Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Semua Nampan Harus Kosong

Redaksi KP • Rabu, 15 Juli 2026 | 19:18 WIB

 

Syafruddin Pernyata.
Syafruddin Pernyata.

Oleh:

Syafruddin Pernyata
Tokoh Literasi Kaltim

"Di balik setiap kebijakan besar, selalu ada cerita-cerita kecil yang membuatnya bernapas."

---

SUATU pagi saya berkunjung ke MTs Al Misra di Jalan Emboen Suryana, Kecamatan Sambutan, Samarinda. Letaknya cukup jauh dari pusat kota. Mayoritas siswanya berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana. Iuran sekolah hanya Rp75 ribu per bulan, tetapi masih banyak yang menunggak. Meski demikian, selama dua dekade berdiri, madrasah ini mampu mempertahankan tingkat kelulusan 100 persen.

Karena mengenal beberapa gurunya, saya ingin melihat secara langsung bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan di sana. Saya datang bukan untuk menilai keberhasilan program, melainkan sekadar mengamati bagaimana kebijakan itu hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Namun dari ruang makan sederhana itulah saya justru membawa pulang pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan makanan.

Jam istirahat baru saja dimulai ketika para siswa memasuki ruang makan. Mereka duduk rapi di depan nampan masing-masing yang telah berisi nasi putih, sepotong paha ayam goreng, dua potong tahu berbumbu, tumisan sawi putih, wortel dan jagung, serta sebiji pisang.

Menu itu memang sederhana, tetapi memenuhi prinsip gizi seimbang.

Sebelum satu pun sendok menyentuh nasi, seorang guru berdiri di depan kelas.

"Anak-anak, mari kita berdoa."

Ruangan yang semula riuh seketika menjadi hening. Puluhan anak menundukkan kepala. Seusai makan mereka kembali berdoa.

Saat itulah saya menyadari bahwa di sekolah ini, makan bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut. Makan adalah bagian dari pendidikan karakter. Anak-anak diajarkan bahwa setiap rezeki layak disyukuri.

Rasa penasaran kemudian membawa saya berbincang dengan Kepala MTs Al Misra, Langkane.

"Apakah makanan selalu habis?" tanya saya.

Beliau tersenyum.

"Selalu ada yang berlebih."

Awalnya saya mengira makanan itu tersisa karena anak-anak tidak menyukai menu yang disediakan. Dugaan saya ternyata keliru.

"Makanan disiapkan sesuai jumlah siswa. Tetapi setiap hari pasti ada yang sakit, izin, atau tidak masuk sekolah," jelasnya.

Beliau kemudian menambahkan, ada pula beberapa siswa yang memiliki pantangan terhadap makanan tertentu.

"Misalnya kalau menunya telur, ada anak yang memang sejak kecil tidak bisa memakannya."

Saya mengangguk. Angka-angka gizi memang dapat dihitung dengan mudah, tetapi kebiasaan makan setiap anak memiliki cerita yang berbeda.

"Lalu bagaimana dengan makanan yang tersisa?" tanya saya lagi.

Jawabannya membuat saya terdiam.

"Semua nampan harus kosong ketika petugas dapur MBG datang mengambilnya."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sarat makna.

Langkane menjelaskan bahwa makanan yang tidak termakan karena siswa berhalangan hadir tidak pernah dibiarkan terbuang. Makanan itu dibungkus dan dibagikan kepada warga yang membutuhkan.

Saat itulah saya merasa bahwa makanan telah berhenti menjadi sekadar program pemerintah. Ia berubah menjadi bentuk kepedulian.

Seporsi nasi yang tidak termakan di sekolah ternyata masih mampu menghadirkan kebahagiaan di rumah orang lain.

Seorang guru kemudian ikut menambahkan cerita.

"Nasi dan lauk hampir selalu habis. Yang sering tersisa justru buahnya."

"Mengapa?" tanya saya.

"Karena pisangnya sering masih mentah."

Alih-alih dibuang, pisang-pisang itu dikumpulkan, diperam selama dua hari, lalu dibagikan kembali setelah matang.

Saya tersenyum.

Pisang yang belum matang itu seolah mengajarkan satu pelajaran sederhana: tidak semua hal baik harus dinikmati hari ini. Ada yang memang memerlukan waktu sebelum memberikan manfaat terbaiknya.

Saya lalu bertanya tentang hal lain yang mungkin terdengar sepele.

"Apakah pernah ada sambal atau kecap dalam menu MBG?"

"Tidak pernah," jawab Langkane.

Padahal banyak siswa terbiasa makan dengan sambal atau kecap. Lalu bagaimana mengatasinya?

Para wali kelas membeli sambal dan kecap kemasan menggunakan uang kas kelas.

Bukan kebijakan besar. Bukan pula program resmi.

Hanya kepedulian sederhana agar anak-anak makan dengan lahap.

Saya pun mengajukan pertanyaan terakhir.

"Pernahkah menerima makanan yang basi?"

"Alhamdulillah, belum pernah," jawabnya mantap.

Beliau menjelaskan bahwa makanan dimasak sejak dini hari dan sudah diterima siswa sekitar pukul 10.10 saat jam istirahat.

Sambil tertawa beliau bercerita, pernah ada makanan yang terasa berlendir. Namun itu bukan makanan yang disantap siswa, melainkan sisa MBG yang baru dicicipi seorang guru setelah salat Asar.

Kami tertawa bersama.

Saya memahami maksudnya. Setiap makanan memiliki waktu terbaik untuk dinikmati.

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya terus kembali pada ruang makan sederhana itu.

Saya merasa tidak sedang menyaksikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Saya sedang menyaksikan pendidikan dalam bentuk yang paling nyata.

Pendidikan yang dimulai dengan doa.

Pendidikan yang mengajarkan agar makanan tidak dibuang.

Pendidikan yang menumbuhkan rasa syukur atas setiap rezeki.

Pendidikan yang menunjukkan bahwa persoalan kecil dapat diselesaikan melalui gotong royong.

Barangkali para guru di MTs Al Misra tidak pernah merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka hanya menjalankan rutinitas setiap hari.

Namun justru dari rutinitas itulah karakter dibentuk.

Mereka mengajarkan bahwa menghargai makanan sama pentingnya dengan menghargai ilmu. Bahwa rasa syukur tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.

Pada akhirnya saya memahami makna kalimat yang diucapkan Kepala Madrasah itu.

Semua nampan harus kosong.

Bukan semata-mata karena makanan harus habis.

Yang juga harus dikosongkan adalah kebiasaan menyia-nyiakan rezeki, sikap memilih-milih makanan, serta rasa tidak peduli terhadap sesama.

Sebab ketika semua nampan kembali dalam keadaan kosong, sesungguhnya sekolah itu sedang mengisinya dengan sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada makanan.

Mereka sedang mengisi anak-anak dengan karakter.

Dan boleh jadi, itulah bekal paling bergizi bagi masa depan bangsa. (***/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
MTs Al Misra Nampan MBG program Makan Bergizi Gratis syafruddin pernyata Mbg