KALTIMPOST.ID, Upacara Belian yang terkesan magis adalah merupakan ritual pengobatan tradisional yang masih dilestarikan oleh Suku Paser di Kaltim, utamanya di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Prosesi ini memiliki tahapan-tahapan yang khas dan sarat makna, mencerminkan kearifan lokal dan kepercayaan masyarakat setempat.
Mari menelusurinya lebih jauh khasanah budaya milik bangsa Indonesia ini dengan mengungkapnya melalui salah satu tokoh etnis Paser di Penajam, PPU.
Tokoh etnis Paser di PPU, Eko Supriyadi mengungkapkan, secara garis besar, upacara Belian terdiri dari tiga tahapan utama.
Masing-masing, tahap Persiapan. Dalam tahap ini melibatkan berbagai persiapan yang dilakukan oleh pihak penyelenggara upacara dan pasien yang membutuhkan pengobatan.
Penyelenggara akan berkoordinasi dengan pengugu ramu (perantara), belian dadas dan pemelian (pemimpin upacara), pemain musik, penyaji sesajen, serta pembaca mantra.
“Persiapan juga mencakup penyiapan sesajen, perlengkapan upacara, dan pembersihan benda-benda pusaka,” kata Eko Supriyadi, Selasa (15/4).
Selanjutnya, urainya lagi, adalah tahap kegiatan inti, yaitu upacara dimulai dengan mulung (semacam dukun atau pemimpin ritual) yang menyampaikan maksud upacara kepada roh nenek moyang melalui besoyong (sesaji).
Mulung kemudian menari mengelilingi sesajian sambil membaca mantra, diiringi alunan musik tradisional. Tarian ini dilakukan hingga mulung mencapai kondisi seperti tidak sadar, yang menandakan puncak dari prosesi inti.
Berikunya adalah tahap ketiga, yaitu tahap penutup. Eko Supriyadi menuturkan, setelah tarian berakhir dan mulung sadar kembali, orang yang diobati akan mengusap wajah dengan air yang telah disediakan, sebagai simbol pembersihan diri dari penyakit. Sesajian kemudian dibagikan dan dinikmati bersama.
Dijelaskannya pula, setiap tahapan dalam upacara Belian memiliki makna dan fungsi tersendiri.
Persiapan yang matang menunjukkan kesungguhan dalam melaksanakan ritual.
Tarian dan mantra dalam tahap inti adalah upaya untuk memohon kesembuhan dan mengusir roh jahat.
Sedangkan tahap penutup adalah simbol pembersihan dan harapan akan kesembuhan.
“Upacara Belian bukan sekadar ritual pengobatan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial, melestarikan budaya, dan menghubungkan masyarakat Suku Paser dengan leluhur,” jelasnya.
Sementara itu, di Kabupaten PPU kegiatan ini dilestarikan oleh pemerintahan daerahnya menjadi ajang yang digelar pada setiap tahunnya diberi tajuk Festival Belian Adat Paser Nondoi. Hal ini seperti yang telah dilaksanakan pada 2024 lalu.
Tahun lalu itu, Festival Belian Adat Paser Nondoi mengangkat tema Mangku Awat, Mangku Tengkuat, Mangku Pekingat, yang artinya Saling Membantu, Saling Menguatkan dan Saling Mengingatkan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, Andi Israwati Latief saat kegiatan ini mengatakan, bahwa pelaksaan kegiatan Nondoi berlangsung selama 6 hari mulai 28 Oktober-2 November 2024.
Tujuan kegiatan untuk menggalang pelestarian budaya dan partisipasi masyarakat dalam rangka pemajuan seni budaya di Kabupaten PPU.
Pada Festival Nondoi tahun lalu itu sebagai pekan kebudayaan daerah dirangkai dengan pelaksanaan Festival Tanjong Penajo sebagai festival tari kreasi tradisional tingkat Kaltim yang untuk kali pertama diadakan oleh Kabupaten PPU. ***
Editor : Dwi Puspitarini