KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Pernah nyaris lenyap ditelan zaman, tarian tradisional khas Suku Paser ini perlahan mulai bangkit lagi. Namanya Ronggeng Paser. Tarian ini bukan sekadar hiburan panggung, tapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Paser. Bahkan dulu, tarian ini punya peran penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
“Awalnya, Ronggeng Paser ini berkaitan erat dengan ritual pengobatan bernama Ancak Ronggeng,” ujar Paidah Riansyah, pemerhati budaya yang juga pengurus Lembaga Adat Paser (LAP) Penajam Paser Utara (PPU), Bidang Kebudayaan dan Pariwisata, saat berbincang dengan Kaltim Post, Minggu (10/8/2025).
Ritual tersebut sempat ditemukan di Desa Sesulu, Gunung Batu, Kecamatan Waru, PPU. Namun seiring waktu, terjadi akulturasi budaya dengan Melayu dan pengaruh Islam yang kuat. Dari situlah bentuk Ronggeng Paser perlahan bergeser menjadi pertunjukan budaya yang lebih terbuka.
Menurut Paidah, tarian ini sempat redup di era 1990-an. Namun mulai 2000-an, Ronggeng Paser kembali menggeliat. Beberapa sanggar seni didirikan, bukan hanya oleh warga Paser, tapi juga komunitas lintas suku yang peduli terhadap pelestarian seni ini. Kini, Ronggeng Paser tak hanya bisa ditemukan di Kabupaten Paser, tapi juga di PPU dan Balikpapan.
Tarian ini biasanya hadir dalam berbagai acara, mulai dari pernikahan, pesta rakyat, hingga penyambutan tamu kehormatan. Lewat Ronggeng, masyarakat bersilaturahmi dan membangun keakraban. “Fungsi sosialnya masih terasa kuat sampai sekarang,” kata Paidah.
Ciri khas Ronggeng Paser bisa dilihat dari musik pengiring dan gerakan tariannya. Ada gambus, gendang Paser, gong, dan gerincai (semacam tamborin). Gerakan tangan yang memutar dan melebar melambangkan kegiatan pertanian dan rasa syukur kepada alam. Semuanya menggambarkan eratnya hubungan masyarakat Paser dengan alam.
Soal kostum, para penari mengenakan kebaya polos lengkap dengan selendang atau saputangan. Tak sekadar hiasan, selendang ini juga punya fungsi interaktif. Biasanya penari akan mengajak penonton ikut menari bersama, menciptakan suasana akrab di tengah pertunjukan.
Satu hal yang membedakan Ronggeng Paser dengan tarian ronggeng di daerah lain: tidak ada unsur erotisme atau ritual kesuburan di dalamnya. Hal ini tak lepas dari pengaruh nilai-nilai Islam yang telah mengakar kuat di masyarakat Paser. “Itulah yang menjadikan Ronggeng Paser unik dan sarat etika,” tegas Paidah.
Secara keseluruhan, Ronggeng Paser bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah cerminan nilai, identitas, dan sejarah masyarakat Paser. Pelestariannya tak hanya menjaga budaya tetap hidup, tapi juga menjadi warisan penting bagi generasi yang akan datang.
Sebelum menutup obrolan, Paidah menyerahkan dua lembar foto penari Ronggeng Paser, salah satunya dimuat dalam artikel ini. (*)
Editor : Ery Supriyadi