Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Nondoi, Ritual Pembersihan Kampung Suku Paser yang Kaya Nilai Filosofis Kembali Digelar

Ari Arief • Kamis, 7 Agustus 2025 | 11:42 WIB

 

Tetua adat Paser berkumpul dan mengikuti ritual Nondoi yang menjadi agenda tahunan penyelenggaraannya di Penajam Paser Utara.   
Tetua adat Paser berkumpul dan mengikuti ritual Nondoi yang menjadi agenda tahunan penyelenggaraannya di Penajam Paser Utara.  

 

PENAJAM - Ritual Nondoi adalah salah satu ritual adat paling penting bagi suku Paser di Penajam Paser Utara (PPU). Upacara ini bukan sekadar tradisi, melainkan cerminan dari nilai-nilai filosofis yang dipegang teguh oleh masyarakat adat Paser secara turun-temurun.

Namun, tidak banyak yang mengetahui makna dan tujuan ritual ini. Sehingga, salah satu tokoh adat setempat, Restu Patih Bintang, merasa perlu mendokumentasikan ritual ini ke dalam bentuk dokumen, yang selanjutnya dibukukan.

“Saya berharap kelak ada buku-buku yang berkaitan dengan segala macam adat Paser, dan tersedia dalam perpustakaan daerah untuk dipelajari oleh generasi muda,” kata Restu Patih Bintang, Kamis (7/8).

Ia menjelaskan, pada dasarnya Nondoi adalah ritual pembersihan kampung dari energi negatif dan hal-hal buruk yang diyakini dapat mengganggu kesejahteraan. Konsep ini mencerminkan keyakinan mendalam masyarakat Paser akan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan dunia spiritual.

Dengan membersihkan kampung, mereka berharap mendapatkan perlindungan dari leluhur dan keberkahan untuk panen, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari.

Restu Patih Bintang mengungkapkan pula, bahwa secara historis, ritual Nondoi dilaksanakan setiap tahun oleh suku Paser, biasanya dipimpin oleh para pemangku adat atau tokoh spiritual.

Namun, seiring perkembangan zaman, ritual ini telah beradaptasi. Saat ini, Nondoi sering dikemas dalam sebuah festival budaya yang lebih besar, dan telah dilaksanakan setiap tahun di PPU.

“Festival Nondoi menjadi wadah untuk melestarikan budaya Paser, sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Festival ini menampilkan berbagai atraksi,” ujarnya.

Berbagai atraksi itu, lanjut dia, di antaranya, berupa tari-tarian adat yang menceritakan legenda dan sejarah Paser, musik tradisional yang dimainkan dengan alat-alat musik khas, parade budaya yang menampilkan pakaian adat dan simbol-simbol suku Paser, pameran kuliner yang menyajikan hidangan khas Paser, dan pameran kerajinan tangan dan produk-produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal.

Eko Supriyadi, Humas Lembaga Adat Paser (LAP) PPU, menambahkan bahwa  pengemasan ritual dalam festival ini memiliki tujuan ganda. Yaitu melestarikan budaya dan meningkatkan perekonomian lokal.

Dengan menarik wisatawan, festival ini membantu menggerakkan roda ekonomi dan memberi kesempatan bagi masyarakat untuk berbagi kekayaan budaya mereka.

Namun, menurut dia, inti dari ritual Nondoi adalah nilai-nilai luhur seperti  gotong-royong yang melibatkan seluruh masyarakat berpartisipasi dalam persiapan dan pelaksanaan ritual, memperkuat rasa kebersamaan.

Kemudian, penghormatan terhadap leluhur. Karena, kata dia, ritual ini adalah cara untuk menghargai dan meminta restu dari para pendahulu yang diyakini masih menjaga mereka. Di samping itu, ritual adat ini dimaksudkan sebagai upaya menjaga keseimbangan alam.

“Suku Paser meyakini bahwa menjaga alam adalah kunci kesejahteraan, dan ritual ini menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap alam semesta,” kata Eko Supriyadi.

Sementara itu, sebagai seorang tokoh adat, Restu Patih Bintang memainkan peran penting dalam menjaga kelestarian ritual ini. Usahanya untuk mendokumentasikan berbagai ritual adat Paser, termasuk Nondoi, dalam sebuah buku adalah langkah strategis untuk memastikan pengetahuan dan tradisi ini tidak hilang ditelan waktu.

Dokumentasi ini akan menjadi sumber referensi berharga bagi generasi muda Paser dan masyarakat luas yang ingin mempelajari kekayaan budaya Indonesia.(*)

Editor : Sukri Sikki
#tahunan #masyarakat adat #paser #tradisi #ppu