KALTIMPOST.ID, Satu di antara tiga buaya di dalam kolam air di Kelurahan Gersik, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU) teridentifikasi adalah buaya jenis muara atau dengan bahasa latinnya Crocodylus porosus.
Setelah masuk perangkat jebakan sekira pukul 22.00 Wita, Kamis (12/6), buaya dengan ukuran panjang sekira empat meter itu dievakuasi dan dikirim ke Pusat Penangkaran Buaya Teritip, Kota Balikpapan, Jumat (13/6).
“Buaya yang berhasil masuk jebakan itu sudah saya konfirmasi ke Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, dan dijelaskan bahwa itu buaya muara,” kata Ketua RT 04, Kelurahan Gersik, Kecamatan Penajam, PPU, Jumat (13/6).
Pengiriman buaya ini ke Pusat Penangkaran Buaya Teritip di Balikpapan itu bakal bertemu dengan reptilia sejenis yang sudah lama ditangkar di sini.
Warga setempat memergoki tiga buaya berukuran besar pada kolam air itu pada Jumat, 6 Juni 2025.
Warga kemudian resah karena kolam air peninggalan perusahaan kayu lapis PT Balikpapan Forest Industries (BFI) itu adalah kolam sumber air utama bagi ratusan masyarakat di kelurahan itu.
Warga memasang pipa-pipa sedot di tepi kolam, dan mengalirkan air ke rumah-rumah mereka.
Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun media ini, di Pusat Penangkaran Buaya Teritip, Balikpapan, terdapat sejumlah jenis buaya. Yaitu, buaya muara, buaya siam, buaya sepit, dan buaya hibrida.
Buaya muara dikenal sebagai salah satu predator reptil terbesar di dunia. Ukurannya bisa sangat mencengangkan, dengan panjang mencapai 7 meter dan bobot hingga 1,2 ton.
Habitat alami mereka sangat fleksibel, meliputi sungai, muara, danau, bahkan daerah pesisir, karena kemampuannya beradaptasi di air tawar maupun asin.
Sebagai predator ganas, buaya muara memiliki diet yang luas. Mereka memangsa beragam jenis hewan, mulai serangga kecil, ikan, katak, dan crustacea, hingga mamalia besar seperti rusa dan kambing, serta berbagai jenis unggas.
Reputasi mereka sebagai pemakan segala (opportunistic feeder) sangat sesuai dengan keganasan dan agresivitasnya.
Meskipun populasinya relatif stabil di Australia dan beberapa wilayah Indonesia berkat upaya konservasi, buaya muara masih menghadapi ancaman di beberapa negara Asia Tenggara lainnya.
Buaya Siam (Crocodylus siamensis) atau sering disebut buaya air tawar, adalah spesies yang sangat terancam punah.
Statusnya bahkan dikategorikan kritis (critically endangered) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature), menandakan perlindungan serius sangat dibutuhkan.
Secara fisik, buaya ini memiliki berat tubuh hingga 350 kg dengan panjang antara 2 hingga 4 meter. Mereka mendiami danau, sungai, dan rawa-rawa.
Di Kalimantan, salah satu habitat penting buaya siam adalah di Rawa Mesangat, Kaltim. Diet buaya siam cukup bervariasi, mencakup ular, ikan, burung, dan mamalia kecil.
Mereka juga tidak keberatan memakan bangkai, menunjukkan adaptasi sebagai pembersih ekosistem.
Buaya Sepit (Tomistoma segelly) memiliki ciri khas yang sangat membedakan: moncongnya yang ramping dan memanjang, menyerupai sepit.
Ukurannya relatif lebih kecil dibandingkan buaya muara, dengan panjang maksimal sekitar 3,5 meter.
Secara genetik, buaya sepit memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan buaya sungai. Mengingat bentuk moncongnya yang khas, makanan utama buaya sepit umumnya adalah ikan. Namun, mereka juga dapat mengonsumsi daging.
Habitat alaminya tersebar di sungai, danau, rawa-rawa, dan hutan bakau di wilayah Asia Tenggara.
Populasi buaya sepit juga berada dalam kategori terancam punah.
Penurunan jumlah di alam liar disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk deforestasi, degradasi lahan, dan perburuan ilegal yang terus mengancam kelangsungan hidup mereka.
Berikutnya, Buaya Hibrida yang merupakan hasil perkawinan silang antara buaya muara dan buaya siam.
Keunikan buaya hibrida terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan mudah, baik di lingkungan air tawar maupun air asin.
Diet mereka meliputi daging-dagingan, ikan, dan crustacea. Keempat jenis buaya itu dapat disaksikan pada Pusat Penangkaran Buaya Teritip, Balikpapan ini.
Editor : Hernawati