Pembangunan jembatan di hari kedua, Senin (20/1), atau sejak kali pertama jalan terputus akibat tergerus aliran sungai itu sudah bisa dilewati warga pejalan kaki, roda dua, dan kendaraan roda empat jenis kecil.
“Tetapi akhirnya ada bagian lain pada jembatan sementara itu yang ambrol setelah dilewati kendaraan roda empat jenis besar,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR PPU, Sodikin, Selasa (21/1).
Jembatan sementara ini dibangun hanya pada satu sisi dari keseluruhan lebar jalan yang terputus dan dilewati arus air. Ukurannya pun hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda empat jenis kecil saja.
“Jembatan yang kami bangun itu sifatnya hanya jembatan darurat, dan sudah kami sampaikan ke lurah dan kades agar diimbau masyarakat. Artinya, karena itu jembatan yang sifatnya emergency itu kalau untuk mobil pikap saja bisa. Tetapi, kalau truk jangan dulu lah. Kemarin saya lihat sebagai topangan tanah pada jembatan juga sedikit longsor lagi, ambrol,” kata Sodikin.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Setkab PPU, ini mengatakan, bahwa ambrolnya itu akibat dilewati kendaraan roda empat jenis besar.
“Aduh, masyarakat ini. Maksud saya saling bersinergi lah,” katanya. Ia menambahkan, bahwa saat ini pihaknya telah menurunkan peralatan dan material untuk dilakukan pabrikasi di tempat.
Untuk selanjutnya dimulai pembangunan jembatan secara permanen di tempat yang sama, dan dikebut penyelesaiannya. “Mudah-mudahan pembangunan dalam satu atau dua minggu selesai,” katanya.
Sementara itu sebelumnya, Sekretaris Dinas PUPR PPU, Muhammad Ali Musthofa saat ini telah dimulai pemasangan box culvert, sementara material yang sudah dipersiapkan sebelumnya seperti bekisting sama besi telah dikirim ke lapangan untuk langsung dikerjakan di lokasi.
“Jadi on set, langsung bisa pabrikasi, seperti pengecoran di lokasi. Kami optimalkan secepatnya bisa satu segmen box culvert itu bisa dipasang, sehingga satu sisi lainnya nanti bisa dilalui,” katanya.
Ia mengatakan, sesuai instruksi Plt Kepala Dinas PUPR PPU, Sodikin, bahwa satu sisi yang sudah dibangun jembatan sementara itu bisa dilalui, namun bersifat darurat.
Seperti diberitakan, putusnya jalan poros yang menghubungkan Kelurahan Sepan dan Desa Bukit Subur, Kecamatan Penajam, PPU sejak Minggu (19/1) telah melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Petani kesulitan mengangkut hasil pertanian, sementara pedagang mengalami kendala dalam distribusi barang. Akibatnya, perekonomian warga terganggu.
Selain itu, sejumlah siswa SMA Negeri 6 Sotek yang tinggal di Bukit Subur terpaksa menghentikan sementara kegiatan belajar-mengajar karena terkendala akses jalan.
“Jalan putus akibat diterjang aliran air yang kencang dari sungai di situ,” kata Kepala Desa Bukit Subur, Kecamatan Penajam, PPU, Asep Andriawan, kepada Kaltim Post, Senin (20/1). (*)
Editor : Almasrifah