Oleh:
Lutfiyah Nur Aini
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Mulawarman
MOMEN penerimaan mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Timur selalu membawa riak dinamika tersendiri. Setiap tahun akademik baru dimulai, kota-kota pusat pendidikan seperti Samarinda mendadak dipadati ribuan anak muda dari berbagai pelosok daerah, mulai dari wilayah pesisir, pedalaman seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu, hingga perantau dari luar Pulau Kalimantan. Bagi para mahasiswa baru ini, menginjakkan kaki di tanah perantauan bukan sekadar berpindah secara geografis, melainkan sebuah awal petualangan mental yang penuh ketidakpastian.
Di balik antusiasme mengenakan almamater baru, ada kenyataan emosional yang tak bisa dihindari: homesickness. Fenomena rasa rindu rumah pada awal perjalanan merantau ini sebenarnya merupakan ruang transisi krusial yang secara tidak langsung memaksa seseorang mengasah keterampilan hidup (life skills) dan kemandirian secara spontan.
Kehilangan rasa familiar terhadap suasana rumah, kehangatan keluarga, masakan orang tua, serta pola kebiasaan lama adalah respons emosional yang sangat wajar dan hampir selalu dialami perantau. Perasaan asing dan kesendirian kerap datang tanpa diundang saat malam mulai larut di dalam kamar kos.
Namun, pada akhirnya, keberhasilan melewati fase transisi ini akan mengubah rasa rindu yang berat menjadi pendorong pertumbuhan mental di lingkungan baru. Sebab, bagaimanapun juga, rumah akan selalu menjadi tempat terbaik untuk pulang, tetapi tanah rantau adalah ruang terbaik untuk belajar berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Selama ini, homesickness sering kali dipandang sebelah mata dan hanya dilihat dari sisi negatifnya. Gejala yang kerap muncul meliputi rasa cemas berlebihan, kesepian mendalam, penurunan fokus belajar, hingga kecenderungan mengisolasi diri. Ditambah lagi dengan tantangan adaptasi terhadap budaya lokal, seperti penyesuaian bahasa sehari-hari, dinamika transportasi kota, hingga perbedaan selera kuliner. Perubahan drastis ini memang dapat menciptakan tekanan emosional yang nyata.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang perkembangan diri, homesickness bukanlah sebuah bentuk kemunduran emosional, melainkan proses “pendewasaan paksa” yang dapat berdampak positif. Melalui kondisi yang jauh dari zona nyaman ini, seseorang dituntut mengelola emosi, mengatur keuangan pribadi, mengatur ritme hidup, hingga mengambil keputusan secara mandiri. Proses penyesuaian yang intens inilah yang pada akhirnya membentuk ketangguhan mental (resilience) dan kemampuan beradaptasi di tengah lingkungan baru yang beragam.
Secara ilmiah, fenomena ini didukung oleh penelitian Yi Sun dan timnya (2020) yang menemukan bahwa kebiasaan passive scrolling, sekadar melihat foto atau pembaruan status keluarga dan teman lama di media sosial tanpa interaksi aktif, justru dapat memperburuk tingkat homesickness dan memperlambat proses adaptasi.
Fenomena ini sangat relevan dengan realitas mahasiswa baru saat ini yang sering kali terjebak dalam ilusi koneksi digital: merasa terhubung, padahal kenyataannya semakin mengasingkan diri dari lingkungan fisik di sekitarnya. Selain faktor kebiasaan di media sosial, tingkat kerentanan terhadap homesickness juga dipengaruhi oleh latar belakang gender. Penelitian dari JRPP Universitas Pahlawan memperkuat gambaran ini dengan menemukan bahwa mahasiswa perempuan cenderung mengalami tingkat homesickness lebih tinggi dibandingkan mahasiswa laki-laki.
Realitas di lapangan menunjukkan banyak mahasiswa baru memilih menarik diri dari lingkungan sosial kampus saat rasa rindu rumah mulai menyerang. Padahal, pengisolasian diri justru dapat memperpanjang masa krisis adaptasi tersebut. Mengelola rasa rindu bukan berarti harus memutus ikatan emosional dengan tanah kelahiran, melainkan proses memperluas kapasitas diri untuk menciptakan ruang kenyamanan baru di tempat yang asing.
Hubungan dengan keluarga tetap perlu dijaga secara sehat, misalnya melalui video call secara teratur dan terjadwal. Namun, fokus utama harus dialihkan pada pembangunan realitas baru di tanah perantauan.
Tantangan perantauan ini sebenarnya juga membuka kesempatan untuk membentuk identitas baru yang lebih matang. Berada di lingkungan yang serba baru memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi potensi diri, menguji batas keberanian, serta menemukan minat-minat baru yang mungkin belum pernah tersentuh saat masih berada di bawah lindungan keluarga.
Untuk melewati masa transisi ini secara optimal, mahasiswa baru perlu memberanikan diri mengambil langkah konkret. Mulailah dengan membatasi screen time pada konten-konten yang memicu nostalgia berlebih, lalu alihkan energi untuk bersosialisasi melalui interaksi nyata. Menjalin pertemanan baru dari beragam latar belakang daerah, mengeksplorasi sudut-sudut kota tempat merantau, serta aktif dalam organisasi atau kegiatan kemahasiswaan dapat menjadi langkah sederhana untuk mempercepat proses adaptasi.
Di saat yang sama, pihak kampus memegang peran strategis yang tidak kalah penting. Kampus-kampus di Kalimantan Timur tidak boleh hanya berfokus pada capaian akademis semata, tetapi juga perlu menyediakan ekosistem pendukung kesehatan mental yang inklusif.
Penyediaan program konseling sebaya (peer counseling), kegiatan orientasi yang merangkul keberagaman budaya lokal, serta penyediaan ruang-ruang ekspresi minat dan bakat akan sangat membantu meredam tekanan mental para mahasiswa baru pada bulan-bulan awal kedatangan mereka.
Secara keseluruhan, homesickness adalah proses alami dan manusiawi yang tidak perlu ditakuti. Rasa rindu rumah yang berhasil dikelola dengan baik pada akhirnya dapat menjadi pijakan awal bagi lahirnya pribadi yang mandiri, matang, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Sebab, rasa rindu yang hadir di tanah perantauan bukanlah sebuah beban, melainkan jalan menuju kedewasaan. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan