Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sorotan Konferensi GP Ansor Waru PPU, Menjaga Militansi dan Konsolidasi

Ari Arief • Selasa, 2 Desember 2025 | 19:18 WIB

Konferensi III Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Waru PPU,  2025.
Konferensi III Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Waru PPU, 2025.

KALTIMPOST.ID,PENAJAM-Organisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki kewajiban untuk melaksanakan pergantian kepemimpinan setiap lima tahun sekali melalui forum formal dan serius. Namun, Rois Suriyah PC NU Penajam Paser Utara (PPU), KH Rofiqul Ikhwan, menegaskan, suasana serius tersebut selalu mencair ketika sudah berada dalam bingkai NU.

Hal tersebut diutarakan KH Rofiqul Ikhwan dalam sambutannya pada Konferensi III Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Waru, PPU  2025. Acara yang mengambil tema “Merawat Militansi, Menjaga Konsolidasi, Membangun Peradaban” ini dilaksanakan di Balai Serba Guna Kelurahan Waru, akhir November 2025.

Perlunya Kesadaran dan Orientasi Baru

KH Rofiqul Ikhwan menekankan bahwa setiap pergantian kepengurusan harus diikuti dengan kesadaran, motivasi, dan orientasi baru. Ia berharap pengurus baru dapat segera memberikan perubahan atau "warna" bagi organisasi, setidaknya dalam kurun waktu delapan bulan pertama, dan mampu mempertahankannya hingga akhir masa jabatan.

Baca Juga: Transformasi NU Penajam, Diingatkan untuk Lebih Profesional

“Kita berharap anggota GP Ansor tidak hanya aktif tiga bulan saja seperti yang lalu, tetapi dapat terus aktif selama lima tahun,” ujarnya.

Menurutnya, memupuk militansi menjadi sangat krusial, terutama karena niat dalam konteks keagamaan adalah faktor penentu. Ia menjelaskan, niat dalam berorganisasi adalah cara untuk menjaga semangat dan militansi demi terus mengabdi pada visi dan misi organisasi.

Militansi Sebagai Konsekuensi Bai'at

KH Rofiqul Ikhwan menyebutkan bahwa terdapat dua unsur resmi dalam NU yang memiliki ikatan kuat dan tidak boleh ditafsirkan secara pribadi, yaitu Ansor, Banser, dan Kader Penggerak. Keterlibatan mereka di NU didasarkan pada bai’at atau janji suci. Khusus untuk Banser dan Kader Penggerak, proses keanggotaan diakhiri dengan pengucapan bai’at.

“Berdasarkan proses keterlibatan ini, militansi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban langsung sebagai konsekuensi logis dari bai’at,” tegasnya.

Baca Juga: Bupati PPU Apresiasi Kontribusi NU, Ingatkan Anggaran Sekretariat PCNU

Karena telah berjanji kepada para Muassis (pendiri) dan kepada Allah SWT, tindak lanjut dari janji ini harus diimplementasikan melalui aktivitas dan pengabdian yang penuh semangat dan militansi.

Rofiq meminta kepada ketua PAC Ansor yang terpilih agar menghubungi dan menawarkan kepada seluruh anggota Ansor untuk memilih lanjut menjadi anggota atau memilih mundur. Ini merupakan bentuk rahmat organisasi bagi anggota yang terikat bai’at.

“Jika ingin lanjut, minimal harus menunjukkan keaktifan, seperti hadir minimal empat kali dalam sepuluh kegiatan setahun. Kalau sudah tidak punya gairah, lebih baik menyatakan mundur secara tertulis. Dengan pernyataan mundur, mereka terbebas dari kewajiban dan tidak lagi dianggap melanggar bai’at,” tutupnya.

Tantangan Demisioner dan Visi Ketua Terpilih

Sementara itu, Sudono, ketua GP Ansor PAC Waru demisioner, mengakui bahwa masa kepemimpinannya diwarnai berbagai dinamika dan tantangan. Ia berharap ketua terpilih dapat membawa perubahan positif.

Baca Juga: Mudyat Noor: NU Harus Jadi Pilar Masyarakat, Bukan Hanya di Bidang Keagamaan

“Secara keanggotaan dan kegiatan, GP Ansor Kecamatan Waru banyak mengalami tantangan. Kegiatan banyak, namun keaktifan anggotanya mengalami penurunan, bahkan kemerosotan yang luar biasa,” ungkap Sudono.

Dari sekitar 200 anggota, tingkat keaktifan yang terdeteksi hanya sekitar 20 persen, berdasarkan daftar hadir di setiap kegiatan. Ia berharap konferensi ini dapat menghasilkan solusi untuk persoalan tersebut.

Di sisi lain, Ketua GP Ansor PAC Waru terpilih, Dody Irawan, menyatakan kesiapan dirinya untuk belajar menjadi figur pemimpin dan nakhoda. “Sebagai pemimpin Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Waru, saya berpesan kepada sahabat semua, jangan sekali-kali saya ditinggal sendirian,” pinta Dody.

Ia menegaskan bahwa seorang nakhoda tidak akan terlihat gagah tanpa penumpang. Ia pun meminta bimbingan, saran, dan kritik dari semua pihak, terutama Pimpinan Cabang GP Ansor, karena ia menyadari masih jauh dari kata sempurna.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#gp ansor #ppu #Waru #PAC