KALTIMPOST.ID, PENAJAM — Di balik kesibukan pagi di Kecamatan Sepaku, aroma masakan dari dapur SPPG Bumi Harapan menjadi pertanda dimulainya rutinitas penting: menyiapkan ribuan porsi makanan bergizi bagi pelajar.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, terutama di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Baca Juga: Nikah Bukan Sekadar Hidup Bersama, KUA Waru Bekali Remaja PPU Wawasan Pranikah
Setiap pagi, dapur yang dikelola puluhan karyawan ini beroperasi serentak. Dari proses persiapan bahan hingga pengemasan makanan, semua dilakukan sesuai standar kebersihan yang ketat.
Namun di balik rutinitas itu, ada tanggung jawab besar memastikan setiap porsi yang dikirim benar-benar layak santap dan bergizi seimbang.
Di tengah kesibukan tersebut, Ahli Gizi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bumi Harapan, Agnes Filionita, mengungkapkan bahwa total ada 16 sekolah di bawah koordinasinya yang kini menerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Setiap harinya kami menyalurkan sebanyak 2.587 porsi makanan bergizi ke seluruh sekolah yang terlibat. Program ini sudah berjalan selama empat minggu,” ujar Agnes, Rabu (8/10/2025).
Ia menjelaskan, seperti dapur MBG lainnya, SPPG Bumi Harapan juga menerapkan standar operasional ketat dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Penajam Paser Utara (PPU) untuk proses sertifikasi sanitasi dapur serta penjamah makanan.
“Untuk sertifikasi sanitasi sedang dalam proses, dan akan dilakukan pengujian pada tanggal 13 sampai 15 Oktober mendatang,” jelasnya.
Agnes menegaskan, semua relawan dan penjamah makanan telah dibekali pelatihan sebelum dapur beroperasi.
“Sanitasi dapur kami aman karena disiapkan sejak awal. SOP diterapkan dengan ketat dan seluruh karyawan sudah melalui pelatihan,” katanya.
Sekitar 40 karyawan terlibat langsung dalam pengelolaan dapur MBG. Meski sistem pengupahan bervariasi, seluruh kegiatan diklaim memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
Pengolahan limbah makanan pun turut diawasi ketat.
“Kami juga bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk pengelolaan limbah,” tambahnya.
Tantangan utama kini berada pada pasokan bahan pangan. Harga yang relatif tinggi di Sepaku membuat sebagian bahan perlu didatangkan dari Balikpapan.
Meski begitu, menu tetap disusun berdasarkan kebutuhan gizi siswa. “Setiap bahan yang datang diperiksa. Jika tidak layak, kami bisa retur ke pemasok,” terangnya.
Agnes mengakui, pelaksanaan awal sempat menemui kendala penyesuaian. Namun setelah minggu pertama, semua berjalan lancar.
Baca Juga: Santri Putri Bersukacita! PHM Bangun 10 Kamar Mandi Baru untuk Ponpes Al-Arsyadi Kukar
“Awal-awal memang butuh adaptasi, tapi sekarang alhamdulillah stabil,” tuturnya.
Ia menutup dengan memastikan, seluruh pembiayaan program MBG di SPPG Bumi Harapan berasal dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Untuk anggaran, kami langsung menerima dari BGN pusat,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi