KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT–Komunitas Konservasi Untuk Masa Depan (Kuntumm) menggelar diskusi publik bertajuk "Lestarikan Alam dengan Konservasi Langkah Kecil, Warisan Luhur untuk Ekosistem" di Tanah Grogot, Rabu (21/1).
Forum itu bertujuan merumuskan langkah strategis dalam mengelola kawasan hutan dan ekosistem penyangga kehidupan di Kabupaten Paser.
Ketua Kuntumm Ade Muryono menegaskan, diskusi itu merupakan respons terhadap tantangan lingkungan yang semakin nyata. Dia mengajak seluruh pihak berkaca pada bencana alam yang menimpa daerah tetangga untuk mencegah hal serupa terjadi di Paser.
"Kami berharap diskusi ini menghasilkan kajian spesifik tentang masa depan konservasi alam. Kita harus belajar dari Kalimantan Selatan yang terdampak bencana karena kejadian alam yang dipicu kerusakan lingkungan," ujar Ade.
Kepala BKSDA Kaltim Matheas Ari Wibawanto mengakui, kondisi hutan dan cagar Aaam (CA) saat ini sedang tidak baik-baik saja. Namun, dia menekankan pentingnya mencari titik temu antara mandat pembangunan dan perlindungan kawasan.
Terkait pengelolaan Teluk Adang dan Teluk Apar, Matheas menjelaskan adanya kebijakan terbaru mengenai status pemukiman warga.
"Berdasarkan SK penetapan terakhir, beberapa desa khususnya di lokasi pemukiman telah dikeluarkan dari status cagar alam agar pembangunan tetap bisa berjalan tanpa menabrak aturan," jelasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Paser Achmad Safari memberikan apresiasi kepada Kuntumm sebagai mitra strategis pemerintah. Menurutnya, persoalan degradasi lingkungan tidak bisa diselesaikan pemerintah sendirian.
"Pengelolaan lingkungan harus melibatkan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Pelaku usaha yang memegang lahan di Paser wajib menjaga lingkungan di sekitar area operasional mereka, masyarakat yang langsung merasakan dampak degradasi tersebut," kata Safari.
Ia juga menyoroti laju deforestasi di Indonesia yang tergolong cepat secara global. Safari berpesan agar seluruh pihak berkomitmen menjaga sisa hutan yang ada demi keberlangsungan hidup generasi mendatang. (*)
Editor : Dwi Restu A