Dari FYP ke Diagnosis: Ketika Media Sosial Menjadi Sumber Informasi Psikologis

Redaksi KP • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 18:27 WIB
Zakia Zahra.
Zakia Zahra.

Oleh:

Zakia Zahra

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Mulawarman

“Jangan-jangan aku depresi.” “Kayaknya aku punya anxiety.” “Ternyata aku avoidant.”

Kalimat semacam ini semakin mudah ditemukan di tengah derasnya konten kesehatan mental di media sosial. Hanya dengan beberapa kali menggulir TikTok, Instagram, atau platform video pendek lainnya, seseorang dapat menemukan daftar tanda depresi, ciri kecemasan, tipe kepribadian, hingga berbagai istilah psikologi yang sebelumnya terdengar asing.

Fenomena ini membawa sisi positif. Pembicaraan mengenai kesehatan mental menjadi lebih terbuka dan istilah yang dulu dianggap tabu kini lebih mudah dipahami. Namun, persoalan muncul ketika informasi populer di media sosial langsung digunakan untuk memberi label atau diagnosis kepada diri sendiri.

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI pada April 2026 membahas fenomena self-diagnosis, yakni kecenderungan mendiagnosis kondisi diri tanpa bantuan profesional. Masalahnya bukan pada keinginan seseorang memahami dirinya. Keinginan itu justru penting. Persoalannya adalah ketika potongan informasi dari media sosial dianggap cukup untuk memastikan seseorang mengalami gangguan tertentu.

Gejala yang tampak serupa belum tentu memiliki penyebab yang sama. Kondisi psikologis seseorang juga tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu atau dua ciri yang ditemukan di internet.

Ketika FYP Menjadi “Konsultan”

Cara anak muda mencari informasi telah berubah. Jika dulu seseorang harus membuka buku atau berkonsultasi untuk mendapatkan penjelasan mengenai persoalan psikologis, kini jawaban dapat muncul di layar dalam hitungan detik.

Bahkan, chatbot berbasis kecerdasan artifisial mulai digunakan untuk menceritakan masalah pribadi dan mencari kemungkinan penyebabnya. Kementerian Kesehatan RI pada November 2025 menyoroti meningkatnya penggunaan AI oleh Gen Z dan Gen Alpha untuk menilai kondisi kesehatan mental. Psikiater FKUI-RSCM, dr. Kristiana Siste, mengingatkan bahwa AI tidak selalu mampu membaca gejala dengan benar sehingga penggunaannya untuk self-diagnosis dapat menyesatkan.

Penelitian yang dipublikasikan pada Februari 2026 terhadap mahasiswa pengguna TikTok di STIKES Dian Husada Mojokerto juga membahas fenomena self-diagnosis dan kecemasan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa paparan informasi kesehatan yang tidak terverifikasi dapat memicu respons psikologis negatif pada sebagian mahasiswa.

Namun, menyalahkan media sosial sepenuhnya juga bukan solusi. Media sosial dapat menjadi ruang edukasi dan berbagi pengalaman. Banyak orang pertama kali mengenal istilah kesehatan mental justru melalui konten digital. Bagi seseorang yang merasa sendirian, menemukan cerita yang mirip dengan pengalamannya dapat menjadi pintu awal untuk menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan.

Yang perlu dijaga adalah batas antara edukasi dan diagnosis.

Konten dapat membantu seseorang menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu dirinya, tetapi bukan berarti konten tersebut dapat memastikan nama gangguannya. Informasi digital sebaiknya menjadi titik awal untuk mencari pertolongan, bukan titik akhir untuk menetapkan label.

Mahasiswa dan Budaya “Merasa Relate”

Persoalan ini semakin relevan dalam kehidupan mahasiswa. Tugas, tuntutan nilai, organisasi, hubungan sosial, masalah ekonomi, hingga ketidakpastian setelah lulus dapat membuat seseorang mencari penjelasan mengenai apa yang sedang dialaminya.

Ketika kemudian muncul konten yang menyebut sulit tidur, kehilangan motivasi, suka menyendiri, atau sulit berkonsentrasi sebagai tanda gangguan tertentu, seseorang dapat dengan mudah merasa konten tersebut sedang menggambarkan dirinya.

Di Samarinda, persoalan kesehatan mental generasi Z juga menjadi perhatian. RRI Samarinda pada Juli 2026 melaporkan tekanan akademik, tuntutan lingkungan, dan ketidakpastian masa depan sebagai sejumlah faktor yang dikaitkan dengan stres, burnout, kecemasan, dan quarter-life crisis pada anak muda.

Penelitian yang dipublikasikan pada Maret 2026 terhadap 404 mahasiswa di Kota Samarinda menemukan hubungan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dan kecenderungan academic burnout. Sebanyak 35 persen sampel berada pada kategori kecenderungan academic burnout tinggi.

Temuan tersebut tidak berarti media sosial menjadi satu-satunya penyebab burnout. Namun, hubungan itu menunjukkan bahwa cara kita menggunakan media sosial layak diperhatikan, terutama ketika media sosial bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan, tetapi juga menjadi sumber utama untuk memahami diri sendiri.

Jangan Terburu-buru Memberi Label

Ketika merasa sangat relate dengan konten kesehatan mental, langkah pertama sebaiknya bukan memberi label kepada diri sendiri, melainkan berhenti sejenak dan memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.

Sedih, cemas, lelah, sulit berkonsentrasi, atau kehilangan motivasi merupakan pengalaman yang dapat dialami banyak orang. Kondisi tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan mental tertentu.

Jika keluhan berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau mengganggu kuliah, pekerjaan, hubungan sosial, tidur, maupun aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional merupakan langkah yang lebih tepat. Psikolog, psikiater, dokter, atau layanan konseling dapat membantu melakukan penilaian secara lebih menyeluruh.

Media sosial tetap dapat digunakan, tetapi dengan literasi yang lebih kritis. Periksa siapa yang membuat konten, apakah sumbernya jelas, apakah informasi didukung bukti, dan apakah konten tersebut membedakan edukasi dari diagnosis.

Generasi muda hari ini hidup di tengah banjir informasi. Dalam satu layar, kita dapat menemukan hiburan, berita, pengalaman orang lain, sekaligus informasi mengenai kesehatan mental. Kemudahan tersebut merupakan peluang, tetapi juga menuntut kemampuan untuk memilah.

Merasa relate dengan sebuah konten bukan berarti kita telah menemukan diagnosis. Bisa jadi itu hanya tanda bahwa kita sedang lelah, menghadapi tekanan, atau membutuhkan seseorang untuk diajak berbicara. Jika ada sesuatu yang terasa tidak baik-baik saja, kesadaran itu dapat menjadi alasan untuk mencari pemahaman dan bantuan yang tepat.

Pada akhirnya, kesehatan mental bukan perlombaan menemukan istilah yang paling sesuai dengan diri sendiri. Ia adalah proses memahami apa yang kita rasakan, mengetahui kapan harus mencari bantuan, dan mendapatkan dukungan yang tepat.

Sebab, FYP dapat membantu kita menemukan informasi, tetapi tidak seharusnya menjadi tempat kita menetapkan diagnosis. (***/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
self diagnosis fyp tiktok mahasiswa Universitas Mulawarman