Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
DI tengah tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang didominasi sepeda motor, hadirnya Program Motor Listrik Nasional (Molinas) membawa harapan bagi transformasi industri otomotif sekaligus transisi energi di Indonesia. Namun, program ini juga perlu dilihat secara kritis agar elektrifikasi kendaraan tidak justru memperbesar persoalan kemacetan dan keselamatan jalan.
Presiden Prabowo Subianto meluncurkan motor listrik nasional beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemandirian teknologi, ketahanan energi, serta menyediakan sarana mobilitas yang terjangkau bagi masyarakat.
Langkah ini patut diapresiasi. Namun, keberhasilan Molinas tidak cukup diukur dari jumlah motor yang terjual. Yang lebih penting adalah kemampuannya memperkuat industri nasional, mendorong transisi energi, sekaligus tidak menambah beban kemacetan dan risiko kecelakaan.
Keselamatan Jalan Tetap Menjadi Persoalan
Krisis keselamatan jalan masih membayangi Indonesia. Sepanjang 2025, Korlantas Polri dan Road Safety Association (RSA) mencatat 212.414 unit sepeda motor terlibat kecelakaan lalu lintas.
Sepeda motor menguasai lebih dari 80 persen populasi kendaraan terdaftar di Indonesia dan menyumbang sekitar 70–75 persen kasus kecelakaan lalu lintas nasional. Pada 2025, jumlah kecelakaan berada pada kisaran 141.608 hingga 158.508 kejadian, dengan korban meninggal mencapai 24.296 orang.
Kelompok usia muda menjadi salah satu yang paling rentan. Sekitar 35–40 persen korban berusia 15–24 tahun dan 30–35 persen berusia 25–49 tahun. Temuan ini sejalan dengan data WHO yang menempatkan kecelakaan jalan raya sebagai penyebab kematian nomor satu bagi kelompok usia 5–29 tahun.
Karena itu, elektrifikasi kendaraan tidak boleh dipisahkan dari agenda keselamatan. Motor listrik memang tidak menghasilkan emisi knalpot seperti motor berbahan bakar fosil, tetapi tetap membutuhkan ruang jalan dan tetap memiliki risiko kecelakaan.
Tantangan Industri Nasional
Tantangan pertama Molinas adalah daya saing harga. Produk asal Tiongkok memiliki keunggulan rantai pasok global dan skala produksi (economies of scale) yang membuat harganya sangat kompetitif.
Molinas menghadapi pertarungan antara industri yang masih tumbuh (infant industry) dengan raksasa manufaktur global. Tiongkok saat ini menguasai lebih dari 70 persen rantai pasok kendaraan listrik dunia.
Namun, Indonesia memiliki peluang. Pengembangan desain dan manufaktur oleh insinyur dalam negeri memungkinkan produk nasional disesuaikan dengan kondisi geografis dan daya beli masyarakat. Jika insentif kendaraan nasional diterapkan secara optimal, biaya operasional motor listrik dapat menjadi keunggulan untuk bersaing di segmen menengah-bawah.
Persaingan juga tidak berhenti pada kendaraan. Ekosistem baterai, stasiun pengisian atau penukaran baterai, komponen utama, hingga layanan purna jual menentukan keberhasilan industri. Karena itu, penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), terutama lokalisasi baterai dan komponen inti, harus menjadi prioritas.
Jaringan servis dan kepastian suku cadang juga penting untuk membangun kepercayaan konsumen. Di sinilah merek nasional memiliki peluang menciptakan keunggulan melalui layanan purna jual yang kuat dan berjangka panjang.
Jangan Semua Motor Masuk Kota
Persoalan berikutnya adalah distribusi.
Sekitar 75–80 persen kendaraan di wilayah perkotaan masih berupa sepeda motor. Pada saat kota-kota Indonesia sedang membenahi transportasi umum untuk mengatasi kemacetan, pemberian insentif motor listrik berpotensi meningkatkan jumlah kendaraan pribadi.
Jika masyarakat membeli motor listrik sebagai kendaraan tambahan, bukan menggantikan kendaraan lama atau beralih ke angkutan umum, kepadatan lalu lintas justru akan meningkat.
Karena itu, distribusi Molinas perlu diarahkan secara bijak. Pasar tidak harus terkonsentrasi di kota-kota besar Pulau Jawa. Wilayah perdesaan, pulau-pulau kecil, daerah perbatasan, serta kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) justru dapat menjadi pasar strategis.
Wilayah penghasil mineral dan pusat operasional industri di luar Jawa, seperti Morowali, Konawe, Halmahera, Luwu Timur, Kalimantan, Papua hingga Aceh, memiliki potensi karena efisiensi biaya operasional motor listrik dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, telah memberi contoh. Sejak 2007, wilayah tersebut menggunakan kendaraan bermotor listrik karena menghadapi persoalan distribusi BBM. Pengalaman ini menunjukkan bahwa motor listrik dapat menjadi solusi mobilitas di daerah yang biaya distribusi energinya tinggi.
Insentif Harus Membangun Industri
Insentif pemerintah merupakan faktor penting agar Molinas mampu bersaing dengan produk global dan mendorong migrasi masyarakat dari motor bensin.
Namun, insentif tidak boleh sekadar menjadi diskon pembelian. Kebijakan tersebut harus diarahkan untuk menurunkan biaya produksi, memperkuat riset, meningkatkan TKDN, membangun industri baterai, memperluas infrastruktur pengisian atau penukaran baterai, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Proteksi terhadap industri nasional juga harus bersifat terarah. Tujuannya bukan menciptakan ketergantungan terhadap subsidi, melainkan memberi waktu bagi industri dalam negeri untuk tumbuh hingga mampu bersaing secara mandiri.
Jika dikelola dengan baik, Molinas berpotensi menjadi titik balik industri otomotif Indonesia: mengubah Indonesia dari pasar konsumen menjadi produsen sekaligus mengurangi dominasi produk impor.
Jangan Menukar Emisi dengan Kemacetan
Namun, elektrifikasi kendaraan bukan solusi tunggal persoalan transportasi.
Motor listrik memang mengurangi emisi langsung dari kendaraan, tetapi tidak mengurangi jumlah kendaraan di jalan. Jika pertumbuhan motor listrik hanya menggantikan motor bensin tanpa mengubah pola mobilitas, persoalan kemacetan tetap ada.
Karena itu, solusi utama kemacetan perkotaan tetap bertumpu pada penguatan dan elektrifikasi transportasi umum massal. Jangan sampai masyarakat didorong meninggalkan motor bensin, tetapi kemudian membeli motor listrik untuk perjalanan yang sebenarnya dapat dilayani angkutan umum.
Indonesia membutuhkan sistem transportasi yang aman, terjangkau, efisien, dan berkelanjutan.
Motor Listrik Nasional dapat menjadi bagian penting dari perubahan tersebut. Tetapi keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak unit yang terjual.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah Molinas mampu membangun industri nasional, mempercepat transisi energi, meningkatkan akses mobilitas, sekaligus menjaga keselamatan dan tidak memperparah kemacetan?
Elektrifikasi kendaraan adalah langkah menuju transisi energi. Namun, keselamatan jalan, pengendalian kendaraan pribadi, penguatan transportasi umum, dan pembangunan industri nasional harus berjalan dalam satu kebijakan yang terintegrasi.
Editor : Muhammad Ridhuan