Menjaga Tradisi, Membaca Zaman: Menatap Kaderisasi NU di Abad Kedua

Ari Arief • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:57 WIB
Zamzam Nor Fathur Rahman
Zamzam Nor Fathur Rahman

 

Oleh: Zamzam Nor Fathur Rahman 

Ketua PC PMII Penajam Paser Utara

Pada 26–30 Agustus 2026, saya berkesempatan hadir dan melihat secara langsung bagaimana proses Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) berlangsung di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jatim.

Banyak hal yang saya lihat selama di sana. Ada dinamika organisasi, gagasan, perdebatan, konsolidasi, hingga pembicaraan tentang bagaimana NU akan berjalan ke depan. Namun, dari semua itu, saya mencoba melihat Muktamar ini dari sisi yang berbeda.

Bagi saya, Muktamar ke-35 bukan hanya soal siapa yang nantinya memimpin NU atau bagaimana struktur kepengurusan ke depan. Ada satu hal yang justru terus kepikiran setelah melihat prosesnya: Bagaimana NU menghadapi tantangan di abad keduanya, terutama soal kaderisasi dan regenerasi?

Menurut saya, ini bukan persoalan kecil.

Hari ini, NU sedang berada dalam satu fase yang cukup menarik sekaligus berat. Di dalam tubuh NU, kita melihat Generasi X, Generasi Milenial, dan Generasi Z berada dalam satu ruang organisasi yang sama—tiga generasi yang tumbuh dengan kondisi berbeda.

Generasi X tumbuh dengan kultur organisasi yang kuat. Banyak hal dipelajari lewat pengalaman, pertemuan langsung, diskusi, dan proses panjang.

Kemudian ada Generasi Milenial. Mereka berada di tengah masa perubahan—masih merasakan dunia sebelum serba digital, tetapi juga menjadi kelompok yang membawa banyak hal masuk ke era digital.

Lalu sekarang ada Generasi Z—generasi yang sejak kecil sudah berhadapan dengan internet, media sosial, serta arus informasi dan perubahan yang sangat cepat. Cara mereka mendapatkan informasi, berkomunikasi, hingga menilai apakah sebuah organisasi masih relevan atau tidak, tentu berbeda.

Di sinilah tantangannya. Tiga generasi ini berada dalam satu rumah yang sama: NU.

Persoalannya bukan siapa yang lebih hebat, bukan pula soal generasi tua yang harus digantikan oleh generasi muda. Yang penting adalah bagaimana tiga generasi ini bisa saling memahami, saling mengisi, dan berjalan bersama.

Generasi X punya pengalaman dan sejarah perjuangan yang panjang. Milenial punya pengalaman menjembatani perubahan. Sementara Generasi Z punya energi baru, keberanian untuk bertanya, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi.

Jika tiga kekuatan ini bisa disatukan, NU punya modal yang sangat besar. Namun jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan cara berpikir antargenerasi bisa menjadi persoalan tersendiri.

Meninjau Ulang Ruang Kaderisasi

Dari sini, saya mulai berpikir tentang kaderisasi NU, terutama perjalanan kader dari IPNU, PMII, hingga Ansor ke depan. Kita harus berani bertanya kepada diri sendiri: Apakah pola kaderisasi kita hari ini masih benar-benar cocok dengan generasi yang kita hadapi?

Saya tidak mengatakan bahwa cara-cara lama harus dibuang. Justru sebaliknya. Tradisi, nilai-nilai ke-Aswaja-an, dan pengalaman para senior adalah fondasi utama yang tidak boleh hilang. Namun, mungkin yang perlu diubah adalah cara menyampaikannya: cara merekrut, mendampingi, berdiskusi, membangun ruang belajar, hingga cara organisasi berkomunikasi dengan anak muda.

Hari ini, anak muda tidak hanya bertemu organisasi ketika datang ke sekretariat, pesantren, kampus, masjid, atau forum diskusi. Mereka juga berinteraksi lewat Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, hingga podcast.

Artinya, ruang kaderisasi telah bergeser. Dunia digital bukan cuma tempat untuk memuat dokumentasi atau mengunggah poster kegiatan. Dunia digital sudah menjadi salah satu ruang kaderisasi itu sendiri.

Jika NU tidak serius masuk ke ruang ini, jangan heran jika generasi muda akhirnya lebih banyak belajar tentang agama, sosial, dan politik dari algoritma media sosial daripada dari organisasi yang memiliki tradisi keilmuan panjang.

Ini hal yang harus mulai dibicarakan secara serius pasca-Muktamar ke-35. PBNU, PWNU, PCNU, hingga badan otonom perlu duduk bersama memikirkan arah kaderisasi NU ke depan, terutama IPNU, PMII, dan Ansor. Jangan sampai masing-masing berjalan sendiri.

Saya membayangkan adanya alur perjalanan kader yang jelas dan berkesinambungan. Seorang anak berproses di IPNU, berlanjut ke PMII saat menempuh perguruan tinggi, lalu melanjutkan pengabdiannya di Ansor ketika memasuki fase berikutnya.

Tentu bukan berarti semua kader harus melewati alur yang kaku, tetapi setidaknya ada benang merah kaderisasi. Jangan sampai kita sibuk membuat kegiatan kaderisasi, tetapi setelahnya kader tersebut menguap begitu saja. Ikut Makesta, ikut Mapaba, mendapat sertifikat, berfoto bersama, lalu hilang.

Mencetak Kader Pembaca Zaman

Kaderisasi bukan sekadar berapa banyak orang yang berhasil direkruit, melainkan berapa banyak yang bertahan, berkembang, menjadi penggerak, dan tetap merasa bahwa NU adalah rumah perjuangannya.

Anak muda hari ini punya banyak pilihan. Mereka bisa belajar di mana saja, membangun komunitas sendiri, hingga bergerak menyuarakan gagasan secara mandiri di media sosial. Jika organisasi hanya menawarkan struktur, jabatan, dan rutinitas, wajar jika muncul pertanyaan: "Saya di sini untuk apa?"

Generasi Z dikenal kritis dan ingin tahu alasan di balik sebuah aturan. Mereka tidak selalu menerima sesuatu hanya dengan alasan "dari dulu memang begitu". Sikap ini tidak perlu ditakuti, melainkan dijadikan energi positif. Kader jangan hanya diajarkan untuk patuh, tetapi juga diajak untuk berpikir, membaca keadaan, mengkritik, dan bergerak.

Jika ingin melahirkan kader masa depan, kita tidak cukup hanya mencetak kader yang hafal sejarah NU. Kita harus mencetak kader yang mampu menulis sejarah NU berikutnya.

Masa Depan di Abad Kedua

Muktamar ke-35 akan selesai, kepengurusan baru terbentuk, dan dinamika akan berlalu. Namun, kerja besar kaderisasi baru saja dimulai. Kita sedang menyiapkan kader untuk menghadapi dunia yang mungkin belum sepenuhnya kita pahami hari ini.

Tantangan NU di abad keduanya bukan hanya mempertahankan apa yang diwariskan oleh para pendahulu, melainkan memastikan warisan itu bisa dipahami, diterima, dan diteruskan:

Ketiganya harus berada dalam satu mata rantai perjuangan. NU dibangun bukan hanya untuk satu generasi, melainkan untuk melintasi zaman.

Sudah waktunya kita tidak hanya memikirkan siapa yang memimpin NU hari ini, tetapi juga bertanya: Siapa yang sedang kita siapkan untuk memimpin NU 20, 30, hingga 50 tahun ke depan?

Menjaga tradisi. Membaca zaman. Menyiapkan generasi.

Mempertahankan NU bukan berarti mempertahankan semua cara lama, melainkan menjaga nilai perjuangannya sambil terus menemukan cara-cara baru agar nilai itu tetap hidup di setiap zaman.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
Muktamar NU 2026 generasi digital