Oleh:
Ahmad Aznem
Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Mulawarman
Dewan Promotor Disertasi:
Prof Dr Hasbi Sjamsir, M Hum (Promotor)
Dr Usfandi Haryaka, M Pd (Co-Promotor)
KALTIMPOST.ID-Sudah terlalu lama sekolah dipahami hanya sebagai ruang transfer pengetahuan. Fungsi utamanya dianggap sebatas menyampaikan kurikulum, mengejar capaian akademik, lalu mengukur keberhasilan melalui nilai rapor dan hasil ujian.
Cara pandang tersebut melahirkan persepsi bahwa dunia pendidikan berdiri sendiri, terpisah dari persoalan sosial, ekonomi, bahkan pangan yang dihadapi masyarakat.
Akibatnya, ketika sebuah daerah berhadapan dengan ancaman stunting, inflasi bahan pangan, hingga menurunnya ketahanan pangan keluarga, sekolah sering hanya menjadi penonton. Manajemen sekolah tersandera rutinitas administratif yang kaku.
Energi organisasi habis untuk memenuhi laporan, menyusun dokumen, dan menyelesaikan kewajiban birokrasi.
Sementara peluang menjadikan sekolah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat belum tergarap secara optimal.
Padahal, tantangan pembangunan saat ini menuntut sekolah memainkan peran yang jauh lebih luas.
Pendidikan tidak lagi cukup dipahami sebagai proses mencerdaskan kehidupan bangsa dalam ruang kelas, tetapi juga sebagai instrumen membangun ketahanan sosial masyarakat.
Di sinilah konsep Integrated Food Security School-Based Management (IFS-SBM) menawarkan perspektif baru.
Melalui pendekatan research and development, model ini berangkat dari gagasan sederhana namun mendasar, yakni memperluas makna manajemen berbasis sekolah (MBS).
Sekolah bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan simpul pembangunan masyarakat yang mampu berkontribusi terhadap ketahanan pangan keluarga.
Gagasan tersebut diterjemahkan melalui program Smart Tani Goes to School yang diimplementasikan di Kota Bontang.
Model ini mendekonstruksi pandangan lama bahwa sekolah hanya bertugas mengajar. Sebaliknya, sekolah diposisikan sebagai pusat perubahan perilaku, tempat lahirnya budaya hidup sehat, literasi pangan, serta kemandirian ekonomi keluarga.
Pekarangan sekolah tidak lagi dipandang sebagai ruang kosong, tetapi sebagai laboratorium pembelajaran yang menghasilkan manfaat ekologis, edukatif, sekaligus ekonomis.
Inti pembaruan model IFS-SBM terletak pada rekonstruksi empat fungsi manajemen klasik yang diperkenalkan George R Terry, yakni planning, organizing, actuating, dan controlling (POAC).
Selama ini, implementasi POAC di banyak sekolah cenderung administratif dan linear. Perencanaan bergantung pada ketersediaan anggaran, pengorganisasian terbatas pada struktur internal sekolah, pelaksanaan berorientasi kegiatan, sedangkan pengawasan berakhir pada penyusunan laporan.
IFS-SBM mengubah paradigma tersebut menjadi tata kelola yang aktif, ekologis, dan sirkular.
Pada aspek planning, sekolah didorong menyusun perencanaan yang lebih adaptif. Perencanaan tidak lagi menunggu alokasi anggaran pemerintah, tetapi membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha melalui program CSR maupun skema kemitraan lainnya.
Pendekatan ini memungkinkan pembangunan infrastruktur pertanian sekolah dilakukan tanpa membebani anggaran operasional pendidikan.
Aspek pembiayaan juga dipisahkan secara tegas antara capital expenditure (CapEx) untuk investasi awal dan operational expenditure (OpEx) untuk kebutuhan operasional harian.
Pemisahan tersebut membuat pengelolaan keuangan menjadi lebih terukur sekaligus menjaga keberlanjutan program.
Transformasi juga terjadi pada fungsi Organizing. Model ini memperluas ruang kolaborasi melalui konsep School-Community Nexus.
Sekolah tidak lagi bekerja sendiri, melainkan membangun jejaring bersama kepala sekolah, guru, wali kelas, paguyuban orang tua, kelompok wanita tani (KWT), hingga penyuluh pertanian lapangan (PPL). Seluruh unsur tersebut bergerak dalam satu sistem koordinasi yang saling menguatkan.
Kolaborasi itu menjadi fondasi penting karena persoalan ketahanan pangan tidak mungkin diselesaikan oleh sekolah sendirian.
Ia membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, pemerintah, dan komunitas lokal. Sekolah hanya menjadi simpul yang menyatukan seluruh potensi tersebut menjadi gerakan bersama.
Perubahan paling nyata terlihat pada fungsi actuating atau pelaksanaan. Model ini merespons dinamika kebijakan nasional, khususnya program makan bergizi gratis (MBG), dengan memilih teknologi yang lebih sederhana dan mudah diterapkan.
Hidroponik presisi berbasis nutrisi AB-Mix dipilih karena lebih praktis, higienis, ramah lingkungan, serta tidak bergantung pada pengolahan tanah yang rumit.
Pendekatan tersebut membuat kegiatan bercocok tanam menjadi lebih efisien, bersih, dan aman bagi anak-anak. Penggunaan pestisida nabati juga memperkuat orientasi pertanian sehat yang bebas residu kimia.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya mengajarkan teori tentang lingkungan, tetapi juga menghadirkan praktik nyata yang dapat ditiru siswa bersama keluarganya di rumah.
EKOSISTEM KETAHANAN PANGAN
Rekonstruksi POAC dalam model IFS-SBM tidak berhenti pada tahap perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan.
Perubahan mendasar justru tampak pada fungsi Controlling. Dalam praktik manajemen konvensional, pengawasan identik dengan laporan berkala, evaluasi administrasi, atau pemenuhan indikator formal.
Model itu menawarkan pendekatan berbeda. Pengawasan dilakukan secara berkelanjutan melalui indikator biologis tanaman, pencatatan nutrisi digital, hingga pengukuran keberlanjutan ekonomi program.
Konsep tersebut menghadirkan mekanisme ekonomi sirkular di lingkungan sekolah. Hasil panen hidroponik tidak berhenti sebagai media praktik pembelajaran, melainkan dipasarkan melalui skema captive market internal.
Guru, tenaga kependidikan, dan orangtua menjadi pasar pertama yang menyerap hasil panen karena memperoleh sayuran segar yang diproduksi secara higienis dan bebas residu pestisida kimia.
Pendapatan dari penjualan itu kemudian diputar kembali sebagai biaya operasional musim tanam berikutnya.
Siklus tersebut menciptakan sistem yang relatif mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada dana bantuan operasional sekolah (BOS).
Analisis kelayakan usaha menunjukkan nilai R/C ratio sebesar 1,2, yang berarti kegiatan budidaya layak dijalankan secara ekonomi.
Temuan itu menjadi penting karena memperlihatkan bahwa kebun sekolah tidak hanya memiliki nilai edukatif, tetapi juga mengandung unsur kewirausahaan, literasi ekonomi, dan pembelajaran pengelolaan usaha sederhana bagi peserta didik.
Kekuatan model IFS-SBM sesungguhnya bukan hanya pada aspek teknis pertanian. Fondasi utamanya berada pada konvergensi berbagai disiplin ilmu yang saling melengkapi sehingga menjadikan sekolah sebagai ruang pembelajaran yang lebih utuh.
Pilar pertama adalah dimensi edukatif yang mengadopsi pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas mengenai konsep ta'dib.
Pertanian sekolah dipandang sebagai sarana membangun adab ekologis. Anak-anak tidak hanya diajarkan cara menanam, tetapi juga memahami hubungan manusia dengan alam sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual.
Pilar kedua berasal dari pendekatan neurosains dan Attention Restoration Theory. Aktivitas berkebun dipercaya mampu merangsang pelepasan hormon positif seperti dopamin dan serotonin yang membantu menurunkan tingkat stres.
Kondisi psikologis yang lebih rileks diyakini membuat siswa lebih siap menerima pembelajaran ketika kembali ke ruang kelas.
Dengan kata lain, kebun sekolah bukan sekadar ruang produksi pangan, tetapi juga ruang pemulihan psikologis yang mendukung proses belajar.
Baca Juga: Korps HMI-Wati Balikpapan Gelar Kampanye Edukasi Isu LGBT dengan Membagikan Brosur kepada Masyarakat
Selanjutnya, model ini mengadopsi teori Need for Achievement (n-Ach) dari David McClelland.
Hidroponik menghadirkan hasil yang relatif cepat dan mudah diamati. Proses tersebut membangun rasa percaya diri sekaligus motivasi berprestasi pada anak.
Mereka belajar bahwa keberhasilan merupakan hasil dari proses yang terencana, disiplin, dan terukur.
Secara tidak langsung, pendekatan ini juga berupaya menghapus stigma lama yang memandang sektor pertanian sebagai pekerjaan yang kurang menarik bagi generasi muda.
Dimensi berikutnya adalah aspek informatif yang mengacu pada teori konstruksi sosial pengetahuan. Kebun sekolah menghasilkan berbagai data pertumbuhan tanaman, produktivitas, hingga konsumsi pangan keluarga.
Data tersebut menjadi sumber pembelajaran lintas mata pelajaran sekaligus dapat dimanfaatkan guru sebagai bahan penelitian tindakan kelas untuk mendukung pengembangan profesionalisme mereka.
Sementara itu, pada aspek inovatif, model ini menggabungkan gagasan Paulo Freire tentang Problem-Posing Education dengan konsep transformative learning dari Jack Mezirow.
Pendidikan tidak lagi berhenti pada penyampaian materi, melainkan mengajak siswa membaca persoalan nyata di lingkungan mereka.
Kebun sekolah menjadi media untuk memahami isu gizi, ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga pemberdayaan masyarakat.
Keunggulan model tersebut kemudian diuji melalui pendekatan Research and Development Borg & Gall.
Hasil validasi menunjukkan tingkat kevalidan konten mencapai 92,8 persen, validitas konstruk 90 persen, dan tingkat kepraktisan 91,7 persen.
Angka-angka tersebut memberikan dasar akademik bahwa model layak diterapkan dalam konteks pendidikan dasar.
Lebih penting lagi, model ini telah diuji di tiga sekolah dasar dengan karakter geografis yang berbeda di Bontang.
Pada kawasan urban padat seperti SDN 009 Bontang Utara, keterbatasan lahan disiasati melalui pertanian vertikal dan budidaya microgreens.
Di wilayah pesisir SD 005 Berbas Pantai, tantangan salinitas dan banjir rob direspons dengan teknologi akuaponik apung berbasis kolam terpal.
Sementara di SD 002 Bontang Barat yang memiliki lahan lebih luas, sekolah mengembangkan pembibitan tanaman hortikultura dan tanaman obat sebagai cikal bakal pusat pembenihan bagi sekolah lain.
Perbedaan karakter wilayah tersebut menunjukkan satu hal penting: model IFS-SBM tidak menawarkan pendekatan yang seragam.
Sebaliknya, ia dirancang adaptif terhadap kondisi lokal. Fleksibilitas inilah yang membuat konsep tersebut memiliki peluang untuk direplikasi di berbagai daerah, baik kawasan perkotaan, pesisir, maupun pedalaman, tanpa kehilangan substansi utamanya sebagai penguat ketahanan pangan berbasis sekolah.
MASA DEPAN PENDIDIKAN
Di balik seluruh temuan tersebut, ada satu pesan yang patut dicermati. Persoalan ketahanan pangan tidak bisa lagi dipandang semata sebagai urusan sektor pertanian.
Demikian pula isu stunting tidak cukup diselesaikan hanya melalui intervensi kesehatan.
Keduanya merupakan persoalan lintas sektor yang membutuhkan keterlibatan dunia pendidikan sebagai bagian dari solusi.
Dalam konteks itu, model integrated food security school-based management (IFS-SBM) menawarkan cara pandang baru.
Sekolah tidak lagi menjadi institusi yang bekerja sendiri di balik pagar, tetapi berkembang menjadi simpul kolaborasi antara keluarga, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.
Manajemen sekolah tidak berhenti pada pengelolaan administrasi, melainkan bergerak menuju tata kelola yang mampu menghasilkan dampak sosial, ekonomi, dan ekologis secara bersamaan.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika pemerintah menjalankan program makan bergizi gratis (MBG).
Program berskala nasional itu memerlukan ekosistem pendukung agar tidak berhenti pada distribusi makanan, tetapi juga mampu membangun budaya pangan sehat di lingkungan masyarakat.
Dalam perspektif itu, sekolah memiliki posisi strategis karena menjadi tempat pembentukan kebiasaan sekaligus perubahan perilaku generasi muda.
Melalui kebun sekolah, peserta didik tidak hanya belajar menanam sayuran. Mereka memahami asal-usul pangan, mengenal pentingnya gizi, mempelajari pengelolaan lingkungan, sekaligus memahami nilai ekonomi dari setiap proses produksi.
Pembelajaran menjadi kontekstual karena berangkat dari persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, orang tua juga ikut terlibat. Kegiatan sekolah tidak berhenti ketika bel pulang berbunyi, melainkan berlanjut ke rumah melalui praktik budidaya tanaman pangan di pekarangan.
Pola seperti inilah yang memperkuat konsep School-Community Nexus, yakni hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat dalam membangun ketahanan pangan keluarga.
Keunggulan model ini juga terletak pada keberlanjutannya. Banyak program sekolah berhenti ketika bantuan pemerintah berakhir atau pergantian kepala sekolah terjadi.
Sebaliknya, IFS-SBM dirancang membangun mekanisme ekonomi yang berputar. Hasil panen menjadi sumber pembiayaan operasional berikutnya melalui sistem captive market internal.
Dengan demikian, keberlangsungan program tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal.
Tentu saja, setiap inovasi memiliki tantangan. Replikasi model ini di berbagai daerah memerlukan kesiapan sumber daya manusia, dukungan pemerintah daerah, komitmen kepala sekolah, serta kemitraan dengan berbagai pihak.
Namun, pengalaman di Bontang menunjukkan bahwa tantangan tersebut dapat diatasi melalui tata kelola yang kolaboratif dan adaptif terhadap karakter wilayah masing-masing.
Di sinilah pentingnya pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan melihat hasil riset bukan sekadar sebagai dokumen akademik, melainkan sebagai alternatif kebijakan.
Model IFS-SBM dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum operasional satuan pendidikan tanpa mengubah substansi pembelajaran nasional.
Yang berubah adalah cara sekolah memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk menjawab persoalan nyata di sekitarnya.
Baca Juga: BRI KKB Expo: Mendekatkan Akses Pembiayaan Kendaraan hingga ke Pelosok Negeri
Lebih jauh lagi, pendekatan ini memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu identik dengan digitalisasi, kecerdasan buatan, atau perangkat teknologi yang mahal.
Inovasi juga dapat lahir dari tata kelola yang tepat, kolaborasi antarpemangku kepentingan, dan keberanian mengubah cara berpikir.
Gagasan tersebut mengingatkan pada pemikiran ahli pertanian Jepang, Masanobu Fukuoka, melalui karya monumentalnya The One-Straw Revolution.
Fukuoka menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit atau investasi berskala raksasa.
Sebaliknya, perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana, bahkan sering diabaikan.
Semangat itulah yang menemukan konteks barunya di Bontang. Jika Fukuoka menjadikan sebatang jerami sebagai simbol perubahan, maka riset IFS-SBM menghadirkan “Revolusi Selembar Polybag” sebagai metafora baru dalam dunia pendidikan.
Polybag atau instalasi hidroponik di sudut sekolah mungkin tampak sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan fungsi yang jauh lebih besar: menjadi ruang belajar, laboratorium kewirausahaan, media pendidikan karakter, pusat literasi lingkungan, sekaligus simpul ketahanan pangan keluarga.
Dalam perspektif neurosains, aktivitas berkebun membantu perkembangan kemampuan motorik dan konsentrasi belajar anak.
Dari sisi sosial, kegiatan tersebut memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga. Dari sudut pandang ekonomi, hasil panen menciptakan siklus pembiayaan mandiri.
Sedangkan dari sisi manajemen, model ini membuktikan bahwa fungsi POAC dapat direkonstruksi menjadi sistem yang lebih dinamis, adaptif, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sekolah tidak semestinya hanya ditentukan oleh angka kelulusan, nilai asesmen nasional, atau deretan prestasi akademik.
Sekolah juga perlu diukur dari kemampuannya membangun karakter, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan melahirkan solusi atas persoalan di lingkungannya.
Itulah pesan utama dari model IFS-SBM. Pendidikan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ia harus hadir di dapur keluarga, di pekarangan rumah, di kebun sekolah, hingga menjadi bagian dari upaya bersama menjaga ketahanan pangan bangsa.
Perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari proyek bernilai triliunan rupiah. Kadang, ia lahir dari sebuah keputusan sederhana untuk menanam benih di halaman sekolah.
Dari selembar polybag, sebuah budaya baru dapat tumbuh. Dari kebun kecil, lahir kesadaran kolektif bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan fondasi pembangunan sosial yang menentukan kualitas generasi masa depan. (rd)
Editor : Romdani.