Dari Viral ke Vital: Menjadikan Gerak Bagian dari Kehidupan

Redaksi KP • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 19:40 WIB
Bonar Hutapea.
Bonar Hutapea.
Oleh:

Bonar Hutapea
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, meminati Kajian Psikologi Olahraga dan Kesehatan.

“Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!” Tema Hari Olahraga Nasional 2026 itu terdengar sederhana. Tetapi coba kita renungkan sebentar: apakah masyarakat kita benar-benar semakin aktif, atau olahraga cuma semakin terlihat?

Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Di kota-kota besar, running club bermunculan, padel menjadi tren, komunitas kebugaran tumbuh, dan berbagai aktivitas olahraga memenuhi media sosial. Olahraga hadir pula dalam aplikasi dan jam tangan pintar yang merekam langkah, jarak, kecepatan, hingga denyut jantung. Ia bukan lagi semata urusan atlet atau orang yang mengejar medali. Olahraga telah menjadi ruang untuk bertemu, mencari teman, merawat diri, bahkan membentuk identitas.

Popularitasnya nyata. Tetapi apakah popularitas itu sudah menjadi kebiasaan bergerak yang nyata pula?

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 memberi kita alasan untuk berhenti sejenak. Sebanyak 37,4 persen penduduk berusia 10 tahun ke atas masih kurang melakukan aktivitas fisik. Dari kelompok tersebut, 48,7 persen menyebut tidak memiliki waktu sebagai alasan, sementara 32,6 persen menyebut malas. Data ini setidaknya menunjukkan bahwa meningkatnya perhatian terhadap olahraga belum otomatis berbanding lurus dengan kebiasaan bergerak.

Angka “tidak punya waktu” patut diperhatikan. Kita sering berbicara tentang olahraga seolah-olah ia semata persoalan kemauan dan disiplin. Padahal, waktu dibentuk oleh kehidupan sehari-hari: jam kerja, perjalanan ke tempat kerja, tanggung jawab keluarga, dan lingkungan tempat tinggal. Bagi banyak orang, waktu bukan sesuatu yang tinggal diambil. Ia sudah habis dibagi untuk pekerjaan dan mengurus orang lain.

Karena itu, barangkali pertanyaan yang lebih jujur bukan hanya mengapa orang tidak berolahraga, melainkan seperti apa kehidupan yang kita bangun sehingga orang harus mencari-cari waktu untuk bergerak?

Di titik ini, kita perlu memperluas cara memandang olahraga. Bergerak tidak selalu berarti masuk pusat kebugaran, mengikuti lomba, atau membeli perlengkapan khusus. Berjalan kaki ke tempat kerja atau pasar, bersepeda, bermain bersama anak, aktif di tempat kerja, atau menggunakan ruang terbuka di lingkungan tempat tinggal juga merupakan bagian dari kehidupan yang aktif.

Olahraga yang sedang menjadi gaya hidup tentu bukan sesuatu yang perlu dimusuhi. Popularitas justru dapat menjadi pintu masuk yang baik. Masalah muncul ketika gerak semakin dibungkus sebagai paket konsumsi: sepatu khusus, keanggotaan pusat kebugaran, perangkat pintar, tiket lomba, sampai berbagai produk yang membuat tubuh seolah harus terus diukur dan dioptimalkan.

Di ruang digital, tubuh bahkan dapat berubah menjadi proyek yang terus-menerus dipamerkan. Jarak lari, jumlah langkah, kecepatan, bentuk tubuh, dan pencapaian pribadi menjadi bagian dari identitas yang dibagikan. Teknologi dapat membantu membangun kebiasaan sehat. Tetapi jangan sampai bergerak hanya dianggap bernilai ketika dapat dilihat orang lain.

Tubuh bukan sekadar sesuatu untuk ditampilkan. Ia adalah cara kita mengalami kehidupan.

Pada saat yang sama, hidup aktif jangan berubah menjadi moralitas baru yang menyalahkan individu. Disiplin pribadi tetap penting. Namun, kebijakan publik tidak boleh dibangun dengan asumsi bahwa semua orang memiliki waktu, uang, fasilitas, dan lingkungan yang sama.

Sulit meminta orang berjalan kaki jika trotoarnya tidak aman. Sulit meminta anak bermain di luar jika ruang bermain hampir tidak tersedia. Sulit pula berbicara tentang olahraga yang inklusif ketika sebagian ruang publik lebih mudah diakses oleh mereka yang memiliki daya beli dan waktu luang.

Di sinilah olahraga bertemu dengan tata kota dan kebijakan publik. Infrastruktur kota pada akhirnya juga merupakan infrastruktur kesehatan. Trotoar yang terputus, taman yang minim, ruang bermain yang tidak terawat, atau lingkungan yang tidak aman secara tidak langsung mengusir aktivitas fisik dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ukuran keberhasilan Haornas tidak semestinya berhenti pada meriahnya acara atau banyaknya event. Pertanyaan yang lebih penting justru sederhana: apakah anak-anak mempunyai ruang aman untuk bermain? Apakah pekerja dapat berjalan kaki dengan nyaman? Apakah warga lanjut usia dan penyandang disabilitas memiliki ruang yang layak untuk bergerak dan berinteraksi?

Pesan Haornas 2026 sendiri mengarah ke sana. Keberhasilan pembangunan olahraga ditekankan bukan sekadar pada jumlah kegiatan, melainkan pada perubahan perilaku masyarakat. Pemerintah daerah didorong menjadi penggerak olahraga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui ruang publik dan fasilitas yang mudah, murah, aman, serta inklusif.

Maka, masalah kita bukan lagi bagaimana membuat olahraga menjadi populer. Olahraga sudah populer. Masalahnya adalah bagaimana membuat bergerak menjadi mudah.

Mudah dilakukan di rumah, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan tempat tinggal. Mudah dilakukan tanpa harus membeli gaya hidup tertentu. Mudah dilakukan tanpa harus menjadi atlet terlebih dahulu untuk merasa bahwa kita berhak aktif.

Inilah perjalanan dari viral menuju vital. Viralitas bukan musuh. Ia adalah pintu masuk. Yang perlu kita pastikan adalah agar orang tidak berhenti di depan pintu itu—cukup melihat, menyukai, mengunggah, lalu kembali duduk. Viralitas harus menemukan jalannya menjadi kebiasaan sosial.

Pada akhirnya, Haornas bukan hanya tentang membuat olahraga semakin dikenal. Ia tentang menciptakan kehidupan yang memungkinkan lebih banyak orang bergerak. Ukuran keberhasilannya bukan hanya medali, prestasi, atau kemeriahan event, tetapi apakah semakin banyak manusia Indonesia memiliki kesempatan untuk bergerak secara teratur, aman, murah, dan menyenangkan.

Kita sudah memiliki olahraga yang semakin viral. Pekerjaan berikutnya adalah menjadikan gerak sesuatu yang vital, bukan sekadar tampak dalam kehidupan kita, tetapi benar-benar menjadi bagian dari cara kita hidup.

 

Editor : Muhammad Ridhuan
Universitas Tarumanagara Tema Hari Olahraga Nasional 2026 Data Survei Kesehatan Indonesia Haornas 2026