Yamal Tak Sefenomenal Mbappe

Romdani. • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 08:03 WIB
Pemimpin Redaksi Kaltim Post Romdani
Pemimpin Redaksi Kaltim Post Romdani

Romdani

Pemimpin Redaksi

 

KALTIMPOST.ID-Minggu (19/7) dini hari hingga pagi, saya ikut menyaksikan final Piala Dunia 2026. Spanyol akhirnya mengangkat trofi setelah mengalahkan Argentina.

Selebrasi para pemain pecah. Lamine Yamal berlari memeluk rekan-rekannya. Wajahnya tampak lega. Di usia 19 tahun, ia sudah menjadi juara dunia.

Beberapa jam setelah pertandingan usai, linimasa media sosial dipenuhi ucapan selamat. Banyak yang menyebut Yamal telah menyamai pencapaian Kylian Mbappe. Sama-sama berusia 19 tahun. Sama-sama mengangkat trofi Piala Dunia untuk negaranya.

Baca Juga: Pengembangan Green School di SMK Istiqomah Muhammadiyah 4 Samarinda: Membangun Kepedulian Lingkungan melalui Aksi Nyata

Sekilas memang demikian. Namun, semakin lama saya memikirkan perbandingan itu, semakin terasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan soal kualitas pemainnya. Melainkan tentang bagaimana sejarah akhirnya mengingat mereka.

Yamal adalah juara dunia. Tidak ada yang bisa membantah itu. Tetapi saya belum melihat aura fenomena yang pernah dimiliki Mbappe pada Piala Dunia 2018.

Barangkali sebagian orang tidak sependapat. Sebab Yamal memang tampil luar biasa. Dribelnya sulit dihentikan.

Umpan-umpannya membuka ruang. Keputusan yang ia ambil di lapangan sering kali jauh lebih matang dibanding usianya. 

Pelatih Barcelona Hansi Flick bahkan pernah mengatakan bahwa orang terlalu terpaku pada jumlah gol Yamal. Padahal kontribusinya jauh lebih besar karena mampu menciptakan begitu banyak peluang bagi tim.

Pendapat itu tidak keliru. Pelatih Timnas Spanyol Luis de la Fuente juga berulang meminta publik tidak membebani pemain mudanya.

Baca Juga: Warga Berau Diserang Buaya Saat Bersihkan Kapal di Sungai Tabalar Muara, Korban Alami Luka Serius

Bahkan sebelum semifinal melawan Prancis, ia mengatakan hari besar Yamal di Piala Dunia masih akan datang. Kalimat itu menarik.

Sebab yang mengucapkannya bukan pengamat. Melainkan pelatih yang setiap hari melihat perkembangan pemain tersebut.

Artinya, bahkan orang yang paling memahami kemampuan Yamal pun merasa cerita besarnya belum selesai. Saya justru melihat perbedaan itu berada pada cara keduanya membawa tim masing-masing menuju gelar juara.

Prancis pada 2018 memiliki banyak pemain hebat. Ada Antoine Griezmann, Paul Pogba, N'Golo Kanté, hingga Raphael Varane.

Namun ketika orang mengingat Piala Dunia di Rusia, ingatan itu hampir selalu berhenti pada satu nama. Kylian Mbappe.

Sulit melupakan sprint panjangnya saat menghadapi Argentina. Sulit melupakan dua golnya ke gawang Albiceleste.

Sulit pula melupakan gol yang ia cetak pada partai final. Empat gol yang ia bukukan sepanjang turnamen bukan sekadar statistik. Semua lahir pada momen-momen yang membentuk cerita besar sebuah Piala Dunia.

Sebaliknya, Spanyol 2026 justru terasa berbeda. La Roja tampil sebagai tim yang sangat kolektif. Penguasaan bola mereka begitu dominan.

Lini tengah bekerja nyaris sempurna. Rodri mengendalikan tempo. Pertahanan tampil disiplin. Bahkan pada laga final, gol kemenangan justru lahir dari Ferran Torres. Sementara penghargaan pemain terbaik turnamen menjadi milik Rodri.

Baca Juga: DPRD dan Pemkab Berau Sepakati Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Berau Pertahankan Opini WTP ke-9 Berturut-turut

Yamal memang menjadi bagian penting dari mesin itu. Namun ia bukan satu-satunya poros yang membuat Spanyol menjadi juara.

Mungkin di situlah letak perbedaannya. Sepak bola sering kali tidak hanya mengingat siapa yang juara. Sepak bola lebih sering mengingat siapa yang menciptakan momen.

Karena itulah saya memahami mengapa Simone Inzaghi pernah menyebut Yamal sebagai fenomena yang lahir sekali dalam 50 tahun. Pernyataan itu menggambarkan betapa besarnya bakat yang dimiliki pemain muda Spanyol tersebut.

Secara teknik, visi bermain, hingga keberanian mengambil keputusan, Yamal memang berada di level yang sangat langka.

Namun menjadi pemain bertalenta luar biasa ternyata belum tentu identik dengan menjadi fenomena sebuah Piala Dunia.

Fenomena lahir ketika kualitas individu bertemu dengan panggung yang tepat. Mbappe mendapatkan keduanya di Rusia delapan tahun lalu.

Setiap aksinya seperti memiliki nilai dramatik. Setiap golnya memperkuat narasi bahwa dunia sedang menyaksikan kelahiran superstar baru. Bahkan mereka yang bukan pendukung Prancis pun sulit mengalihkan perhatian dari pemain muda itu.

Yamal belum sampai ke titik tersebut. Bukan karena kemampuannya lebih rendah. Saya justru percaya ia mungkin memiliki kecerdasan bermain yang lebih komplet dibanding Mbappe pada usia yang sama.

Tetapi karakter sepak bolanya berbeda. Ia lebih sering menjadi arsitek dibanding algojo. Ia membangun serangan, membuka ruang, menghidupkan ritme permainan, lalu membiarkan orang lain menyelesaikan pekerjaannya.

Baca Juga: Konsistensi 4 Tahun PT Cotrans Asia Hijaukan Pesisir Paser lewat Program CAMP

Peran seperti itu sering lebih sulit dikenang publik. Barangkali itulah ironi sepak bola modern. Seorang pemain bisa tampil luar biasa sepanjang turnamen. Membawa negaranya menjadi juara dunia.

Bahkan dipuji para pelatih elite dunia. Tetapi tetap kalah mencolok dibanding pemain lain yang berhasil menciptakan beberapa momen ikonik.

Saya yakin perjalanan Yamal masih sangat panjang. Usianya baru 19 tahun. Luis de la Fuente mungkin benar. Hari terbesar Yamal di Piala Dunia barangkali memang belum datang.

Namun untuk saat ini, sejarah tampaknya masih memberi ruang yang berbeda bagi dua anak muda tersebut. Mereka sama-sama mengangkat trofi pada usia yang sama.

Tetapi jika Mbappe dikenang sebagai wajah Piala Dunia 2018. Yamal lebih pantas dikenang sebagai bagian terpenting dari sebuah Spanyol yang bermain nyaris sempurna secara kolektif. 

Itulah perbedaan kecil yang membuat keduanya sama-sama hebat. Tetapi tidak dikenang dengan cara yang sama. (rd)

Editor : Romdani.
piala dunia 2026 lamine yamal kylan mbappe timnas spanyol timnas prancis