KALTIMPOST.ID, PENAJAM-Di tengah kabar baik mengenai semakin banyaknya wilayah di Indonesia yang berhasil mencapai status bebas malaria, terselip fakta mencengangkan yang menempatkan sebuah kabupaten di Kaltim dalam sorotan tajam.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), Murti Utami, kepada wartawan di Jakarta, mengungkapkan bahwa Penajam Paser Utara (PPU) menjadi salah satu penyumbang signifikan kasus malaria di Indonesia, bahkan berada dalam jajaran wilayah dengan angka kejadian tertinggi di luar kawasan timur Indonesia yang selama ini mendominasi.
“Dari seluruh kasus malaria, 95 persen itu merupakan kontribusi dari provinsi-provinsi di wilayah timur Indonesia,” kata Murti Utami dalam temu media daring memperingati Hari Malaria Sedunia, baru-baru lalu.
Namun, di tengah dominasi tersebut, Murti Utami secara eksplisit menyebutkan, di regional Papua yang paling tinggi, lalu Nusa Tenggara Timur, salah satunya di Pulau Sumba. Kemudian ada di satu kabupaten di wilayah Kaltm, yaitu PPU.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun Kaltim secara keseluruhan tidak termasuk dalam episentrum malaria nasional, PPU menjadi anomali yang mengkhawatirkan, menyumbang angka kasus yang cukup besar hingga perlu disebutkan secara khusus oleh Kemenkes.
Namun, pernyataan ini dibantah tegas oleh Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) PPU, Jansje Grace Makisurat, Kamis (1/5).
“Yang terbanyak Papua. Kalau PPU terbanyak di Pulau Kalimantan. Itu pun kasus di PPU banyak kasus impor, dibawa oleh pendatang ke daerah ini,” kata Kepala Diskes PPU, Jansje Grace Makisurat menjawab konfirmasi media ini.
Ia mencontohkan, seperti kasus malaria di Sotek, Kecamatan Penajam, banyak disumbang oleh Kabupaten Paser, sedangkan penderita malaria yang datang berobat di Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Semoi banyak dari Kutai Kartanegara.
"Sementara yang di wilayah Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara banyak dari pendatang, Sulbar, NTT, Lampung dan Papua,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Setkab PPU, Nicko Herlambang turut menanggapi perihal ini, Kamis (1/5). Menurut dia, perihal ini pernah dilaporkan Kepala Diskes PPU, Jansje Grace Makisurat kepada pemerintah daerah.
“Itu di IKN karena banyak sisa-sisa sampah proyek yang jadi tempat jentik-jentik nyamum hidup, dan manusia yang datang dari luar,” kata Nicko Herlambang.
Sejauh ini, Pemkab PPU pernah melakukan pembersihan sampah-sampah tersebut, dan selanjutnya untuk meminimalisasi penyakit jenis ini, Pemkab PPU sudah pernah berbicara dengan pihak Badan Otorita IKN.
Namun, belum diketahui hasil kesepakatannya. “Sumber tempat nyamuk malaria itu bukan di areal warga,” ujarnya. (*)
Editor : Almasrifah