KALTIMPOST.ID,PENAJAM-Gelombang pasang pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU) tidak lagi menjanjikan rezeki yang pasti bagi para kreator konten digital. Setelah empat tahun setia mendokumentasikan wajah baru ibu kota, Dian Rana, salah satu kreator konten sekaligus dokumentator independen IKN yang cukup dikenal, secara resmi memutuskan gantung kamera.
Demi menyambung hidup keluarganya, Dian kini memilih beralih profesi menjadi pengemudi ojek online (ojol) di Kota Balikpapan.
Baca Juga: Buntut Kasus Korupsi BGN, BEM Unair Galang Petisi Stop Program Makan Bergizi Gratis
Kabar terbaru menyebutkan, Dian saat ini telah resmi mendaftarkan diri di salah satu platform transportasi online dan tengah bersiap untuk mengaspal di jalanan Kota Minyak dalam waktu dekat.
"Rencananya pertengahan bulan ini (Juni 2026) mulai menarik ojek. Sekarang masih menunggu proses aktivasi akun dan atributnya datang," ungkap Dian, Selasa (9/6).
Keputusan besar ini diambil Dian setelah melalui pertimbangan matang sejak akhir 2025. Ia mengaku, pendapatan dari dunia digital yang bersumber dari kanal YouTube-nya terus merosot tajam dan tidak lagi mampu menutupi biaya hidup istri serta kedua anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Baca Juga: Sengkarut Akses Draf APBD 2024, LAKI Layangkan Somasi Terakhir ke BKAD PPU
Faktor utama anjloknya pendapatan ini adalah makin terbukanya akses publik ke kawasan IKN, yang memicu menjamurnya kreator konten serupa sehingga persaingan menjadi sangat ketat.
Kontras Pendapatan: Belasan Juta ke Bawah UMK
Dian menceritakan, masa keemasan sebagai dokumentator IKN dirasakannya sepanjang 2023 hingga 2024. Saat itu, ia mampu mengantongi pendapatan bersih hingga dua digit dari internet.
"Waktu tahun 2023–2024 itu masih bisa dapat Rp 5 sampai Rp 10 jutaan per bulan dari penghasilan internet. Ditambah kalau ada panggilan jadi narasumber atau mengisi kegiatan, itu sangat membantu tabungan," kenangnya.
Baca Juga: Targetkan Lebih dari 16 Besar, Wataru Endo Siap Bawa Jepang Ukir Sejarah Baru di Piala Dunia 2026
Namun, roda berputar. Memasuki akhir tahun lalu hingga pertengahan 2026 ini, sorotan publik terhadap IKN mulai jenuh dan jumlah penonton videonya merosot drastis. Akibatnya, ia terpaksa menguras tabungan lamanya untuk bertahan hidup.
"Kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk bertahan. Untuk dapat Rp 5 juta saja sekarang berat sekali. Bahkan beberapa bulan ke belakang, penghasilan dari konten tidak sampai Rp 3 juta sebulan. Padahal saya di sini mengontrak rumah, kalau dipaksakan tidak akan kebayar," keluh Dian.
Mengadu Nasib di Kota Minyak
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Dimulai, Dianggap "Komplotan Elite Terkorup", FIFA Dikepung Kritik Bipartisan di AS
Menghadapi realitas ekonomi yang pelik, Dian sempat berdiskusi dengan sang istri untuk memboyong keluarganya pindah ke Kabupaten Paser, sebelum akhirnya memutuskan mencoba peruntungan baru di Balikpapan.
Bagi Dian, menjadi pengemudi ojol di Balikpapan menawarkan kepastian pendapatan harian yang lebih realistis dibandingkan dengan skema algoritma digital yang tidak menentu. Meski fokus utamanya kini berubah untuk mencari nafkah di jalanan, ia mengaku tidak akan sepenuhnya meninggalkan dunia kreatif.
"Kalau di Balikpapan, saya pikir pasar ojol masih sangat potensial. Setidaknya ada harapan penghasilan yang lebih pasti setiap hari. Saya ingin mencoba sesuatu yang baru demi keluarga, sambil nanti pelan-pelan mencoba membuat konten lagi dengan suasana baru," ujarnya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko