Pada Selasa (10/6), ia berinisiatif memasang peringatan “Awas! Ada Buaya” di tepi kolam yang menjadi sumber pasokan air utama bagi warga setempat. Peringatan sementara ini, berupa tulisan cetak komputer, dipasang sambil menunggu rampungnya plang permanen.
“Tulisan ini kami pasang sebagai pengingat bagi warga, terutama yang mungkin belum tahu bahwa ada tiga buaya besar di kolam ini yang berpotensi mengancam keselamatan,” jelas Abdul Rasyid, Rabu (11/6).
Ia memasang tulisan peringatan itu setelah upaya menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU untuk meminta bantuan agar mengevakuasi reptilia liar itu tidak terlaksana. Alasannya, BPBD PPU terkendala peralatan dan keahlian tersendiri untuk memindahkan hewan agresif itu.
“Di luar memasang tulisan kami juga melaporkan adanya tiga buaya besar di dalam kolam itu kepada lurah. Kami menunggu apa langkah-langkah pak lurah, karena, hal ini telah menjadi keresahan masyarakat,” tuturnya.
Lurah Gersik, Kecamatan Penajam, PPU, Ommar Mildat saat dihubungi Rabu (11/6) mengatakan, bahwa pihaknya sudah meneruskan laporan masyarakatnya itu ke camat Penajam.
“Beliau (camat Penajam) intruksi agar sementara dibuat peringatan dipasang spanduk-spanduk peringatan bagi masyarakat bahaya atau ancaman buaya, sambil menunggu koordinasi BPBD PPU, dan nanti saya koordinasi dengan pak camat tindak lanjutnya,” kata Ommar Mildat melalui saluran WhatsApp (WA).
Keberadaan tiga ekor buaya ini juga mengundang perhatian Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) PPU, Fernando Simanjuntak, Rabu (11/6).
Ia turut memberikan dukungan dengan memberikan masukan kepada RT setempat untuk segera memasang plang peringatan terkait buaya itu.
“Warga di sana memang ada yang meminta bantuan ke kami. Yah, kalau kami secara formal belum ada yang dilatih untuk keahlian mengevakuasi buaya tersebut,” kata Fernando Simanjuntak.
Diberitakan sebelumnya, keresahan melanda warga Kelurahan Gersik, Kecamatan Penajam, PPU, setelah penampakan tiga ekor buaya berukuran besar di sebuah kolam yang menjadi sumber pasokan air bersih mereka. Insiden ini terjadi bertepatan dengan Iduladha 1446 Hijriah, atau Jumat, 6 Juni 2025 lalu.
“Kami saat ini dicekam kengerian dengan adanya buaya-buaya berukuran besar itu. Tanggal 6 Juni 2025 atau bertepatan dengan Iduladha 1446 Hijriah ada warga kami yang memergoki tiga ekor buaya tampak timbul dan tenggelam di tengah kolam,” kata Ketua RT 04 Gersik, Kecamatan Penajam, PPU, Abdul Rasyid, kepada Kaltim Post, Selasa (10/6).
Kekhawatiran warga semakin memuncak mengingat air dari kolam seluas sekitar dua hektare tersebut, yang merupakan peninggalan bekas perusahaan kayu lapis PT Balikpapan Forest Industries (BFI), disedot melalui pipa langsung ke rumah-rumah.
Kolam air tersebut ditinggalkan setelah perusahaan berbendera Korea-Indonesia (Korindo) Grup itu dinyatakan pailit dan tutup pada tahun lalu.
“Kadangkala warga harus mendatangi kolam saat pipa tersumbat dan perlu diperbaiki. Saya mengkhawatirkan keselamatan warga,” tambah Rasyid.
Apalagi, menurut laporan warga yang dikutip Abdul Rasyid, satu dari tiga buaya tersebut sempat naik ke darat dan kedapatan memangsa anak babi milik warga di RT 12 Gersik.
Ratusan warga Gersik, kata Abdul Rasyid, kini merasa resah dan gelisah. Berbagai upaya telah mereka lakukan, termasuk meminta bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU untuk mengevakuasi ketiga reptilia buas itu. Namun, harapan mereka pupus.
“Jawabannya BPBD PPU tidak bisa melakukan evakuasi karena tidak memiliki alat dan keahlian khusus untuk memindahkan buaya,” ungkap Abdul Rasyid.
“Kami hanya diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian dan mengurangi aktivitas di sekitar kolam saja,” katanya.
Dijelaskannya, bahwa buaya-buaya tersebut kemungkinan besar berasal dari anak sungai yang ada dan tersambung dengan kolam. Kepala Pelaksana Harian BPBD PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro, membenarkan keterbatasan tersebut.
"Untuk saat ini kami belum bisa mengevakuasikan atau melakukan penangkapan di alam liar. Kalau bisa kurangi aktivitas di dekat perairannya dan jauhi tempat-tempat atau spot-spot yang sering terlihat kemunculan buayanya,” jelas Muhammad Sukadi Kuncoro saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Selasa (10/6).
BPBD PPU juga telah menghubungi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim untuk meminta bantuan. Namun, BKSDA Kaltim pun menghadapi kendala serupa. Muhammad Sukadi Kuncoro menambahkan, ancaman buaya di PPU tidak hanya terjadi di Gersik.
Wilayah Kecamatan Sepaku, yang kini masuk kawasan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, juga banyak dihuni buaya di hampir semua sungainya. “Kalau pas banjir buaya-buaya itu masuk ke rumah-rumah penduduk,” katanya. (*)
Editor : Almasrifah