KALTIMPOST.ID, PENAJAM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) mengupayakan pengembangan destinasi wisata yang dinilai mampu menarik minat penduduk Ibu Kota Nusantara (IKN) di masa depan. Salah satu fokus utama saat ini adalah pengembangan Ekowisata Mangrove Penajam.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten PPU, Rusli, mengatakan keberadaan destinasi wisata yang variatif sangat penting, mengingat karakter calon penduduk IKN yang sebagian besar berasal dari Jakarta dan sekitarnya.
“Penduduk IKN itu kan rata-rata dari Jakarta dan sekitarnya. Biasanya mereka kalau berlibur ke Puncak atau ke tempat-tempat wisata seperti itu. Kalau di sini tidak ada tempat wisata yang menarik, mau apa?” ujar Rusli, Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, destinasi wisata yang ada saat ini masih terbatas dan berpotensi menimbulkan kejenuhan bagi wisatawan. Ia mencontohkan, jika hanya mengandalkan satu objek wisata, maka daya tarik daerah akan cepat menurun.
“Saya kira kalau Gua Tapak Raja saja, ya bosanlah mereka kalau melihatnya. Penduduk IKN masa depan itu ibaratnya orang gunung, maunya berwisata ke pantai. Sementara IKN kan tidak ada laut, jaraknya jauh,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, Disbudpar PPU berupaya mengembangkan destinasi wisata berbasis pesisir. Salah satu langkah yang tengah digenjot adalah rencana penambahan panjang titian atau jembatan di Ekowisata Mangrove Penajam.
“Kita gencar bagaimana menambah panjang titian atau jembatan Ekowisata Mangrove Penajam. Itu yang kita upayakan secepatnya,” katanya.
Rusli mengungkapkan, rencananya titian mangrove tersebut akan diperpanjang sekitar 300 meter menjorok ke arah laut. Namun, keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri dalam merealisasikan rencana tersebut.
“Dengan anggaran yang terbatas, kita coba berupaya. Masalah anggaran kita cari dari luar pendanaan, di luar APBD,” ujarnya.
Saat ini, pengembangan tersebut masih dalam tahap kajian. Disbudpar PPU juga berencana memanfaatkan tenaga ahli untuk menyusun desain yang sesuai dengan kondisi perairan setempat.
“Nanti kita mau coba manfaatkan tenaga ahli untuk menyusun desain yang sekiranya cocok dengan situasi laut kita. Masih dalam bentuk kajian,” pungkas Rusli. (*)
Editor : Duito Susanto