KALTIMPOST.ID, PENAJAM — Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) khususnya perayaan Natal, Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) Penajam Paser Utara (PPU) kembali menggelar operasi pasar kebutuhan pokok.
Langkah ini merupakan upaya pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga serta mengendalikan inflasi daerah.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan KUKM Perindag PPU, Marlina, menjelaskan bahwa kebutuhan masyarakat pada Desember biasanya meningkat, terutama bagi umat Kristiani yang akan merayakan Natal.
“Ini kan dalam rangka hari menjelang HBKN, Hari Natal. Jadi dinas melakukan operasi pasar sembako sebagai langkah pengendalian inflasi daerah,” ujar Marlina, Selasa (25/11/2025).
Menurutnya, peningkatan kebutuhan masyarakat pada momen tersebut seringkali diiringi kenaikan harga sejumlah bahan pangan. Untuk itu, operasi pasar digelar lebih awal sebagai langkah antisipatif.
“Karena ini di bulan 12 banyak masyarakat, terutama saudara kita yang beragama Kristen, akan melakukan Natal. Jadi kebutuhannya meningkat, makanya kami lakukan operasi pasar sebelum HBKN,” jelasnya.
Marlina mengungkapkan bahwa berdasarkan pemantauan dan inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan bersama Satgas Pangan, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga. Bawang merah menjadi salah satu yang paling terasa kenaikannya.
“Kalau yang agak naik ini bawang merah sama cabai. Tapi untuk beras sudah turun,” katanya.
Untuk meredam lonjakan harga, pihaknya mendatangkan pasokan dari perusahaan daerah dari Pemprov Kaltim.
“Makanya kami membawa bawang dari provinsi, dari perusda di Samarinda. Kami ambil bawang putih dan bawang merah,” ujarnya.
Harga bawang merah yang biasanya berada di kisaran Rp 32 ribu per kilogram, saat ini di pasar telah mencapai Rp 40 ribu. Melalui operasi pasar, dinas menjualnya lebih murah.
“Kami jual Rp 38 ribu. Jadi bawang putih dan bawang merah semua,” tambah Marlina.
Sementara untuk cabai, pihaknya tidak mendatangkan pasokan dari luar daerah karena khawatir kualitasnya tidak segar jika dikirim dari Samarinda. Dinas hanya mendorong pedagang untuk berkoordinasi dengan petani lokal.
“Untuk cabai, kami tidak ambil dari Samarinda karena nanti tidak segar. Jadi kami minta pedagang koordinasi dengan petani lokal agar produksi bisa diserap,” terangnya.
Marlina juga menyebutkan bahwa harga beras saat ini menunjukkan tren penurunan. Dinas telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa beras lokal jenis SPHP kini banyak tersedia di berbagai titik penjualan.
“Kami sosialisasikan bahwa beras lokal kita, SPHP, banyak di beberapa toko, pedagang pasar, hingga distributor,” ucapnya.
Terkait kemungkinan digelarnya operasi pasar lanjutan pada bulan berikutnya, Marlina mengatakan pihaknya masih akan melihat perkembangan harga.
“Kalau bulan depan kita lihat kondisi. Kalau harga normal, mungkin tidak kita lakukan. Kecuali kalau ada kenaikan yang signifikan, baru kita lakukan lagi,” jelasnya. (*)
Editor : Duito Susanto