah dalam proses tumbuh kembang anak.
Sementara itu, ibu juga didorong memiliki peran ganda, tidak hanya menjadi ibu dan pengelola rumah tangga tetapi turut bekerja menjadi penggerak ekonomi keluarga.
Maka tak heran, fenomena yang marak bukan hanya fatherless tapi juga motherless, karena anak-anak tumbuh dengan minimnya pendampingan kedua orang tua.
Di sisi lain, sekularisme juga menciptakan gaya hidup individualisme di lingkungan sosial. Akibatnya, pengawasan terhadap anak menjadi kendur, dan masyarakat tidak lagi menjadi kontrol sosial yang aman bagi anak.
Begitupun negara yang justru abai dalam tanggung jawab pengelolaan urusan rakyat dan malah menerapkan peraturan yang merusak kepribadian generasi.
Selain itu, sistem pendidikan sekuler pun telah gagal melahirkan insan bertakwa yang terjaga dari maksiat dan perbuatan buruk.
Walhasil, anak-anak tumbuh dalam habitat yang jauh dari harapan. Ketahanan ideologinya lemah selemah ketahanan ideologi keluarga, masyarakat, dan negara.
ISLAM MENCETAK GENERASI BERKUALITAS
Penerapan Islam secara kafah menjadi kunci terciptanya generasi terbaik yang berhasil membawa umat pada kebangkitan. Generasi Islam ini kukuh dalam ketakwaan dan ahli dalam solusi berbagai problem kehidupan.
Untuk itu, Islam melibatkan beberapa lapisan yang mampu menjamin lahirnya generasi pemimpin peradaban cemerlang.
Lapisan Pertama, yaitu keluarga yang menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan menanamkan prinsip-prinsip akidah Islam, hukum syariat, dan nilai-nilai Al Qur’an. Sehingga anak bisa membangun tujuan hidupnya yang diarahkan pada kemuliaan Islam.
Pada praktiknya, sistem Islam akan membangkitkan fungsi kaum laki-laki sebagai ayah dan calon ayah. Islam memfasilitasi dan menyiapkan setiap individu laki-laki agar siap menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai ayah dengan sukses.
Peran itu adalah sebagai pemimpin dalam keluarga, yang juga melindungi, menafkahi, dan mendidik keluarga. Selain itu, Islam juga menguatkan peran para ibu selaku sahabat dan mitra ayah dalam mendidik generasi dan mengatur keluarga.
Maka dengan sinergi keluarga yang dibangun akan lahirlah generasi rabbani yang unggul, paham tentang agamanya, mengerti arti dan hakikat hidup, memahami makna kebahagiaan hakiki, dan semangat pengabdian pada Islam.
Lapisan kedua, yaitu masyarakat dengan interaksi yang khas yakni dengan amar ma’ruf nahi mungkar. Tolok ukur keberhasilan dan kebahagiaan adalah keridhaan Allah SWT.
Maka orientasi kehidupan generasi akan fokus pada aktivitas fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan begitu, akan tercipta lingkungan yang Islami dan akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan generasi.
Lapisan ketiga, yaitu negara yang bertanggung jawab agar para kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier mereka dengan kualitas yang sangat baik dengan menerapkan sistem ekonomi yang komprehensif.
Dengan terpenuhinya seluruh kebutuhan tersebut tentu akan membawa pada suasana kehidupan keluarga yang harmonis, tenang, dan tenteram.
Tak hanya itu, negara juga akan memastikan setiap warga negaranya termasuk generasi muda terikat dengan hukum syariat. Negara Islam melakukan pembinaan kepada warga negaranya melalui penerapan sistem pendidikan Islam.
Baca Juga: Teknologi Satelit hingga Forklift Listrik Warnai Transformasi Industri di IEE Series Balikpapan 2026
Sistem pendidikan ini akan menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian (syakhsiyah) Islam. Mereka tidak hanya dibekali tsaqadah Islam dan ilmu Al Qu'ran, tapi juga ilmu pengetahuan serta ilmu teknis agar mampu mengarungi kehidupan. Sehingga akan dihasilkan generasi-generasi yang siap menjadi problem solver di tengah-tengah masyarakat.
Sungguh, Islam telah memberikan panduan yang sempurna dalam membangun keluarga, masyarakat, dan negara hingga mampu melahirkan generasi terbaik.
Ketika peran ayah dan ibu berjalan sesuai tuntunan syariat serta didukung oleh penerapan sistem Islam kafah dalam kehidupan maka akan terwujud generasi hebat dan berkualitas.
Yakni generasi yang akan menjadi sebaik-baik umat yang dilahirkan di antara manusia, sebagai pemimpin peradaban gemilang. Wallahua'lam bish shawab. (rd)
Editor : Romdani.