PENAJAM– Tren kenaikan harga komoditas di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada periode Juni 2026 juga merambah ke sektor perumahan dan transportasi. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten PPU mencatat kedua kelompok pengeluaran ini turut memberikan andil terhadap inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y).
Kepala BPS PPU, Suko Haryono, menjelaskan bahwa kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga mengalami inflasi y-on-y sebesar 1,30 persen. Lonjakan ini mengerek Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,84 pada Juni 2025 menjadi 107,22 pada Juni 2026.
Dari empat subkelompok yang ada di sektor perumahan ini, tiga di antaranya tercatat mengalami inflasi. "Subkelompok yang mengalami inflasi y-on-y tertinggi adalah pemeliharaan, perbaikan, dan keamanan tempat tinggal atau perumahan sebesar 3,54 persen. Diikuti subkelompok listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,14 persen, serta subkelompok sewa dan kontrak rumah sebesar 0,21 persen," kata Suko, Rabu (8/7/2026).
Sementara itu, untuk subkelompok penyediaan air dan layanan perumahan lainnya terpantau stabil atau tidak mengalami perubahan indeks. Secara keseluruhan, kelompok perumahan ini memberikan andil atau sumbangan terhadap inflasi tahunan kabupaten sebesar 0,20 persen.
Ia merincikan beberapa komoditas yang menjadi pemicu utama inflasi tahunan di sektor ini. Antara lain Bahan bakar rumah tangga: andil 0,10 persen; Kayu balokan: andil 0,03 persen; Tukang bukan mandor: andil 0,03 persen; Pasir: andil 0,02 persen; Cat tembok: andil 0,01 persen; serta Kontrak rumah: andil 0,01 persen. Di sisi lain, kelompok perumahan ini tidak memberikan andil yang signifikan terhadap deflasi tahunan.
“Namun, untuk inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m), kelompok ini menyumbang andil sebesar 0,08 persen, yang didominasi oleh komoditas bahan bakar rumah tangga sebesar 0,08 persen,” jelasnya.
Selain perumahan, lanjutnya, kelompok Transportasi di PPU juga mengalami inflasi y-on-y yang cukup tinggi, yakni sebesar 3,60 persen. Kenaikan ini menyebabkan indeks kelompok transportasi melesat dari 113,95 pada Juni 2025 menjadi 118,05 pada Juni 2026.
Suko memaparkan bahwa dua dari empat subkelompok transportasi menjadi motor penggerak inflasi. Subkelompok pengoperasian peralatan transportasi pribadi melonjak hingga 5,29 persen, disusul oleh subkelompok pembelian kendaraan sebesar 0,49 persen. Adapun subkelompok jasa angkutan penumpang dan jasa pengiriman barang tidak mengalami perubahan indeks.
"Kelompok transportasi memberikan andil terhadap inflasi tahunan kabupaten sebesar 0,31 persen. Komoditas bensin menjadi pemicu paling dominan dengan andil sebesar 0,21 persen," rincinya.
Komoditas lain di sektor transportasi yang turut menyumbang inflasi tahunan meliputi solar sebesar 0,08 persen, serta pelumas atau oli mesin dan sepeda motor yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen. Kelompok ini juga tercatat tidak memberikan dampak signifikan terhadap deflasi tahunan kabupaten.
Sementara itu, untuk tingkat inflasi bulanan (m-to-m) pada Juni 2026, kelompok transportasi memberikan andil sebesar 0,21 persen. Komoditas yang dominan memicu inflasi bulanan adalah bensin dengan andil 0,23 persen. “Sebaliknya, komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi bulanan adalah solar sebesar 0,02 persen,” ucapnya. (*)
Editor : Ismet Rifani