Perumda Danum Taka Peringatkan Krisis Air Baku di PPU Baru Awal, Warga Diminta Tetap Waspada

Ahmad Maki • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 10:13 WIB
Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid. (AHMAD MAKI/KALTIM POST)
Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid. (AHMAD MAKI/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dalam beberapa hari terakhir membawa kabar baik bagi ketersediaan air baku. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menghapus ancaman krisis air bersih akibat musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.

Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid, mengatakan curah hujan yang turun berhasil meningkatkan tinggi muka air baku sekitar 20 sentimeter. Kenaikan itu cukup signifikan setelah sebelumnya debit air terus menyusut akibat tiga pekan tanpa hujan.

"Alhamdulillah, sampai hari ini ada kenaikan sekitar 20 sentimeter. Selama tiga minggu tidak hujan, tinggi muka air yang semula 220 sentimeter sempat turun menjadi 135 hingga 140 sentimeter. Hasil pengukuran terakhir sudah naik lagi di kisaran 160 sampai 165 sentimeter," ujarnya, Jumat (24/7).

Baca Juga: Interkoneksi Pipa Void Indominco Dimulai, Distribusi Air di Bontang Terganggu Dua Hari

Menurut Abdul Rasyid, tambahan debit tersebut mampu memperpanjang ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat. Selain meningkatkan volume air di Sungai Lawe-Lawe, embung yang sebelumnya sempat kosong kini kembali terisi.

"Penambahan 20 sentimeter ini sangat berarti. Setidaknya dapat menunda kekeringan sekitar satu minggu. Embung yang sebelumnya kosong karena dialirkan kini sudah terisi kembali," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Niño masih berada pada tahap awal. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga November mendatang.

"Artinya, ini baru permulaan. Kemarau selama tiga minggu saja sudah membuat kita kewalahan. Bagaimana jika berlangsung hingga empat bulan? Hujan yang turun sekarang hanya menunda dampak kekeringan," tegasnya.

Ia juga menjelaskan, efektivitas hujan dalam menambah cadangan air baku dipengaruhi waktu turunnya hujan. Hujan pada malam hingga dini hari dinilai lebih efektif karena air lebih banyak terserap ke dalam tanah dan tidak cepat menguap akibat panas matahari.

Karena itu, Abdul Rasyid mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten PPU yang telah menggelar rapat koordinasi mitigasi risiko kekeringan. Upaya tersebut dinilai sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam mengantisipasi bencana hidrometeorologi.

Baca Juga: Perpres Tetapkan LGBTQ Ancaman Nonmiliter, Pemkot Balikpapan Siapkan Antisipasi

"Langkah pemerintah daerah sudah tepat. Kita harus bersiap sejak dini menghadapi puncak El Niño agar dampaknya terhadap ketersediaan air bersih bisa diminimalkan," pungkasnya. (*)

Editor : Ery Supriyadi
Perumda Danum Taka Krisis air baku PPU Kemarau PPU Sungai Lawe-Lawe