KALTIMPOST.ID,PENAJAM-Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU), menggelar Konferensi II di gedung serbaguna Desa Giripurwa, Minggu, 23 November 2025. Mengusung tema "Ansor Satu Barisan Membangun Negeri", acara ini menandai pergantian kepemimpinan di tingkat PAC.
Rois Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) PPU, KH Rofiqul Ikhwan (Gus Rofiq), dalam amanatnya menekankan akar sejarah organisasi. Gus Rofiq menyebutkan bahwa GP Ansor lahir pada 1934, jauh sebelum Indonesia merdeka, sebagai organisasi pendukung di bawah naungan NU.
"Ketika muncul gagasan untuk membentuk Ormas ini, para penggagas memilih kader-kader terbaiknya untuk menduduki sejumlah jabatan unsur kepemimpinan di tubuh GP Ansor tersebut," ujar Gus Rofiq.
Baca Juga: Profil Gus Irfan, Cucu Pendiri NU yang Jadi Menteri Haji Pertama di Reshuffle Kabinet Prabowo
Kini, GP Ansor dikenal sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang telah melahirkan banyak kader berkualitas dan berhasil menjalin kolaborasi erat dengan pemerintah. Gus Rofiq secara khusus menyampaikan bahwa kepengurusan GP Ansor di PPU terbuka terhadap masukan dan kritik konstruktif dari masyarakat.
“Khususnya di Kabupaten PPU ini, kami memohon kepada masyarakat agar kiranya tak segan-segan untuk memberikan masukan bahkan kritik sekalipun, yang bertujuan untuk membangun. Kami tak pungkiri bahwa setiap organisasi tentu memiliki hal positif, tetapi juga ada hal yang dipandang kurang berkenan. Untuk itu, kami bersedia melakukan perbaikan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa GP Ansor adalah garda terdepan dan penggerak pembangunan daerah di PPU, dengan komitmen utama untuk menjaga harmonisasi sosial di tengah masyarakat.
Konferensi ini, lanjut Gus Rofiq, merupakan agenda formal untuk pergantian pimpinan sekaligus ruang konsolidasi, evaluasi, dan penegasan komitmen para calon pimpinan.
Baca Juga: Polres PPU Bongkar Aksi Pencurian di Proyek MBG, Dua Pelaku Berhasil Dibekuk
"GP Ansor harus mampu menjawab setiap tantangan di era digital seperti saat ini. Kita harus memperkuat barisan dengan meningkatkan jumlah ranting dan menghidupkan kembali kegiatan sosial keagamaan. GP Ansor merupakan mitra strategis bagi pemerintah," tambahnya.
Gus Rofiq mengklaim, hanya dua organisasi keagamaan besar, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (beserta GP Ansor-nya), yang tidak pernah berkonflik dengan pemerintah, bahkan sejak sebelum kemerdekaan. Kedua ormas ini menjadi penyokong utama lahirnya Indonesia.
“Ketika ada kekuatan yang merongrong bangsa, maka GP Ansor berdiri di garda terdepan melakukan pembelaan dan mempertahankan keutuhan bangsa,” tegasnya.
Pesan untuk Pimpinan Baru
Terkait dengan pimpinan PAC GP Ansor Kecamatan Penajam yang baru terpilih, Gus Rofiq menekankan pentingnya integritas kepemimpinan, tidak hanya dalam hal administrasi, tetapi terutama pada semangat kepemimpinan dan keteladanan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Polres PPU Bongkar Aksi Pencurian di Proyek MBG, Dua Pelaku Berhasil Dibekuk
Ia mengingatkan, perbedaan individu adalah hal biasa, namun persatuan dalam barisan adalah yang paling penting. Ia juga mengingatkan agar anggota Ansor, khususnya Banser, tidak melewatkan momentum pengabdian yang syar'i, yang harus didasarkan pada semangat dan diperkuat dengan janji baiat (DDJB).
“Gerakan Pemuda Ansor telah dikenal sebagai organisasi yang luar biasa, ormas yang lahir sebelum Indonesia ada. Diilustrasikan, dukun bayinya Negara Indonesia, salah satunya adalah Gerakan Pemuda Ansor,” tutup Gus Rofiq.
Penetapan Ketua Baru
Proses pemilihan Ketua PAC GP Ansor Penajam dilaksanakan secara aklamasi dalam sidang pleno yang dipimpin oleh Kakorcab Banser NU, Komandan Jaini. Hasilnya, Sarpomo disahkan sebagai Ketua PAC GP Ansor Penajam yang baru, menggantikan Roni Ali Imron.
Konferensi II ini dihadiri oleh perwakilan TNI-Polri (Babinsa Giripurwa Serka M Khusaini dan Babinkantibmas Bripka Hary Luwu), perwakilan pemda (Kepala Dusun Giripurwa Yordan Asrori Sabirin), serta tokoh agama, tokoh masyarakat, dan anggota Banser. Acara peresmian ditandai dengan pemukulan gong oleh KH Rofiqul Ikhwan.(*)
Editor : Thomas Priyandoko