KALTIMPOST.ID, Organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU), yang dikenal sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan jaringan yang mendunia, menggelar acara halalbihalal sekaligus pelantikan pengurus Lembaga Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Acara tersebut berlangsung di Islamic Center PPU, Jalan Propinsi, Km 9, Nipahnipah, Kecamatan Penajam, PPU, Ahad (27/4).
Dalam kesempatan tersebut, Bupati PPU Mudyat Noor, menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan NU di wilayahnya.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU, saya sangat mendukung perkembangan NU di daerah ini. Kepada rekan-rekan yang baru saja dilantik, saya mengucapkan selamat dan berharap agar dapat menjalankan tugas serta tanggung jawab sesuai dengan peran masing-masing,” kata dia.
Lebih lanjut dia menekankan bahwa pengurus PCNU mengemban tanggung jawab yang besar sebagai panutan umat.
Ia berharap para pengurus dapat menjalankan amanah organisasi untuk memberdayakan warga NU sesuai dengan kapasitas anggota, berlandaskan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, serta mengabdikan diri demi agama.
Dia menyampaikan rasa terima kasih kepada PCNU PPU atas dukungan yang telah diberikan selama proses pencalonannya hingga terpilih menjadi bupati PPU.
Sebagai wujud apresiasi, ia mengingatkan sekretaris kabupaten PPU dan asisten pembangunan untuk segera menganggarkan pembangunan Gedung Sekretariat PCNU PPU agar pembangunannya dapat segera diselesaikan.
“Saya meminta kepada jajaran terkait untuk segera menyelesaikan pembangunan Gedung Sekretariat PCNU PPU. Kita menyadari bahwa NU adalah wadah berkumpulnya umat Islam yang memiliki tugas penting dalam menjaga keutuhan ajaran Islam, serta membendung masuknya berbagai ajaran yang tidak relevan dengan perkembangan Islam di Indonesia saat ini," tegasnya.
Bupati juga menyoroti keprihatinannya terhadap fenomena penceramah agama yang baru belajar Islam, bahkan hanya melalui platform seperti YouTube, namun sudah berani menyalahkan pemeluk Islam lainnya.
Ia membandingkan hal tersebut dengan tradisi di kalangan NU, di mana seorang penceramah atau kiai harus menempuh pendidikan pesantren selama bertahun-tahun sebelum dianggap layak.
Sementara itu, Ketua Umum PCNU Kabupaten PPU, KH Abdul Halim, menyampaikan bahwa sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), PCNU melakukan konsolidasi secara menyeluruh, memperkuat struktur kelembagaan dari tingkat cabang hingga ranting, serta melaksanakan gerakan pemberdayaan masyarakat secara progresif, efektif, dan efisien.
"Ini adalah komitmen kita bersama sebagai jam'iyyah diniyyah, ijtima'iyyah yang selalu berkeinginan kuat untuk hadir memberikan manfaat dan maslahat, baik dalam hal sosial, pendidikan, ekonomi, maupun persahabatan," ungkap Abdul Halim.
Ia juga menyampaikan harapan akan dukungan dan kerja sama dari seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, legislatif, eksekutif, TNI, Polri, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten PPU, agar ikhtiar bersama dapat terwujud secara optimal.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Bupati PPU Mudyat Noor, Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin, Wakil Ketua II DPRD PPU, H. Andi Muhammad Yusup, unsur Muspida PPU, Sekretaris Kabupaten PPU, H. Tohar, beserta jajaran masyarakat, pemerintahan, para nahdiyyin, fatayat NU, dan sejumlah tokoh lainnya.
Editor : Hernawati