Oleh:
Elinda Rizkasari
Dosen Program Studi PGSD Universitas Slamet Riyadi Surakarta
BEBERAPA waktu lalu, media sosial diramaikan video seorang balita yang menangis histeris setelah telepon genggamnya diambil orang tuanya. Anak itu berguling di lantai, berteriak, memukul, dan sulit ditenangkan. Video tersebut ditonton jutaan kali. Banyak yang menganggapnya lucu, sedikit yang bertanya mengapa seorang anak bisa begitu bergantung pada layar.
Peristiwa itu sesungguhnya bukan sekadar tontonan viral. Ia menjadi potret perubahan pola pengasuhan yang sedang berlangsung di banyak keluarga. Perlahan tetapi pasti, gawai dan media sosial mulai mengambil sebagian peran yang dahulu diisi oleh kehadiran orang tua.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Guru taman kanak-kanak mengeluhkan anak yang sulit berkonsentrasi lebih dari beberapa menit. Orang tua bercerita anaknya tidak mau makan tanpa ditemani video. Ada pula balita yang lebih mengenal nama kreator media sosial daripada teman bermainnya sendiri.
Teknologi tentu bukan musuh. TikTok, YouTube, maupun media digital lainnya menghadirkan banyak manfaat apabila digunakan secara bijak. Persoalan muncul ketika gawai tidak lagi menjadi sarana belajar atau hiburan, melainkan berubah menjadi "pengasuh utama" yang menemani hampir seluruh aktivitas anak.
Tanpa disadari, banyak orang tua mulai mengandalkan layar sebagai jalan pintas. Ketika anak menangis, video diputar. Ketika pekerjaan rumah menumpuk, gawai diberikan agar anak tenang. Saat orang tua lelah setelah bekerja, layar menjadi teman bermain yang dianggap paling praktis.
Pilihan itu memang terasa memudahkan. Namun, kemudahan sering kali menyimpan konsekuensi yang tidak langsung terlihat.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan layar yang berlebihan pada usia dini berkaitan dengan berbagai persoalan perkembangan anak. Studi yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics pada 2024 menemukan hubungan antara durasi screen time yang tinggi dengan gangguan regulasi emosi, keterlambatan perkembangan bahasa, serta menurunnya kemampuan berinteraksi sosial. Sementara itu, American Academy of Pediatrics mengingatkan bahwa penggunaan media digital tanpa pendampingan orang tua dapat meningkatkan risiko gangguan perhatian dan perilaku impulsif.
UNICEF bahkan mengangkat fenomena yang disebut social isolation in connected spaces, yakni kondisi ketika anak tampak selalu terhubung secara digital, tetapi justru kehilangan kedekatan emosional dengan lingkungan keluarga.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari cara kerja media sosial. Platform seperti TikTok dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin melalui video singkat, pergantian gambar yang cepat, warna mencolok, dan rangsangan visual yang terus-menerus. Sistem ini memicu pelepasan dopamin di otak sehingga pengguna terdorong untuk terus menonton.
Pada anak-anak yang perkembangan otaknya masih berlangsung, stimulasi yang terus-menerus dapat membuat mereka semakin sulit menikmati aktivitas yang membutuhkan kesabaran. Membaca buku, mendengarkan cerita, atau bermain bersama teman akhirnya terasa membosankan dibandingkan video yang berubah setiap beberapa detik.
Dampaknya mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Anak menjadi lebih mudah marah ketika akses terhadap gawai dibatasi, sulit berkonsentrasi dalam proses belajar, hingga tidak terbiasa menunggu atau menyelesaikan aktivitas yang memerlukan waktu.
Ironisnya, persoalan ini tidak hanya terjadi pada anak. Banyak orang tua juga larut dalam budaya media sosial. Momen kebersamaan lebih sering diabadikan daripada dinikmati. Meja makan dipenuhi layar, ruang keluarga dipenuhi suara video, tetapi percakapan antaranggota keluarga justru semakin jarang.
Padahal, perkembangan anak tidak dibangun oleh algoritma. Otak mereka tumbuh melalui interaksi langsung dengan manusia—melalui tatapan mata, pelukan, cerita sebelum tidur, permainan sederhana, dan percakapan yang hangat. Hubungan emosional seperti itulah yang membentuk rasa aman, empati, serta kemampuan berkomunikasi.
Karena itu, solusi terhadap persoalan ini tidak cukup dengan melarang TikTok atau menyita telepon genggam anak. Yang jauh lebih penting adalah mengembalikan fungsi keluarga sebagai ruang interaksi yang utama.
Orang tua perlu menetapkan batas penggunaan gawai yang sesuai dengan usia anak dan menerapkannya secara konsisten. Waktu makan, menjelang tidur, atau saat berkumpul bersama keluarga sebaiknya menjadi ruang bebas layar. Membacakan buku, bermain bersama, atau sekadar berbincang mengenai aktivitas sehari-hari merupakan investasi kecil yang memberikan dampak besar bagi perkembangan anak.
Di sisi lain, orang tua juga perlu menjadi teladan. Sulit mengajak anak menjauh dari gawai apabila ayah dan ibunya sendiri lebih banyak menunduk menatap layar daripada membangun percakapan di rumah. Pendidikan digital tidak dimulai dari larangan, melainkan dari contoh yang diberikan setiap hari.
Sekolah dan pemerintah pun memiliki peran penting melalui penguatan literasi digital bagi keluarga. Banyak orang tua sebenarnya bukan tidak peduli terhadap anaknya, tetapi menghadapi tantangan baru yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan panduan agar mampu mendampingi anak tumbuh di tengah arus teknologi yang terus berkembang.
Teknologi akan terus berubah, dan kita tidak mungkin menghentikannya. Namun, ada satu hal yang tidak boleh tergantikan oleh kecanggihan algoritma, yakni kehadiran orang tua.
Sebab, masa kecil hanya berlangsung sekali. Kelak, anak mungkin tidak lagi mengingat video apa yang setiap hari mereka tonton. Tetapi mereka akan selalu mengingat apakah di rumahnya pernah ada pelukan, percakapan, dan orang tua yang benar-benar hadir menemani mereka bertumbuh. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan