KALTIMPOST.ID, Kalimantan Timur sedang bergerak menuju babak pembangunan baru. Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa peluang transformasi ekonomi, sosial, dan pendidikan.
Di tengah perubahan tersebut, masyarakat pesisir menghadapi tantangan penting; bagaimana memastikan pendidikan bermutu yang mampu menjawab perubahan zaman sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.
Kerusakan lingkungan pesisir tidak dapat diatasi hanya melalui kegiatan penanaman mangrove secara insidental.
Diperlukan pendidikan yang membangun kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, dan pengalaman belajar yang berangkat dari lingkungan sekitar.
Sebab itu, kepedulian terhadap lingkungan perlu diintegrasikan ke dalam manajemen sekolah, pembelajaran, budaya organisasi, serta kemitraan dengan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, penelitian berjudul “Sistem Manajemen Pendidikan Sekolah Menengah Atas Berbasis Green Education Konservasi Mangrove untuk Penguatan Mutu Sekolah Berbasis Lingkungan di Kalimantan Timur” dilakukan di SMA 8 Balikpapan dan SMA 1 Bontang.
Hal tersebut sejalan dengan tujuan keempat dari Sustainable Development Goals (SDGs 4) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang berfokus pada pendidikan berkualitas (quality education).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan hijau (green education) konservasi mangrove untuk penguatan mutu sekolah berbasis lingkungan di Kalimantan Timur dapat berjalan lebih efektif ketika konservasi mangrove diintegrasikan ke dalam sistem pengelolaan sekolah.
Integrasi tersebut mencakup kurikulum, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, budaya sekolah, kegiatan konservasi, serta kemitraan dengan berbagai pihak hal tersebut dapat mendukung.
Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa mutu pendidikan tidak semata-mata dilihat dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah membentuk literasi ekologis, karakter peduli lingkungan, keterampilan konservasi, dan partisipasi peserta didik.
Dengan demikian, konservasi mangrove dapat ditempatkan sebagai konteks lokal untuk menghubungkan pendidikan berkualitas dengan perlindungan ekosistem dan respons terhadap perubahan iklim.
SMA 8 Balikpapan berada di Margomulyo, Balikpapan Barat, memiliki keunggulan geografis karena berbatasan langsung dengan kawasan hutan mangrove seluas 23,8 hektare yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi sejak 2008.
Lingkungan tersebut menjadi sumber belajar sekaligus habitat berbagai keanekaragaman hayati bahkan Kemendikdasmen pada 6 Juni 2026 menyebut SMA 8 Balikpapan sebagai satu-satunya sekolah mangrove di Indonesia dan memilihnya sebagai lokasi kegiatan Gerakan Sekolah ASRI dan penanaman mangrove.
Sementara itu, SMA 1 Bontang memiliki potensi pesisir, pengalaman program Adiwiyata, dan dukungan Tim Go Green, sekolah berada dalam lingkungan kota pesisir yang mempunyai karakter sosial ekonomi dan lingkungan yang kompleks.
Sebab itu, hubungan antara sekolah dengan lingkungan tidak hanya berupa mangrove.
Meskipun keduanya masih memerlukan penguatan dalam kelembagaan, penganggaran, evaluasi, dokumentasi kemitraan, dan pemerataan partisipasi peserta didik.
Penelitian mengembangkan konsep green education yang bersifat geo-contextual, yaitu sistem pendidikan lingkungan yang dibangun berdasarkan karakter ekologis dan sosial-geografis dari dua lokasi sekolah.
Sintesis kedua kasus menghasilkan Mangrove Green Education Management System (M-GEMS), yaitu model pengelolaan pendidikan yang kontekstual, integratif, partisipatif, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Secara teoretis, M-GEMS memperluas kajian manajemen pendidikan berbasis lingkungan dengan mengintegrasikan fungsi manajemen pendidikan, kurikulum, budaya sekolah, konservasi mangrove, dan kemitraan dalam satu sistem pengelolaan.
Secara praktis, M-GEMS menyediakan kerangka bagi sekolah di wilayah pesisir untuk mengelola konservasi mangrove sebagai sumber belajar, sarana pembentukan karakter ekologis, dan strategi penguatan mutu sekolah berbasis lingkungan.
Model ini mencakup lima unsur utama: perencanaan strategis, kapasitas organisasi, integrasi kurikulum dan pembelajaran berbasis pengalaman, monitoring dan evaluasi, serta tata kelola kolaboratif.
Keberhasilan program tidak semestinya diukur hanya dari jumlah kegiatan atau bibit yang ditanam.
Sekolah juga perlu mengukur keberlangsungan tanaman, perubahan perilaku, kualitas pembelajaran, keterlibatan masyarakat, kemampuan peserta didik menghasilkan solusi, dan dampak terhadap lingkungan.
Sistem manajemen pendidikan selama ini lebih banyak dibahas melalui aspek perencanaan, organisasi, kepemimpinan, pembiayaan, kurikulum, sumber daya manusia, dan evaluasi.
Penelitian ini menawarkan perluasan paradigma dengan menempatkan ekologi lokal sebagai salah satu basis pengembangan sistem manajemen sekolah secara keilmuan, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu manajemen pendidikan dengan memperluas kajian manajemen sekolah dari perspektif administratif menuju perspektif ekologis hal tersebut merupakan kontribusi baru dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Penelitian terdahulu cenderung memisahkan tiga wilayah kajian: (1) Adiwiyata/green school, (2) pembelajaran atau literasi lingkungan, dan (3) pendidikan konservasi mangrove.
Penelitian ini menyatukan ketiganya dalam satu konstruksi sistem manajemen pendidikan SMA, dengan mangrove sebagai konteks ekologis lokal dan mutu sekolah sebagai orientasi hasil.
Dengan demikian, konservasi mangrove tidak lagi ditempatkan sebagai proyek sesaat, melainkan sebagai bagian dari budaya mutu sekolah.
Green education dapat menjadi strategi untuk membentuk generasi yang tidak hanya memahami lingkungan, tetapi juga mampu menjaga dan mengelolanya secara berkelanjutan.
Editor : Hernawati