KALTIMPOST.ID PENAJAM – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tengah menseriusi rencana pengembangan dermaga baru di wilayah Penajam Paser Utara (PPU).
Kawasan yang terletak di antara Kelurahan Nenang dan Nipah-Nipah tersebut diproyeksikan menjadi pelabuhan logistik terintegrasi yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan daerah.
Rencana strategis itu mengemuka dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027 tingkat provinsi, serta diperkuat penyampaian Bupati PPU, Mudyat Noor.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) PPU Agus Dahlan menyatakan dukungan penuh terhadap usulan gubernur Kaltim dan bupati PPU tersebut. Menurutnya, pelabuhan itu didesain tidak hanya untuk aktivitas bongkar muat, tetapi juga sebagai fasilitas multi-fungsi yang mencakup sektor logistik hingga pariwisata.
"Ke depannya, dermaga ini diproyeksikan melayani berbagai aktivitas, mulai dari tempat sandar kapal untuk pengisian air bersih, bahan bakar minyak (BBM), hingga berfungsi sebagai pelabuhan umum," ujar Agus Dahlan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (12/5).
Baca Juga: Pedro Acosta Tersinggung Usai Disalip Diggia, Balas Dendam di Catalunya?
Menyikapi rencana besar tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU menyatakan kesiapan melakukan pendampingan dan koordinasi intensif dengan Pemerintah Provinsi. Fokus utama saat ini adalah penetapan lokasi (Penlok) serta pelaksanaan survei kelayakan untuk memastikan titik koordinat pembangunan yang paling efektif.
Agus menyebutkan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Dishub Provinsi mengenai konsep yang diinginkan Gubernur Kaltim, Rudi Mas'ud. Langkah awal meliputi penentuan lokasi dan survei untuk melihat potensi jangka panjang.
Terkait kondisi geografis perairan di wilayah Pantai Nenang yang cenderung dangkal dengan kedalaman rata-rata sekitar 7 meter, Agus menjelaskan bahwa konsep jembatan panjang akan menjadi solusi. Konsep itu serupa dengan model pelabuhan yang ada di Tarakan.
"Diperkirakan diperlukan jembatan sepanjang 500 hingga 650 meter dari bibir pantai untuk mencapai area palung atau titik terdalam. Bapak Gubernur yang memiliki latar belakang pengusaha kapal tentu memahami teknis ini. Kita perlu mencari area terdalam agar kapal bisa bersandar dengan aman," tambahnya.
Baca Juga: Jalur Vital di Kutai Barat Mulai Dicor Beton, Drainase Jadi Prioritas
Sebelumnya, Bupati PPU Mudyat Noor menegaskan bahwa proyek itu bukan sekadar pemindahan pelabuhan, melainkan visi bisnis strategis untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berdasarkan diskusi dengan gubernur Kaltim, kehadiran pelabuhan baru ini diproyeksikan mampu menghasilkan pendapatan hingga US$ 10 juta per tahun melalui pembagian porsi antara pemerintah kabupaten dan provinsi.
Mudyat menjelaskan, pemilihan lokasi di Nenang dan Nipah-Nipah didasari atas evaluasi titik pelabuhan yang sudah ada. Keunggulan strategis lokasi ini adalah posisinya di muara Teluk Balikpapan yang dapat menjadi service station bagi ratusan kapal tugboat dan tongkang.
"Kapal-kapal tersebut dapat bersandar untuk memenuhi kebutuhan pangan, air bersih, dan logistik lainnya saat menunggu antrean sandar," jelas Mudyat.
Baca Juga: 13 Kiai Tertipu Program MBG, Sudah Habis Jual Mobil dan Aset Pesantren untuk Bangun Dapur
Selain fungsi logistik, sepanjang jalur Coastal Road di area tersebut akan dikembangkan menjadi titik wisata dan pusat usaha baru. Dalam implementasinya, Pemprov Kaltim akan bertanggung jawab atas pembangunan fisik pelabuhan di area laut, sementara Pemkab PPU berkewajiban menyiapkan lahan di darat.
"Pemerintah daerah bertugas menyelesaikan akses jalan melalui jalur Coastal Road sepanjang kurang lebih 2 kilometer yang saat ini pengerjaannya belum tuntas," tutupnya. (*)