KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Penajam Paser Utara (PPU) tengah mengevaluasi distribusi posko pemadam kebakaran.
Langkah ini dilakukan untuk mengejar target waktu tanggap (response time) maksimal 15 menit sejak laporan kebakaran diterima.
Saat ini, jumlah posko yang tersedia masih jauh dari ideal. Dari kebutuhan 18 posko, baru delapan yang beroperasi di wilayah PPU.
Sekretaris DPKP PPU, Kahar Mashud, mewakili Kepala DPKP PPU Fernando S, menjelaskan bahwa delapan posko tersebut tersebar di sejumlah titik strategis.
Baca Juga: Kartu Penajam Cerdas 2026 Tetap Jalan, Ini Fokus Baru Pemkab PPU
Di antaranya posko induk di samping Kantor Bupati, Waru (samping kantor lurah), dekat Kantor Kecamatan Waru, Babulu (kantor kecamatan), Sotek (dekat kantor lurah), Jenebora (dekat pasar), Maridan, serta Sepaku.
“Seluruh posko tersebut masih menumpang dan belum memiliki fasilitas yang representatif,” ujar Kahar, Sabtu (2/5/2026).
Kahar mengungkapkan, kebutuhan penambahan posko cukup mendesak. Namun, kendala utama tidak hanya terletak pada anggaran, melainkan juga keterbatasan sumber daya manusia (SDM).
“Kami masih kekurangan personel. Anggaran memang berpengaruh, tetapi SDM sangat krusial untuk mengisi posko-posko baru,” jelasnya.
Dalam rencana pengembangan, setiap posko ditargetkan memiliki radius pelayanan sekitar tujuh kilometer. Jarak tersebut dinilai ideal untuk memastikan petugas bisa tiba di lokasi kebakaran dalam waktu kurang dari tujuh menit.
Hal ini penting untuk menekan risiko korban jiwa dan kerugian materiil.
“Kami dikejar waktu. Kehilangan lima menit saja bisa menambah jumlah korban. Sesuai kebijakan, maksimal 15 menit setelah laporan, petugas harus sudah tiba di lokasi,” tegasnya.
Baca Juga: Dari Pedalaman Kubar, Tyta Nesse Juara 1 Lomba Jurnalistik Kodam Mulawarman
Evaluasi penambahan 10 posko baru akan difokuskan pada titik-titik krusial yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Prioritas diberikan pada wilayah sepanjang jalan protokol atau jalan besar provinsi guna mempercepat mobilisasi armada.
Beberapa wilayah yang menjadi prioritas antara lain Penajam, Nenang, hingga kawasan pesisir, termasuk akses sumber air untuk mendukung operasi pemadaman. (*)
Editor : Ery Supriyadi