KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT – Operasi pencarian terhadap Muhammad Helmi (36), warga RT 006 Desa Kerang, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, resmi dihentikan pada Selasa (20/1/2026) sore.
Helmi menjadi korban terkaman buaya saat beraktivitas di Sungai Sangkuranai. Penghentian operasi dilakukan setelah upaya pencarian intensif selama tiga hari tidak membuahkan hasil maksimal.
Keputusan tersebut diambil melalui koordinasi antara tim SAR gabungan, aparat desa, dan pihak keluarga korban. Keluarga menyatakan telah mengikhlaskan kepergian Helmi.
Baca Juga: Motor Raib Saat Subuh, Unit Reskrim Polsek Penajam Gerak Cepat Bekuk Dua Pelaku Curanmor
Peristiwa tragis itu terjadi pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 14.30 Wita. Saat itu, Helmi bersama rekannya, Triono, sedang menjala udang di pinggir Sungai Sangkuranai, Blok C47/48 PT Pradiksi Gunatama Tbk.
Menurut keterangan saksi, Triono tengah mengumpulkan hasil tangkapan ketika terdengar teriakan dari arah korban. Ia sempat melihat Helmi diterkam buaya sebelum diseret ke dalam aliran sungai.
Kejadian tersebut segera dilaporkan ke Polsek Batu Engau dan BPBD Kabupaten Paser. Tim SAR gabungan langsung diterjunkan untuk melakukan pencarian.
Upaya pencarian membuahkan hasil pada Senin (19/1/2026) pukul 07.00 Wita. Tim menemukan jasad korban, namun dalam kondisi tidak utuh.
“Bagian tubuh yang ditemukan mulai dari pinggang hingga paha kanan. Sementara kepala, tangan, dan kaki kiri belum ditemukan,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Paser, Ruslan, Rabu (21/1/2026).
Pencarian kemudian dilanjutkan hingga sore hari, tetapi tidak ada temuan lanjutan di sekitar lokasi kejadian.
Pada hari terakhir operasi, Selasa (20/1/2026), tim SAR gabungan memperluas area pencarian. Penyisiran dilakukan hingga radius 15 kilometer ke arah muara Sungai Besar Tabru.
Baca Juga: Polsek Penajam PPU Ringkus Pencuri HP di Sotek yang Kuras Saldo DANA Korban
Tim gabungan terdiri dari BPBD Paser, Basarnas Balikpapan, Satpol PP, Disdamkar, TNI, Polri, karyawan perusahaan, serta masyarakat sekitar.
Namun, kondisi lapangan menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan jaringan komunikasi dan potensi serangan buaya susulan membuat pencarian semakin berisiko.
Setelah melalui pertimbangan menyeluruh, pencarian resmi ditutup pada Selasa (20/1/2026) pukul 17.15 Wita. Seluruh unsur tim, termasuk unit ambulans PMI, telah kembali ke markas masing-masing.
Baca Juga: Tips Menjaga Koleksi Buku Bacaan agar Tidak Mudah Menguning saat Disimpan!
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat yang beraktivitas di bantaran sungai agar selalu waspada terhadap ancaman satwa liar, khususnya buaya, di wilayah rawan. (*)
Editor : Ery Supriyadi