KALTIMPOST.ID,PENAJAM-Kualitas layanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Aji Putri Botung (RAPB) Penajam Paser Utara (PPU), akhirnya memicu reaksi dari elemen masyarakat. LSM Gunakan Tenagamu untuk Rakyat (Guntur) PPU melakukan audiensi dengan manajemen rumah sakit untuk mengklarifikasi berbagai keluhan warga yang merasa pelayanan medis di wilayah tersebut belum optimal.
Dalam pertemuan Jumat (6/2), LSM Guntur menyoroti kontradiksi antara besarnya alokasi anggaran daerah dengan realitas pelayanan di lapangan yang dinilai lamban.
Manajemen RSUD memberikan penjelasan mengejutkan terkait kondisi dapur operasional mereka. Direktur RSUD RAPB PPU, dr. Lukasiwan Eddy Saputro, M.M., mengungkapkan bahwa meskipun pihaknya telah menerima dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sebesar Rp 50 miliar, angka tersebut nyatanya masih jauh dari kata cukup.
Baca Juga: Jelang Ramadan, Polres PPU Perketat Pengawasan Angkutan Umum Melalui Ramp Check
Bahkan, saat ini RSUD masih harus menanggung beban finansial yang cukup berat. "Dana tersebut belum mampu menutup semua kebutuhan. Hingga detik ini, RSUD masih memiliki utang sebesar Rp 15 miliar, yang mencakup tunggakan honor tenaga kesehatan hingga biaya pengadaan obat-obatan," jelas dr. Lukasiwan.
Dilema Tenaga Medis dan Pasien Membludak
Selain krisis finansial, rumah sakit daerah ini juga menghadapi tantangan sumber daya manusia. Saat ini, RSUD membutuhkan setidaknya 50 tenaga kesehatan tambahan untuk mencapai standar layanan ideal. Namun, rencana rekrutmen tersebut terganjal oleh keterbatasan anggaran.
Faktor lain yang dikeluhkan masyarakat, seperti seringnya pasien dirujuk ke Balikpapan, ternyata disebabkan oleh keterbatasan kapasitas ruang rawat inap. Dengan jumlah pasien yang terus meningkat, manajemen RSUD terpaksa mengambil langkah rujukan karena fasilitas di PPU tidak lagi mampu menampung beban tersebut.
Fungsi Check and Balance LSM Guntur
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Kalimantan Timur 7 Februari 2026, Waspada Hujan Petir di Wilayah IKN
Menanggapi transparansi dari pihak RSUD, LSM Guntur menyatakan bahwa audiensi ini merupakan langkah awal untuk menjembatani komunikasi antara masyarakat, pihak rumah sakit, dan pemerintah daerah.
Ketua LSM Guntur, Kasim Assegaf, bersama pengurus inti lainnya, Jafar dan Bahrani, menegaskan posisi mereka sebagai mitra kritis pemerintah.
Kepada media ini Sabtu (7/2), Kasim Assegaf mengungkapkan, audiensi bertujuan mendengar langsung kendala di lapangan agar tidak terjadi misinformasi di tengah masyarakat. Setelah mengetahui persoalannya, kata dia, LSM Guntur siap menjadi penyambung lidah kepada Bupati PPU, Mudyat Noor, agar masalah kesehatan mendapatkan prioritas anggaran yang lebih serius.
"Kami sekarang memahami akar masalah yang dihadapi RSUD. Fokus kami ke depan adalah berkoordinasi dengan seluruh stakeholder terkait agar kesehatan masyarakat PPU tidak lagi terabaikan," kata Kasim Assegaf.(*)
Editor : Thomas Priyandoko