KALTIMPOST.ID,PENAJAM-Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) di tanah Paser membawa gelombang perubahan besar. Di tengah deru pembangunan infrastruktur modern, ada sosok pemuda yang memilih jalan sunyi namun krusial: menjaga sisa-sisa paru-paru hijau Penajam Paser Utara (PPU) sekaligus memastikan masyarakat lokal tidak sekadar menjadi penonton di rumah sendiri.
Ia adalah Agus Setiawan, S.Hut. Pemuda kelahiran Buluminung, 15 Agustus 1996 ini adalah potret nyata putra daerah yang menolak melupakan akar rumputnya. Buluminung, tempat ia lahir, adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Penajam, PPU.
Usai menyandang gelar Sarjana Kehutanan dari Universitas Mulawarman (Unmul) pada 2020, Agus tak silap mata dengan gemerlap kota besar. Di saat banyak lulusan muda memburu karier di korporasi raksasa, langkah kaki Agus justru mantap berbalik arah, pulang ke kampung halaman.
"Saya melihat ada potensi daerah yang luar biasa, namun belum banyak tersentuh. Kehutanan sosial adalah pintu masuknya," kenang Agus, Rabu (27/5).
Baca Juga: Harga Cabai Merah Keriting di PPU Melonjak Tajam, Komoditas Lain Relatif Stabil, Apa Saja?
Jalan yang ditempuhnya tidaklah mulus. Memulai program Kelompok Tani Hutan (KTH) di PPU, khususnya di wilayah Sotek, Kecamatan Penajam, PPU, ia harus berhadapan dengan keterbatasan sarana, modal, hingga skeptisisme awal dari masyarakat.
Namun, ketekunan khas seorang rimbawan perlahan meruntuhkan dinding keraguan itu. Agus kini tegak berdiri sebagai pendamping lapangan yang tepercaya, sebuah predikat "Pejuang Lingkungan" yang lahir dari keringat dan pembuktian.
Buah manis dari konsistensinya kini mulai terlihat. Bersama kelompok binaan Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Paser Sejahtera, Agus berhasil menakhodai pengurusan izin pengelolaan Perhutanan Sosial dengan luasan yang fantastis: 1.605 hektare. Menariknya, ini adalah satu-satunya izin perhutanan sosial yang eksis di wilayah PPU saat ini.
Baca Juga: Kasus Gratifikasi Mantan Bupati Kukar Rita Widyasari, KPK Periksa Pejabat Kemenkeu
Di dalam bentangan hijau itulah, Agus menukangi asa baru. Melalui KTH Paser Bekerei, ia mengarahkan warga untuk tidak lagi bergantung pada pembalakan kayu, melainkan beralih memaksimalkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Tangan dinginnya berhasil menyulap komoditas lokal seperti madu kelulut, arang, hingga kerajinan rotan menjadi pundi-pundi ekonomi yang menjanjikan bagi kas desa.
Kini, wilayah binaan Agus mulai bertransformasi menjadi episentrum kemandirian ekonomi tingkat desa. Berbekal legalitas perhutanan sosial yang solid, pemuda berusia 29 tahun ini aktif membuka keran kolaborasi dengan para investor, baik di sektor jasa ekowisata maupun hilirisasi produk HHBK.
Bagi Agus, masifnya pembangunan IKN bukanlah ancaman, melainkan panggung pembuktian. Ia bertekad membawa produk-produk lokal hasil keringat petani Sotek mampu bersaing ketat, tak hanya di etalase nasional, tapi juga menembus pasar internasional.
Baca Juga: Reformasi Telah Mati
Kendati visi bisnisnya membubung tinggi, filosofi dasar Agus sebagai seorang rimbawan tetap membumi. Baginya, kelestarian ekologi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh angka-angka investasi.
"Menjaga hutan tersisa. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Ayo jaga hutan!" tegasnya melempar pesan mendalam kepada generasi muda Benuo Taka, PPU.
Melalui dedikasi, keringat, dan kecintaannya pada alam, Agus Setiawan telah memberi contoh nyata. Bahwa membangun PPU tidak selalu harus dengan beton dan aspal, tetapi dengan menjaga keharmonisan antara rimba yang lestari dan masyarakat yang sejahtera.(*)
Editor : Thomas Priyandoko