Oleh:
Salamia
Guru Matematika MTsN 1 Balikpapan, IRo-Society Balikpapan
DI ruang-ruang kelas sekolah/madrasah pada satuan pendidikan jenjang dasar dan menengah Indonesia saat ini, sebuah transformasi sedang berlangsung. Pemandangan fisik ruang kelas telah menempuh perjalanan panjang yang melintasi zaman. Papan tulis kayu hitam yang bersahaja dengan debu kapurnya telah lama lengser. Papan tulis putih (whiteboard) yang lebih bersih, hingga kini juga perlahan mulai bertransformasi menjadi layar sentuh berkilau di sekolah/madrasah perkotaan.
Namun, kenyataannya, potret pendidikan Indonesia masih memiliki wajah ganda. Di wilayah lain, masih banyak sekolah/madrasah yang belum sepenuhnya tersentuh digitalisasi, papan tulis putih masih menjadi tumpuan utama dan keterbatasan akses internet masih menjadi kawan keseharian. Di tengah disparitas dan kemegahan evolusi perangkat keras, muncul sebuah pertanyaan eksistensial: apakah teknologi sedang dimanusiakan untuk pendidikan, atau justru sedang terjadi mekanisasi terhadap proses belajar murid?
Digitalisasi sekolah/madrasah sering kali dirayakan secara gegap gempita sebagai simbol kemajuan, namun tanpa redefinisi makna yang jelas, sehingga berisiko hanya menjadi kosmetik yang menutupi persoalan lama dalam sistem pedagogi. Secara jujur diakui bahwa kehadiran teknologi di sekolah/madrasah sering kali baru menyentuh permukaan fisik dan administratif. Laptop dibagikan dan proyektor dipasang, tetapi pola interaksi di dalam kelas masih terjebak dalam paradigma abad ke-19, guru sebagai pusat tunggal kebenaran dan murid sebagai bejana kosong yang siap diisi. Jika digitalisasi hanya digunakan untuk memindahkan teks dari buku digital ke dalam buku tulis melalui perantara layar sentuh, maka transformasi sesungguhnya tidak sedang terjadi.
Hal itu hanya sekadar penggantian medium yang menjemukan, dari papan kayu ke layar kaca, tanpa pernah menyentuh esensi dari rasa ingin tahu murid. Estafet perubahan dari kapur ke spidol, lalu ke jemari yang menggeser layar, seharusnya dibarengi dengan pergeseran cara berpikir tentang bagaimana ilmu pengetahuan dialirkan.
Upaya mengembalikan marwah pedagogi berarti memaknai bahwa kelas di era digital tidak boleh lagi dibatasi oleh empat dinding fisik atau ukuran layar monitor. Kelas seharusnya didefinisikan sebagai ruang interaksi dinamis di mana pengetahuan dikonstruksi secara bersama-sama, bukan sekadar diinstruksikan. Di jenjang pendidikan dasar dan menengah, peran teknologi seharusnya menjadi jembatan yang membebaskan guru dari rutinitas ceramah satu arah. Dengan informasi yang kini tersedia melimpah dalam satu klik, tugas guru bergeser menjadi seorang navigator atau kurator pengetahuan.
Guru tidak lagi menjadi ensiklopedia berjalan yang tahu segalanya, namun seharusnya menjadi pemandu dalam membantu murid untuk membedakan mana informasi valid dan mana informasi yang hanya sekadar kebisingan digital (digital noise). Bagi sekolah/madrasah yang akses digitalnya masih terbatas, semangat ini tetap bisa diadaptasi melalui pola pikir guru yang inovatif, meski alat bantunya masih bersifat konvensional.
Urgensi mengembalikan marwah pedagogi ini semakin terasa ketika melihat fenomena murid-murid yang sering disebut sebagai pribumi digital (digital natives), justru sering kehilangan arah di tengah banjir informasi. Di sinilah pendidikan dasar dan menengah harus hadir sebagai benteng pertahanan berpikir kritis. Pendidikan bukan lagi soal seberapa banyak fakta yang dapat dihafal untuk ujian, melainkan seberapa cakap murid dalam menghubungkan fakta-fakta dalam menyelesaikan masalah nyata. Digitalisasi harus menjadi alat pacu bagi kreativitas murid untuk belajar menemukan solusi, bukan sekadar menjadi konsumen pasif dari aplikasi (konten) yang dibuat oleh pihak lain. Pergeseran dari papan tulis ke teknologi digital harus diikuti dengan pergeseran dari hafalan menuju analisis.
Namun, ada sebuah bahaya laten yang kerap terlupakan dalam euforia sekolah digital, yakni hilangnya sentuhan manusiawi (human touch). Pendidikan dasar dan menengah adalah masa paling penting untuk pembentukan karakter, empati, dan etika sosial. Saat mata murid lebih sering tertuju pada layar daripada bertatapan dengan rekan sejawat atau gurunya, ada risiko pengikisan kecerdasan emosional. Sekolah/madrasah berbasis digital tidak boleh menjadi tempat sepi secara sosial atau sekadar kumpulan individu yang terpaku pada perangkat masing-masing. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat kolaborasi. Misalnya, melalui proyek-proyek kelompok yang memanfaatkan platform berbagi, murid belajar tentang negosiasi, menghargai perbedaan pendapat, dan kepemimpinan dalam ruang maya yang sehat.
Sentuhan manusiawi inilah yang tidak akan pernah dapat digantikan oleh Artificial Intelligence (AI) atau layar secanggih apa pun. Seorang guru memberikan perhatian saat murid merasa gagal, atau seorang kawan memberikan semangat secara langsung, adalah bagian dari kurikulum tersembunyi yang membangun ketahanan mental. Digitalisasi sukses adalah digitalisasi yang mampu mengamplifikasi nilai-nilai kemanusiaan, bukan justru mengisolasinya. Harus ada kepastian bahwa di balik algoritma yang mempersonalisasi materi belajar, tetap ada kehadiran sosok pendidik yang memanusiakan proses tersebut.
Inovasi pendidikan tidak boleh mengasingkan murid dari realitas sosial, melainkan harus membuat mereka lebih peka terhadap dunia di sekitarnya. Hal ini berlaku universal, baik bagi mereka yang belajar di depan layar sentuh berkilau maupun mereka yang masih berdiskusi di depan papan tulis putih.
Lebih lanjut, perlu dicermati bahwa literasi digital di tingkat sekolah/madrasah bukan hanya masalah kemahiran mengoperasikan perangkat, namun terkait dengan integritas dan etika. Di tengah maraknya plagiarisme digital dan penggunaan AI, satuan pendidikan dasar dan menengah memegang kunci untuk menanamkan kompas moral yang kuat. Murid harus diajarkan bahwa kebenaran tetaplah kebenaran, terlepas dari seberapa mudah teknologi memungkinkan dilakukannya jalan pintas atau kecurangan. Menanamkan kejujuran akademik di bangku sekolah/madrasah sejak dini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang berintegritas dan profesional masa mendatang.
Oleh karena itu, kebijakan digitalisasi sekolah/madrasah harus bergeser dari sekadar fokus pada pengadaan barang menuju penguatan kapasitas manusia. Pendidik memerlukan ruang untuk bereksperimen dan beradaptasi dengan alat baru, tanpa dibebani tuntutan administratif berlebihan yang menghambat inovasi. Perubahan ini menuntut keberanian dari seluruh pemangku kepentingan untuk melihat sekolah bukan sebagai pabrik lulusan yang seragam, melainkan sebagai ekosistem belajar yang adaptif. Sekolah harus menjadi tempat di mana teknologi digunakan untuk merayakan keunikan setiap murid, memungkinkan mereka untuk belajar sesuai dengan ritme dan minat masing-masing.
Mengembalikan marwah pedagogi berarti munculnya keberanian untuk bermimpi tentang sebuah sistem pendidikan yang tidak lagi terpaku pada formalitas fisik. Sebuah generasi sedang disiapkan untuk hidup dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian teknologi di masa mendatang. Satu-satunya cara untuk menjemput masa depan gemilang adalah dengan membekali mereka dengan kemampuan belajar untuk belajar (learning how to learn). Jika satuan pendidikan sekolah dasar dan menengah, termasuk madrasah di Indonesia, mampu menjadi laboratorium yang memadukan kecanggihan digital dengan kedalaman empati, maka tantangan zaman sehebat apa pun tidak perlu dikhawatirkan.
Masa depan pendidikan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak aplikasi yang diunduh di ruang kelas, melainkan oleh seberapa mampu teknologi tersebut digunakan untuk membuka cakrawala dan memperhalus budi pekerti anak bangsa. Makna ruang belajar sesungguhnya adalah sebuah titik berangkat di mana setiap murid mulai menyadari bahwa mereka memiliki potensi atau kuasa untuk mengubah dunia melalui ilmu pengetahuan, dibantu oleh teknologi, namun tetap dipandu oleh nurani. Transformasi media digital hanyalah sarana, tujuan utamanya tetap membentuk manusia yang utuh. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan