PENAJAM - Sebuah monumen bersejarah di Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang menjadi saksi bisu pengibaran bendera Merah Putih pertama di wilayah itu, kini berada dalam kondisi memprihatinkan.
Monumen Pengibaran Bendera Merah Putih, yang didirikan untuk mengenang perjuangan melawan penjajah, terkesan tak terawat. Berdasarkan data sejarah yang juga dicantumkan pada monumen bahwa hari Senin, 15 Oktober 1945 di tempat itu telah dikibarkan bendera Merah-Putih yang pertama kali di wilayah Kalimantan Timur oleh Bahrunsuk, Dode Telogir, Songhui, Brebow, Tengga, Bunyat dan Rendra.
Padahal, Nenang memiliki peran penting dalam sejarah. Wilayah ini dikenal sebagai basis pertahanan pejuang lokal dalam menghadapi penjajah Belanda yang berpusat di Kota Balikpapan. Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, Monumen Pengibaran Bendera Merah Putih dibangun di Jalan Bonci, RT 07, Kelurahan Nenang.
Monumen ini diresmikan oleh Bupati PPU saat itu, Abdul Gapur Mas'ud, pada tanggal 28 Oktober 2019. Monumen ini juga diteken oleh Dandim 0913/PPU Letkol Inf Mahmud dan Kapolres PPU, AKBP Sabil Umar.
Saat dikunjungi Kaltim Post pada Minggu atau bertepatan dengan upacara hari ulang tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2025, monumen tersebut terlihat kusam. Cat merahnya sudah mulai luntur, mengisyaratkan kurangnya perawatan. Sejumlah warga setempat mengungkapkan keprihatinan mereka.
“Seharusnya, pada 17 Agustus 2025 ini ada yang mengibarkan bendera Merah Putih di sini. Nyatanya, tidak,” ujar seorang warga yang ditemui media tak jauh dari monumen.
Selain kondisi fisik yang kurang terawat, masalah lain yang mengganjal adalah status lahan monumen tersebut. Menurut warga, monumen itu hanya menumpang di atas lahan milik pribadi seorang warga.
“Seharusnya dibebaskan saja secara keseluruhan luas lahannya agar nanti pas pemilik lahan mau bangun rumah di situ, maka, ada kemungkinan monumen bisa dibongkar,” kata seorang warga.
Selain monumen, di wilayah Kecamatan Penajam, PPU, juga terdapat situs bersejarah lain, yaitu meriam peninggalan Jepang. Meriam ini menjadi bagian integral dari perjuangan melawan penjajah di wilayah tersebut dan hingga kini masih dijaga oleh masyarakat setempat. Keberadaannya menjadi bukti nyata dari sejarah perlawanan yang kuat di daerah ini.
Namun, terlepas dari pentingnya situs-situs ini, warga menyayangkan minimnya perhatian. Mereka berharap pemerintah daerah lebih peduli, tidak hanya sekadar meresmikan, tetapi juga memelihara dan menjadikan lokasi ini sebagai pusat edukasi sejarah bagi generasi muda. Jika tidak ada tindakan, monumen dan sejarah yang diwakilinya bisa saja terlupakan. (*)
Editor : Sukri Sikki