Mencari Teladan, Menemukan Jalan

Muhammad Aufal Fresky • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 18:26 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

KALTIMPOST.ID, Menarik sekali membaca tulisan Prof. Akh. Muzakki berjudul “Sukses Butuh Sanad Perjuangan” yang dipublikasikan di laman uinsa.ac.id. Sebuah catatan yang “bergizi”, penuh wawasan, dan membangkitkan gairah perjuangan. Setidaknya, begitulah yang saya rasakan manakala menikmati artikel itu.

Guru Besar UIN Sunan Ampel tersebut menegaskan bahwa untuk meraih kesuksesan hidup, kita bisa belajar kepada orang-orang yang telah lebih dahulu sukses, baik yang masih hidup di tengah-tengah kita maupun yang telah mendahului kita.

Saya pribadi melihat bahwa Muzakki hendak menjelaskan kepada pembaca bahwa untuk meniti jalan kesuksesan, setiap dari kita perlu menimba ilmu, pengetahuan, wawasan, dan kebijaksanaan hidup kepada orang-orang yang telah teruji spirit perjuangan, pengorbanan, pengabdian, dan dedikasinya selama hidup. Sukses membutuhkan sanad perjuangan, yang bisa dimaknai sebagai silsilah ruhaniyah atau spiritual linkage, yakni keterikatan spiritual.

Tulisan Muzakki yang cukup mencerahkan itu menjadi inspirasi tersendiri bagi saya untuk menuliskan catatan ini. Dalam hidup, kita bisa memetik hikmah dari perjalanan seseorang yang kontribusinya untuk agama, nusa, dan bangsa tidak perlu diragukan lagi.

Seperti yang telah dikemukakan Muzakki, mengambil spirit perjuangan tokoh di masa silam begitu penting untuk melangsungkan langkah perjuangan kita pada masa sekarang. Kita juga dapat mempelajari atau meniru strategi perjuangan mereka, sekaligus menghidupkan obor perjuangan para tokoh tersebut.

Baca Juga: Menjaga Profesionalisme ASN di Tengah Keterbatasan Anggaran

Dengan begitu, kita, khususnya kaum muda, tidak kehilangan arah dan tidak gampang terombang-ambing oleh keadaan. Sebab, kita telah memiliki panutan yang jelas untuk diteladani sifat, sikap, dan kepribadiannya. Kita juga telah mempunyai sosok-sosok inspiratif yang tutur kata dan perbuatannya bisa kita jadikan rujukan.

Mereka menjadi “kompas” dan “pelita” dalam setiap jejak langkah kita. Dengan memiliki tokoh rujukan yang bisa dijadikan panutan hidup, secara tidak langsung kita sedang meneladani laku hidupnya, termasuk arah perjuangannya. Hal tersebut menghindarkan kita dari pengaruh orang-orang yang wataknya belum teruji.

Di Indonesia, banyak sekali tokoh, baik yang masih hidup maupun telah wafat, yang bisa kita teladani spirit perjuangannya. Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Bung Karno, Bung Hatta, Hamka, Haji Agus Salim, Mohammad Natsir, Tan Malaka, R.A. Kartini, dan sebagainya.

Banyak pahlawan bangsa yang namanya tercatat dalam lembaran sejarah ataupun yang tidak sempat tercatat, tetapi jasa-jasanya begitu besar dalam mengusir para penjajah dari bumi Ibu Pertiwi. Semangat dan konsistensi mereka dalam membela kepentingan rakyat begitu tinggi. Sebagian ada yang dipenjara bertahun-tahun, diintimidasi, dan bahkan diasingkan ke pulau terpencil.

Namun, sekali lagi, api perjuangan dalam jiwa mereka terus menyala, sama sekali tidak meredup. Justru semangat mereka semakin menggelora dalam melawan kolonialisme dan imperialisme yang bercokol selama ratusan tahun di negeri ini.

Dari tokoh-tokoh di masa silam itu, generasi sekarang bisa berkaca bahwa ternyata dalam hidup, tidak ada yang instan untuk mendapatkan kesuksesan. Kesuksesan yang dimaksud bukan melulu berbicara tentang jabatan, kekayaan, dan segala pernak-pernik duniawi yang berhasil digenggam.

Sebab, takhta dan harta tanpa iman yang kokoh dan ilmu yang memadai berpotensi mengarahkan pemiliknya ke lembah kehinaan dan kehancuran. Sukses yang saya maksud dalam catatan ini adalah sukses di dunia dan akhirat, yaitu ketika kita hidup di tengah masyarakat dan mampu memberikan manfaat. Entah itu melalui tenaga, ilmu, ide, harta, dan sebagainya. Jadi, menjadi orang yang kaya ilmu, kaya hati, dan kaya amal, begitulah kira-kira.

Ilmu, harta, dan jabatan yang tidak digunakan untuk jalan kebaikan bisa membuat pikiran dan hati semakin terkungkung dalam kegelisahan demi kegelisahan yang tak berkesudahan. Buktinya, banyak orang yang berada di puncak popularitas dan jabatan, dengan segudang kekayaan duniawi, tetapi justru tidak menemukan ketenangan hidup.

Dan mirisnya lagi, ada yang memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kenyataan tersebut mengingatkan kita bahwa kemasyhuran dan materi yang dimiliki seseorang bukan ukuran kesuksesan, apalagi kebahagiaan hidup.

Baca Juga: Kidulting dan Paradoks Kedewasaan Kita

Dengan begitu, semakin teranglah benang merah catatan ini: dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh gelombang, kita membutuhkan sanad perjuangan. Kita perlu mencari, memilah, dan memilih sosok-sosok panutan yang hendak kita jadikan patokan dalam hidup kita. Mereka yang perangainya penuh kemuliaan dan hidupnya penuh kebermanfaatan patut dijadikan contoh. Mereka yang jasa-jasanya untuk umat begitu besar pantas kita jadikan sumber inspirasi.

Terutama kita selaku generasi muda yang akan mewarisi estafet perjuangan dan mengisi pos-pos kepemimpinan bangsa di berbagai sektor, penting sekali untuk menimba kebijaksanaan hidup kepada para tetua, leluhur, atau orang-orang di sekitar kita yang perkataan dan perilakunya selaras.

Dari beberapa uraian singkat di atas, kita dapat menarik benang merah bahwa untuk menaiki tangga kesuksesan, kita perlu selalu menjadi pembelajar sepanjang hayat. Termasuk belajar dari tokoh-tokoh atau orang-orang yang telah memakan asam garam kehidupan. Tokoh-tokoh yang hidupnya diwakafkan untuk masyarakat. Tokoh-tokoh yang kesehariannya dihabiskan untuk sesuatu yang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, berinvestasi untuk kehidupan jangka panjang, yakni kehidupan di alam akhirat kelak.

Rasa-rasanya, konsep kesuksesan yang ada dalam alam pikiran kita selama ini perlu dibedah dan diperbaiki lagi. Jangan-jangan ukuran atau indikatornya sebatas urusan perut dan jabatan. Atau hanya perkara aset dan omzet kekayaan. Jika begitu adanya, mungkin kita belum memiliki tokoh rujukan yang pas. Atau barangkali orang yang kita rujuk tidak mampu membakar spirit pengabdian dalam diri kita.

Menutup catatan ini, perlu dipertegas kembali bahwa yang perlu kita cari dalam hidup bukan sebatas jalan menuju kesuksesan, melainkan teladan yang menunjukkan bagaimana jalan itu seharusnya ditempuh. Karena tidak semua orang yang sampai di titik puncak itu pantas dijadikan role model dalam hidup. (*)

Editor : Almasrifah
UIN Sunan Ampel panutan hidup role model perjuangan Teladan