Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Harga TBS Anjlok di Tengah Melambungnya Harga Pupuk, Pendapatan Petani Goyang

Ahmad Maki • Kamis, 28 Mei 2026 | 14:09 WIB
CARI SOLUSI: Bupati PPU Mudyat Noor menjawab aspirasi masyarakat Waru terkait TBS sawit dalam kegiatan Safari Jumat yang digelar di Masjid Darul Aman, Kecamatan Waru, Jumat (22/5) lalu.
CARI SOLUSI: Bupati PPU Mudyat Noor menjawab aspirasi masyarakat Waru terkait TBS sawit dalam kegiatan Safari Jumat yang digelar di Masjid Darul Aman, Kecamatan Waru, Jumat (22/5) lalu.

KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Petani kelapa sawit di Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), tengah menghadapi situasi ekonomi yang sulit. Keluhan mengenai ketidakpastian harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang merosot tajam mulai mencuat pasca-pidato kenegaraan Presiden RI beberapa waktu lalu.

Lantaran merosotnya harga Tandan Buah Segar (TBS) dipicu kepanikan pasar akibat rencana pemerintah mewajibkan ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Hal itu juga di benarkan Camat Waru, Ahmad Yani, dalam aspirasi yang disampaikan masyarakat Kecamatan Waru kepada Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Mudyat Noor, dalam kegiatan Safari Jumat yang digelar di Masjid Darul Aman, Kecamatan Waru, Jumat (22/5) lalu.

Baca Juga: 5 Tips Rahasia Olah Sate Kambing Bebas Bau Prengus, Juicy, dan Empuk

Dalam sesi dialog, masyarakat menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Salah satunya terkait turunnya harga tandan buah segar (TBS) sawit yang saat ini disebut hingga mengalami penurunan sebesar Rp 800 per kilogram.

Menurutnya, penurunan harga beli TBS yang terjadi secara tiba-tiba telah memberikan dampak langsung terhadap pendapatan para petani sawit di wilayahnya.

"Keluhan ini baru saja muncul, terutama dirasakan petani sawit saat ini. Mereka merasa harga TBS turun secara tiba-tiba, dan kondisi ini tentu sangat berdampak pada ekonomi petani itu sendiri," ujar Ahmad Yani saat dikonfirmasi, Rabu (27/5).

Baca Juga: Berbagi Daging Kurban di RT 32 Manggar: 1 Kg Per Kepala, Semua Kebagian  

Ahmad Yani menjelaskan bahwa persoalan tidak hanya terletak pada harga jual TBS yang tidak stabil, namun juga diperparah tingginya biaya produksi, terutama harga pupuk yang terus meroket.

Para petani berada dalam posisi terjepit lantaran harga jual produk yang rendah tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.

"Persoalan pupuk menjadi faktor utama. Pupuk subsidi saat ini cukup sulit didapatkan, sementara harga pupuk nonsubsidi di toko-toko pertanian mengalami kenaikan yang cukup signifikan," tambahnya.

Meski hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait adanya dugaan praktik permainan harga oleh oknum pengepul atau tengkulak, namun kondisi di lapangan menunjukkan bahwa para petani sangat mengharapkan intervensi dari pemerintah daerah.

Dia berharap pemerintah dapat hadir untuk menstabilkan harga TBS guna menjamin kesejahteraan petani.

Peran aktif pemerintah sangat dinantikan agar para petani sawit tidak terus tertekan di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian ini.

"Harapan kami, peran serta pemerintah dalam menstabilkan harga TBS bisa terakomodir dengan baik. Ini sangat krusial bagi kesejahteraan petani sawit kita agar mereka tetap mampu bertahan di tengah biaya produksi yang tinggi," tutupnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
#tidak pasti #TBS Kelapa Sawit #anjlok #penajam