Urgensi Regenerasi Pembatik

Muhammad Aufal Fresky • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 11:21 WIB
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais dan Pengusaha Batik Tulis Madura

KALTIMPOST.ID, Setiap tanggal 2 Oktober, lini masa medsos riuh ucapan Hari Batik Nasional (HBN). Batik, dielu-elukan sebagai warisan adiluhung leluhur. Dibangga-banggakan sebagai identitas bangsa yang wajib dilestarikan. Pesona batik dengan muatan nilai filosofis, historis, dan estetis di dalamnya itu memperkuat posisinya sebagai mahakarya agung Nusantara. Namun, di balik gegap-gempita momentum HBN 2026, bahkan dari tahun-tahun sebelumnya, ada nasib perajin batik yang acapkali luput dari perhatian.

Padahal, pembuatan batik tulis ataupun cap itu tidak lepas dari kerja keras tangan-tangan terampil pembatik. Mereka sebagai ujung tombak pelestarian budaya batik. Sayangnya, proses membatik yang membutuhkan ketangkasan, kejelian, kesabaran, dan kreativitas serta menguras waktu, pikiran, dan energi itu nyatanya tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh perajin. Tidak heran jika sebagian perajin mulai berpikir untuk banting setir menjadi petani, pedagang, pekerja pabrik, dan profesi lainnya di luar industri batik.

Baca Juga: Menakar Kualitas Generasi Penerus Kaltim

Sebagian lagi memilih membatik sebagai pekerjaan paruh waktu. Sebagian lainnya “gulung tikar” sebab membatik sudah dianggap tidak bisa membuat “asap dapur” terus mengepul. Ditambah harga-harga kebutuhan pokok seperti halnya beras dan minyak goreng cenderung mengalami kenaikan. Belum lagi tambahan biaya pendidikan anak-anak para perajin. Alasan penghasilan yang tidak mencukupi itu menjadi semakin masuk akal. Menjadi faktor utama yang mendorong sebagian perajin berbondong-bondong beralih profesi. Terkait hal ini, krisis perajin akan semakin nyata adanya. Di saat regenerasi belum berjalan, perajin senior dengan jam terbang tinggi justru menyatakan “gantung canting”.

Merujuk data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), jumlah perajin batik turun dari 151.000 orang pada 2020 menjadi sekitar 101.000 orang pada 2024. Jadi, penurunannya sekitar 50.000 orang atau 33,1 persen. Tren penurunan itu juga dirasakan betul oleh saya sendiri selaku pelaku UMKM Batik yang tinggal di Kampung Batik Klampar, Pamekasan, Madura. Terus terang saja, sebagian perajin di kampung saya itu mulai berhenti produksi. Anak-anak mudanya yang orang tuanya sebagian besar pembatik mulai tidak tertarik alias kehilangan minat menggeluti dunia batik. Lagi-lagi krisis pembatik, hemat saya, bukan lagi sebuah ancaman di masa mendatang, tapi sedang terjadi hari ini.

Baca Juga: Drama Pilrek Unmul dan Anomali 35 Persen Suara Menteri

Hal itu diperkokoh oleh hasil penelitian Sulitanto, dkk. (2015) yang mengungkapkan bahwa generasi muda mempersepsikan pekerjaan perajin batik sebagai pekerjaan yang memiliki penghasilan kecil, memerlukan jiwa seni, memerlukan ketekunan, dapat dilakukan sebagai sambilan, jenjang karier tidak jelas, kurang bergengsi, dan penghasilan tidak pasti. Artinya, besarnya usaha yang dikeluarkan tidak sebanding dengan imbalan ekonomi yang didapatkan. Kondisi tersebut menciptakan ketidakpuasan ekonomi yang mendorong generasi muda untuk mencari alternatif pekerjaan yang dianggap lebih menguntungkan.

Dalam hal ini, regenerasi pembatik adalah suatu hal yang hemat saya mendesak untuk segera dilakukan dengan pendekatan baru. Utamanya dalam rangka menggeliatkan industri batik dan menstimulus lahirnya generasi pembatik baru. Salah satu pendekatan yang bisa jadi alternatif yaitu sustainable human capital development. Pendekatan ini menekankan bahwa keberlanjutan profesi tradisional tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tetapi juga oleh daya tarik ekonomi (economic attractiveness) dan dukungan kelembagaan (institutional support). Daya tarik ekonomi, maksudnya industri batik benar-benar menjanjikan penghasilan dan masa depan yang cerah bagi perajin. Dan hal tersebut berkaitan dengan dukungan kelembagaan, baik lewat intervensi pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian dan dinas terkait untuk menstimulus industri batik. Umpamanya bisa lewat festival budaya, pelatihan, pameran, lomba, yang arahnya juga untuk menciptakan ruang interaksi yang memperkuat keterhubungan antara generasi tua dan generasi muda.

Baca Juga: Sudah Tahu Risikonya, Mengapa Tetap Terjadi?

Tanpa dukungan kelembagaan yang kuat, berbagai inisiatif yang datangnya dari akar rumput, seperti halnya dari komunitas perajin atau pelaku UMKM cenderung berjalan sendiri-sendiri dan sulit menghasilkan dampak jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme regenerasi yang mengintegrasikan berbagai sumber daya ekonomi, budaya, sosial, dan kelembagaan secara simultan agar regenerasi perajin ini berjalan sebagaimana yang kita harapkan.

Dengan demikian, inti dari pemaparan ini adalah bahwa nasib perajin harus lebih diperhatikan lagi dengan berbagai regulasi, kebijakan, program, dan agenda dari pemerintah. Tidak hanya yang sifatnya sporadis dan temporer seperti halnya pemberian bantuan alat dan bahan. Namun, yang sifatnya lebih terencana, sistematis, terarah, dan berkelanjutan; seperti halnya lewat program pendidikan dan pelatihan khusus bagi kader atau calon kader perajin batik.

Baca Juga: Drama Pilrek Unmul dan Anomali 35 Persen Suara Menteri

Memungkasi catatan ini, izinkan saya mengutip perkataan Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono X dari Surakarta, “Rum Kuncaraning Bangsa Dumunung Haning Luhurung Budaya,” yang artinya harumnya nama dan tingginya derajat suatu bangsa terletak pada budayanya. Dalam konteks budaya batik, perajin adalah aktor utama yang mengharumkan dan meninggikan derajat bangsa ini lewat karya-karyanya. Sehingga, tidak boleh tidak nasibnya harus diperhatikan sungguh-sungguh. Jika tidak, bersiap-siaplah batik akan punah pelan-pelan lalu menjadi kenangan masa silam. Tentu kita semua tidak menginginkannya. Oleh karena itulah regenerasi pembatik adalah harga mati alias tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Editor : Almasrifah
UMKM batik Kalimantan HBN 2026 Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia pembatik hari batik nasional